Wednesday, January 8, 2025

Review Hotel Monday Asakusabashi

 


Sebelum kami pergi ke Jepang, kami sering mendengar kalau mencari hotel atau penginapan di Jepang kabarnya lumayan susah. Yah, walau tidak sesusah di Hong Kong, tetapi harganya pun lumayan. Mau Airbnb pun tidak semudah saat mencari Airbnb di Malaysia ataupun Hong Kong. Harus ada licence number yang diakui pemerintah.

Mesin check in dan check out otomatis.

Oleh karena itu, saat kami pergi, kami lumayan deg-degan. Maklum, kami pergi bertujuh, dan umur si kakak sudah bukan terkategori umur anak-anak. Maka kami mencoba mencari penginapan yang bisa mengakomodir kami semua.

Lobby Hotel Monday Asakusabashi.... Very Aesthetic

Dulu, sebelum pandemi, saya sempat melakukan observasi hotel-hotel. Saya me-list down apa saja yang harus ada di hotel tersebut. Tentunya akan berbeda dengan setelah pandemi. Dan setelah meneliti dan mengamati, kami pun menjatuhkan pilihan kami pada hotel yang tidak ada di list tersebut. Hotel yang kami pilih adalah hotel yang ada setelah pandemi, yaitu Hotel Monday Asakusabashi. 

Kamar oma dan opa. Di ujung terdapat sofa panjang yang dapat dijadikan sofa bed.

Hotel Monday merupakan chain hotel yang ada di tiga kota besar, yaitu Tokyo, Kyoto, Osaka. Hotel Monday menawarkan tiga brand yang dapat dipilih berdasarkan tujuan dan lama tinggal. Ada hotel bintang tiga, ada premium hotel, dan ada apartemen. Brand yang kami pilih adalah hotel bintang tiga.

Tourism corner di dalam kamar.

Hotel Monday Asakusabashi memenuhi persyaratan akan hotel yang ingin kami tempati. Yang pertama, tidak jauh dari stasiun. Kalau mencari hotel yang betul-betul di pusat kota, pasti harganya mahal. Jadi untuk menyiasatinya, pilih saja hotel yang dekat dengan stasiun. Jadi kemana-mana lebih gampang.

Amenities corner di dalam kamar. Yang paling atas adalah piyama.

Hotel Monday Asakusabashi sangat dekat dari stasiun Asakusabashi. Dan memang ini sangat membantu saat kami di sana. Apalagi ada waktu-waktu kami harus mengantar oma dan opa kembali ke hotel untuk istirahat. 

Sabun cuci tangannya wanginya segar.

Yang kedua, hotel mempunyai coin laundry. Bagi kami yang perginya ramai-ramai dan lama, adanya mesin cuci sangat membantu kami. Baju yang kami bawa tidak usah banyak-banyak. Dan karena musim hujan, dryer menjadi penolong yang membuat baju cepat kering. 

Sabun, Shampoo, dan Conditioner.

Yang ketiga, toiletnya toilet duduk yang ada pencet-pencetan. Memang sih, penting gak penting, tetapi buat anak-anak, ini menjadi hal yang menarik. Berhubung, sudah sampai di sana, ya kenapa tidak sekalian dicari yang ada pencetan (kalau perlu ada musiknya) =D

Shower room yang aman untuk oma opa.

Uniknya di Jepang, hotel ini menyediakan beberapa amenities di lobby. Kita bisa mengambil sesuai yang kita butuhkan. Beraneka macam teh pun ada. Tetapi mereka tidak menyediakan kopi. Jadi untuk coffee lover seperti saya, lebih baik bawa kopi dari sini atau beli kopi instan di sana.

Di Jepang, hampir tiap hotel menyediakan piyama. Tentunya ini membantu untuk mengurangi bawaan kita. Termasuk juga di hotel ini. Tetapi piyama ukuran anak belum tentu ada.

Berdasarkan pengalaman kami, menginap di sini sangat menyenangkan. Dengan harga yang terjangkau, fasilitas yang didapatkan pun melebihi harga yang dibayarkan. Apalagi kalau book hotelnya jauh-jauh hari dan dapat cashback pula 😊

PS: artikel lengkap kami selama di Jepang dapat dilihat di link ini ya.

Sekilas Info

Hotel Monday Asakusabashi

Website: https://hotel-monday.com/asakusabashi/?wovn=en

Alamat: Jepang, 〒111-0053 Tokyo, Taito City, Asakusabashi, 2 Chome−29−12 (google map)






Friday, January 3, 2025

Jepang Day 10: Iconic Places in Osaka

Tidak terasa liburan musim gugur kami sudah masuk di hari terakhir. Karena kami akan terbang dengan pesawat malam, maka kami masih punya kesempatan untuk jalan-jalan berkeliling. Apalagi kami bisa menitipkan koper di hotel dan mengambilnya sore nanti. 

Dengan udara yang semakin turun suhunya, nampaknya musim dingin akan segera datang. Hal ini membuat oma dan opa mager alias tidak mau kemana-mana. Mereka memilih duduk manis di Saizeriya dan menikmati segala macam makanan di sana. Karena kami masih ingin berjalan-jalan dan makan sushi, maka opsi ini sepertinya opsi yang baik.

Rute kami hari ini adalah mengunjungi tempat-tempat iconic di Osaka. Icon pertama adalah Dotonbori. Ya, kami kembali menyusuri Dotonbori. Alasan pertama adalah mencari obat batuk anak titipan sahabat kami. Alasan kedua adalah mereka ingin makan sushi di dekat Jembatan Ebisu. Alasan yang ketiga adalah papa yang masih belum puas dengan hasil foto di Glico =D

It's a bright sunny day...
Big screen di Dotonbori. Saat pagi jadi kamera, siangan sedikit jadi screen untuk iklan.

Ternyata pagi hari di Dotonbori terasa lebih sepi. Hanya beberapa toko yang mulai buka. Memang di sini toko-toko baru mulai buka pukul 11. Cukup siang jika dibandingkan dengan Jakarta yang sudah aktif dari jam delapan pagi. 

Cinnamorol Cafe masih tutup.

Tanpa lampu pun tetap keren.

Kami pun masuk ke salah satu toko obat yang berada dekat jembatan Ebisu. Toko obat ini tidak hanya menjual obat. Ada makanan dan juga pernak-pernik. Karena ini, maka urusan melihat obat pun menjadi bertambah melihat kitkat (yang ternyata murah-murah) dan melihat pernak-pernik (dengan keseruan yang luar biasa). 

Toko obat tetapi ada pernak-pernik.

Setelah membeli titipan, dan beberapa kitkat, rencana kami adalah early lunch di lantai lima gedung Croesus. Makanan yang diincar adalah sushi. Percaya tidak percaya, selama kami di Jepang ini, karena oma hanya bisa makan sushi matang, jadi kami belum pernah makan sushi. Namanya juga sushi di negara aslinya, mana mungkin matang seperti di Indonesia.

Incaran kami adalah Kappa Sushi 110 Yen. Uniknya Kappa Sushi adalah sushi dan makanan yang dipesan akan dikirim melalui conveyor belt. Anak-anak bergantian menunggu kapan makanan dikirim. 

The Lynns yang sibuk

Kenyang setelah makan, kami pun melanjutkan perjalanan. Tujuan berikutnya adalah melihat Osaka Castle. Ke Osaka memang tidak lengkap jika tidak menyambangi castle yang satu ini. 

Jalanan menuju castle.
Osaka Castle

Castle yang dibangun oleh Napoleon dari Jepang, Hideyoshi Toyotomi di tahun 1853 ini merupakan saksi sejarah perkembangan kota Osaka dan pergolakannya. Osaka Castle sendiri pernah beberapa kali dibakar, tetapi akhirnya dibangun kembali. 

Supaya musuh tidak mudah masuk, castle dikelilingi oleh air (analisa anak-anak).
Foto wajib pertama.

Yang menarik adalah castle ini berdiri di tengah-tengah kota. Perpaduan yang unik antara masa lalu dan masa kini. Ditambah lagi tamannya yang luas, membuat kami menikmati berkeliling castle ini dan melihat pemandangan musim gugur di sini.

Perpaduan antara masa lalu dan masa kini.
Foto wajib walau silau.

Untuk masuk ke dalam Osaka Castle, pengunjung diminta membayar 600 yen, atau sekitar 60 hingga 70 ribu rupiah. Karena waktu yang tidak banyak, kami memutuskan untuk tidak masuk.

Huge Stone.
Shudokan di dalam taman.

Kuil Hokoku.
Fortune Slip for 2000 Yen.
Autumn color.

Kami berkeliling di taman. Suasana musim gugur, dengan warna daun yang berubah membuat jalan keliling taman saja sudah membuat hati teduh. 

Momiji...
Peaceful....
Sepertinya menarik juga ada satu di rumah =D
So cute kata si kecil
Snack untuk menghangatkan badan.

Tujuan kami selanjutnya adalah Tsutenkaku Tower. Sama seperti tadi, tentunya kami tidak berniat masuk ke dalam menara, tujuan kami menikmati pemandangan di sekitar. Tsutenkaku Tower ini terletak di daerah Shinsekai. Sebelum Dotonbori menjadi pusat kunjungan turis, area Shinsekai termasuk pusat kunjungan turis.

Tsutenkaku Tower

Memang jika dilihat-lihat, di area ini terdapat banyak kedai makanan yang beraneka ragam, tempat main, papan reklame toko dan baliho retro yang colorful. Walau begitu, ada rasa oldies di daerah sini, seakan menjadi saksi bahwa tempat ini dulunya pasti maju sekali.

Resto dengan tampilan yang menarik
Perahu yang menonjol jadi seperti di Cihampelas

Dari yang kami baca sebelum liburan, Shinsekai ini banyak sekali hotel yang murah. Tetapi tempat ini terkategori tempat yang kurang aman menurut warga local. Jadi lebih baik berhati-hati saat mengunjungi tempat ini ya.

Salah satu tempat main

Menara Tsutenkaku ini pun sebetulnya tidak setinggi menara lainnya. Tetapi pada masanya, menara dengan tinggi 100 meter termasuk tinggi dan menjadi hiburan bagi para turis. Sampai sekarang pun menara ini masih dikunjungi oleh turis-turis.

Foto wajib lainnya.

Osaka in big picture.

Setelah berfoto-foto, kami segera kembali ke hotel untuk mengambil koper-koper yang dititipkan. Kami menjemput oma dan opa dan berjalan bersama-sama menuju Namba Station. Rencananya kami akan naik Nankai Limited Express Rapit menuju Kansai.

Robot yang ditemui saat berjalan ke Stasiun Namba
Adik dan Yellow Duck

Selesai sudah autumn holiday kami. Walau rasanya masih kurang puas, banyak tempat yang belum puas dijelajahi, tetapi kami tetap bersyukur mendapatkan kesempatan untuk menikmati liburan bersama dengan oma dan opa. Tidak semua orang dapat mengalami golden anniversary. Semoga kami pun bisa :)

Sayonara Jepang….

Kereta Hello Kitty

PS: artikel mengenai Jepang dapat dilihat di link ini ya.

Mencuri momen

Sekilas Info

Kappa sushi

Alamat: Jepang, 542-0084 Osaka, Chuo Ward, Souemoncho, 7−2 デカ戎橋ビル 5階 (lantai 5 Croesus Sinsaibashi)(google map)

Jam operasional: 11.00 – 21.30

Sundrug

Alamat: 7-2 Souemoncho, Chuo Ward, Osaka, 542-0084, Jepang (google map)

Jam operasional: 10.00 – 22.00

Osaka Castle

Website: https://www.osakacastle.net/

Alamat: 1-1 Osakajo, Chuo Ward, Osaka, 540-0002, Jepang (google map)

Jam operasional: 09.00 – 17.00

Tsutenkaku Tower

Alamat: 1 Chome-18-6 Ebisuhigashi, Naniwa Ward, Osaka, 556-0002, Jepang (google map)