Thursday, April 26, 2018

Gyeongbokgung dan Ssamzigil

Megah dan besar....
Demikian pemikiran kami saat dulu mengunjungi gerbang Gwanghwamun. Di kunjungan kami saat itu, karena oma tidak mau berkeliling di dalam istana, kami hanya melihat pertukaran penjaga dan berfoto-foto di depan gerbang. Namun kali ini, kami sengaja menyediakan waktu untuk masuk ke dalam Gyeongbokgung. Kami penasaran untuk melihat istana yang satu ini. 
Gaya Duo Lynns untuk menghilangkan kedinginan =D
Duo Ninja dan Gerbang Gwanghwamun
Sekilas sejarah, Gyeongbokgung (Istana yang sangat diberkati oleh surga) merupakan istana yang terbesar dan termegah yang dibangun pada masa pemerintahan dinasti Joseon pada tahun 1395. Gyeongbokgung menjadi istana utama pada masa itu. Pada tahun 1592 Jepang melakukan invasi ke Korea dan hampir semua istana di Seoul hancur. Selama 276 tahun istana tersebut dibiarkan begitu saja. Pada tahun 1867 istana ini dibangun kembali. Namun pada saat tahun 1911, saat penjajahan Jepang di Korea, istana ini dihancurkan kembali dan hanya disisakan 10 bangunan utama. Pada tahun 1990. istana ini dibangun kembali seperti pada zaman dahulu kala.
Tiket kami :)
Walau ramalan cuaca menyatakan jam tiga sore adalah jam paling hangat, namun karena angin yang lumayan kencang, maka udara terasa dingin. Dan karena Gyeongbokgung akan tutup jam lima sore, kami memutuskan untuk mengitari secara cepat beberapa tempat utama seperti gerbang Gwanghwamun, Geungjeongjeon, Gyeonghoeru, Hyangwonjeong, dan Folk Museum. Sedangkan bagian-bagian yang lain akan dilihat dari luar saja, tanpa harus memasuki area tersebut. 
Gerbang Heungnyemun
Saat gerbang istana berpadu dengan gedung bertingkat
Perjalanan kami dimulai dengan memasuki area Geunjeongjeon. Geunjeongjeon, yang artinya semua hal akan terurus dengan baik jika Yang Mulia menunjukkan kerajinan, merupakan hall utama dari Gyeongbokgung. Di hall ini semua kegiatan besar dilakukan, seperti rapat, menerima tamu luar, dan upacara pemahkotaan raja. Sama seperti di Forbidden City, pengunjung hanya dapat melihat dari luar. Kami seakan terbawa ke masa-masa kerajaan zaman dulu (akibat kebanyakan nonton film silat). Sedangkan ruangan-ruangan dibelakang hall utama ini adalah Sajeongjeon, yang artinya tempat dimana raja harus berpikir secara dalam sebelum memutuskan benar atau salah. Ini adalah tempat dimana raja mengadakan meeting pagi dengan menteri-menterinya, dari pukul tiga pagi sampai dengan lima pagi, setiap hari. Rajin sekali bukan?
Tampak depan Geungjeongjeon.
Isi di dalam Geungjeongjeon.
Tahta raja, sudah mirip seperti film kolosal
Bagian berikutnya yang kami kunjungi adalah Gyeonghoeru. Gyeonghoeru merupakan tempat dimana raja menyelenggarakan jamuan formal dengan tamu-tamu luar negeri. Kolam yang ada disekitar Gyeonghoeru dan berlatar belakang pemandangan gunung Inwang membuat kami berpikir pastinya indah sekali pemandangan dari dalam Gyeonghoeru. Jika dilihat sepintas, bentuk-bentuk bangunan ini mirip dengan istana-istana di China. Hal ini memang wajar karena dalam proses pembuatannya, mereka menggunakan prinsip yang ada dalam buku I Ching, Book of Changes, buku klasik China.
Gyeonghoeru yang dikelilingi kolam dengan air yang sebagian membeku.
Pose wajib berikutnya
Secara singkat, kami melihat bangunan-bangunan lain di sekitar Gyeonghoeru. Tujuan kami selanjutnya adalah Hyangwonjeong. Hyangwonjeong merupakan paviliun yang berada di area selir-selir kerajaan. Hyangwonjeong juga dikelilingi kolam yang yang bernama Hyangwonji. Kalau melihat dari denah yang ada, ada dua bangunan yang dikelilingi kolam, yaitu Gyeonghoeru dan Hyangwonjeong. Jika Gyeonghoeru terlihat begitu maskulin, gagah dan luar biasa, Hyangwonjeong terlihat begitu feminin dan hangat.
Denah Gyeongbokgung.
Cuaca yang semakin dingin membuat anak-anak kedinginan. Untungnya kami membawa termos yang berisi air panas. Kami berhenti dan mojok sebentar untuk minum. Karena banyak yang sedang direnovasi di dekat situ, plus kedinginan, maka kami berputar arah menuju Children's Folk Museum yang berada di dalam National Folk Museum.
Berpose di samping Sajeongjeon
Sebetulnya ada dua museum yang berada di dalam lokasi Gyeongbokgung, yaitu National Folk Museum dan National Palace Museum. Namun kami memilih mengunjungi Folk Museum karena di dalam sini juga ada Children's Folk Museum. National Folk Museum menyimpan peninggalan-peninggalan dan informasi-informasi mengenai kehidupan atau kebudayaan orang Korea dari zaman dahulu hingga sekarang. Kami langsung menuju Children's Folk Museum. Kisah kami di Folk Museum ada di link berikut ya.
The National Folk Museum berada di bawah pagoda tersebut.
Pose diluar pintu gerbang. 
Setelah selesai, kami berjalan menuju Insadong. Di kunjungan kami sebelumnya, kami mengunjungi Insadong di malam hari untuk makan malam di Tobang. Kali ini kamu khusus untuk mengunjungi Ssamzigil. Ssamzigil merupakan kompleks perbelanjaan yang berada di area Insadong. Mall ini sudah ada sejak akhir tahun 2004. Ssamzigil dirancang dengan unik karena dengan berjalan menyusuri koridor yang ada kita akan sampai ke tingkat teratas, seperti Mall Citraland di Grogol. Di lantai teratas, rooftop yang disebut Sky Garden, disediakan juga tempat untuk memasang gembok cinta seperti di N Seoul Tower. Isi di mall ini lebih ke arah hal-hal yang berbau kerajinan dan makanan.
Peta Insadong
Ssamjigil di petang hari.
Salah satu makanan yang banyak penggemarnya adalah ddung cake. Ddung cake berarti kue pup. Maksudnya bentuk kuenya seperti pup. Ddung cake mirip seperti pancake tetapi ada isi kacang merah atau coklat. Karena banyak penggemarnya, biasanya antrian yang mau makan kue ini juga lumayan. Kami pun ikut mengantri. Untungnya antrian tidak begitu panjang. Dan setelah kami mengantri, antrian mulai mengular. Mungkin semua juga kedinhinan dan berpikir makan kue ini akan menghangatkan tubuh.
Sudah lihat bentuknya kan? =D
Harga satu kue ini sekitar 2,000 won. Namun jika kita membeli paket, maka jadi jauh lebih murah. Dan memang karena cuaca yang dingin, membeli paket 2 kue dan satu gelas coklat panas (dengan harga sekitar 4.500 - 5.000 won) merupakan opsi terbaik bagi kami untuk menghangatkan badan dan melanjutkan perjalanan kami menuju Dongdaemun Design Plaza.
Muka bahagia saat memegang makanan dan langsung minta difoto.
Note: Untuk cerita lebih lengkap mengenai liburan kami di Seoul, beserta tips dan informasi lainnya, silakan klik link berikut ini.

Before: Yeouido English Ministry dan Yeouido Park
Sekilas Informasi
Gyeongbokgung
Jam operasi: 09.00 - 18.30 (kecuali winter hanya sampai jam 17.00), tutup setiap Selasa
HTM:
19 - 64 tahun: 3.000 won (2.400 won untuk group dengan peserta lebih dari 9 orang)
7 - 18 tahun: 1.500 won (1.200 won untuk group dengan peserta lebih dari 9 orang)
0 - 7 tahun 65 tahun keatas gratis (bawa kartu identitas atau passport)
Tersedia juga tiket kombinasi 10.000 won untuk mengunjungi Gyeongbokgung, Deoksugung, Changgyeonggung, Changdeokgung dan tamannya, Jongmyo Shrine)
Tour dalam bahasa asing (free):
Inggris: 11.00, 13.30, 15.30
Mandarin: 09.30, 11.00, 13.30, 15.00, 26.30
Jepang: 10.00, 12.30, 14.30
Cara menuju ke sana: Stasiun Gyeongbokgung (line 3) exit 5

Ssamjigil
website: http://www.ssamzigil.co.kr/
Alamat: 44 Insadong, Gwanhundong, Jongno-gu
Jam operasional: 10.30 - 20.30
Cara menuju ke sana: stasiun Anguk (line 3) exit 6

Wednesday, April 25, 2018

The National Folk Museum dan Children's Folk Museum

Saat musim dingin, istana dan museum di dalam istana hanya buka sampai dengan pukul 17.00. Saat kami selesai mengitari sebagian istana Gyeongbok, waktu menunjukkan pukul empat kurang lima belas. Ini berarti sebentar lagi area museum akan ditutup. Untuk menghemat waktu, kami langsung menuju Children's Museum. Di benak kami, jika masih ada waktu, maka kami akan melihat yang untuk dewasanya.
Area outdoor dari museum, ada mainan tradisional yang menarik.
Children's Folk Museum ini dirancang sangat children friendly, namanya juga museum anak-anak. Kami diberi dua tiket untuk masuk ke dalam dua area pameran dan diinfokan bahwa waktu tutup sudah sebentar lagi. Area pertama yang kami masuki adalah area yang berbau kisah mitologi Korea. Kami cukup takjub dengan cara mereka merancang sehingga anak-anak dapat menggunakan semua panca indra mereka tetapi memasukkan sejarah tentang masa zaman Shilla. Walaupun menurut kami berbeda dengan apa yang kami percayai, namun kami belajar untuk menghargai perbedaan.
Area Mitologi Korea.
Area bermain sambil belajar di dalam bagian mitologi. 
Setelah selesai bermain di sini, kami berpindah ke hall pameran kedua. Kami tidak tahu pameran apakah ini, namun lorong ini dipenuhi dengan gambar dengan tulisan yang artinya apa kabar. Saat kami masuk, kami baru menyadari bahwa pameran ini berhubungan dengan makanan.
Salam Apa Kabar yang membuat kami bangga.
Keterangan karbohidrat yang ada dalam setiap makanan khas suatu negara. 
Bumbu dari Indonesia ada di sini loh (bangga.com)
Yang lucunya di sini, semua petugas yang berjaga di dalam Children's Museum adalah anak-anak ABG yang masih lucu. Mungkin supaya terlihat tidak menakutkan bagi anak-anak kecil. Walaupun terkadang terlihat mereka seru bermain mainan interaktif di dalam sini. Namanya juga masih anak-anak ya.
Alat masak. Ada ulekan juga :)
Area makanan Korea dan banchannya.
Di samping pameran ini terdapat pameran khusus yang diselenggarakan oleh Folk Museum. Saat kami datang, karena menyambut pergantian tahun anjing, maka pameran special kali ini bertema hubungan antara anjing dan manusia. Dan karena masih belum diusir petugas ada waktu dan masih banyak orang yang melihat-lihat, kami pun masuk ke dalam hall utama di National Folk Museum.

National Folk Museum terdiri dari 3 hall utama. Kami memulai dari hall ketiga terlebih dahulu. Hall ketiga berisi siklus hidup orang Korea. Segala hal yang berhubungan dengan kebudayaan saat mereka lahir, besar, menikah, bahkan sampai meninggal dipaparkan di sini. Satu hal yang baru kami ketahui ternyata sama seperti kebudayaan Tionghoa, salah satu ulang tahun yang dianggap wajib dirayakan adalah ulang tahun ke enampuluh.

Hall kedua berisi mengenai gaya hidup orang Korea. Pameran di sini mengilustrasikan bagaimana kehidupan orang Korea di masa Joseon dan apa yang mereka lakukan di setiap musim di sepanjang tahun. Di hall ini kami seakan diajak berlari cepat ke masa lalu (betul-betul cepat karena diburu waktu dan dipanggil petugas karena sudah waktunya keluar) untuk melihat pekerjaan, baju, rumah dan makanan dalam setiap musim. Hall pertama berisi sejarah kehidupan orang Korea. Hall satu menampilkan benda-benda yang digunakan sehari-hari, sejak dari zaman prasejarah hingga zaman sekarang.
Beberapa yang dapat kami foto, sambil disenyumin petugas =D
12 binatang yang seperti 12 shio dalam penanggalan lunar.
Di luar museum ini, ada area yang dikondisikan seperti pada tahun 60 atau 70an. Dari tempat cukur, tempat jual komik, restoran, dan bahkan sampai pompa zaman dahulu. Duo Lynns pun norak melihat barang-barang zaman dahulu. Mama papanya norak karena seakan melihat langsung tempat shooting film zaman dulu =D
Mom's old town
Senangnya kami menghabiskan sore kami di sini. Petualangan kami di Gyeongbokgung diakhiri dengan berfoto-foto disepanjang jalan keluar. Keraguan kami bahwa anak-anak akan bosan berada di dalam istana dan museum pun sirna. Duo Lynns sungguh menikmati kunjungan di dalam istana ini. Tepatnya, mereka puas berpose disetiap tempat =))
Pose di dekat pintu keluar
Before: Gyeongbokgung dan Ssamjigil
Next: LED Rose di Dongdaemun Design Plaza
Note: Untuk cerita lebih lengkap mengenai liburan kami di Seoul, beserta tips dan informasi lainnya, silakan klik link berikut ini.

Sekilas Informasi
Gyeongbokgung
Jam operasi: 09.00 - 18.30 (kecuali winter hanya sampai jam 17.00), tutup setiap Selasa
HTM:
19 - 64 tahun: 3.000 won (2.400 won untuk group dengan peserta lebih dari 9 orang)
7 - 18 tahun: 1.500 won (1.200 won untuk group dengan peserta lebih dari 9 orang)
0 - 7 tahun 65 tahun keatas gratis (bawa kartu identitas atau passport)
Tersedia juga tiket kombinasi 10.000 won untuk mengunjungi Gyeongbokgung, Deoksugung, Changgyeonggung, Changdeokgung dan tamannya, Jongmyo Shrine)
Tour dalam bahasa asing (free):
Inggris: 11.00, 13.30, 15.30
Mandarin: 09.30, 11.00, 13.30, 15.00, 26.30
Jepang: 10.00, 12.30, 14.30
Cara menuju ke sana: Stasiun Gyeongbokgung (line 3) exit 5

National Folk Museum
website: http://www.nfm.go.kr/english/index.do
Jam operasional: 09.00 - 18.00 (kecuali winter hanya sampai jam 17.00), tutup setiap Selasa
Harga Tiket Masuk: Gratis

Children's Folk Museum
website: http://www.kidsnfm.go.kr/nfmkid/index.do
Jam operasional: 09.00 - 18.00 (kecuali winter hanya sampai jam 17.00), tutup setiap Selasa
Harga Tiket Masuk: Gratis

Sunday, April 15, 2018

Day 3: Yeouido Area: Yeouido English Ministry dan Yeouido Park


"Remember the Sabbath day, to keep it holy"
Hari ketiga liburan musim dingin kami kali ini jatuh di hari Minggu. Salah satu kebiasaan kami adalah kemana pun kami pergi, sebisa mungkin kami tetap beribadah di hari Minggu. Bagi kami, beribadah bukanlah suatu keharusan, tetapi merupakan suatu privilege kalau kami dapat beribadah secara bersama-sama. Untuk kali ini, kami mencoba mencari gereja yang ada pelayanan anak dalam bahasa Inggris.

Sebelum kami pergi, kami sempat bertanya kepada teman di CGNTV, kakak dan ayah pernah melayani bersama dengan tim dari CGNTV, mengenai gereja Onnuri. Namun karena English Ministry hanya ada di sore hari, dan rasanya kami takut kesasar saat mengunjungi tempat baru di sore yang gelap, maka kami pun memutuskan untuk pergi ke Yeouido English Ministry atau YEM.

YEM merupakan salah satu bentuk pelayanan berbahasa Inggris dari gereja Yeouido Full Gospel. Gereja ini terkenal sebagai salah satu gereja terbesar di Seoul dan menyediakan ibadah dalam berbagai bahasa. Bahkan bahasa Indonesia juga ada. Hanya saja pelayanan dalam bahasa Indonesia tidak ada pelayanan anak. Jam ibadah untuk bahasa Indonesia dan bahasa Inggris pun sama, yaitu pukul 11.00. Kami pun mempersiapkan diri untuk pergi ke sana.

Untuk menuju gereja ini, kami memilih menggunakan bis. Menggunakan kereta bawah tanah juga bisa, namun kami harus berjalan lagi menuju gedung gereja atau naik bis lagi. Dan dari hasil berkonsultasi dengan Google Map, kami hanya cukup naik bus 463 dari Myeongdong, duduk manis dan turun di pemberhentian ke-10, yaitu tepat di halte Yeouido Full Gospel Church. Mudah bukan? Kami pun mengikuti saran Google Map dan menunggu di halte terdekat. Halte di sini cukup modern, disertai dengan nomor bus yang sebentar lagi akan sampai dan berapa menit lagi bus ini akan sampai. Pagi itu cuaca cukup dingin. Suhu sekitar minus lima celcius, tetapi dengan adanya angin terasa seperti minus sepuluh. Saat bus datang, kami pun menyiapkan T-Money kami dan segera naik ke dalam bus.

Format bus di sini mirip dengan bus di Singapore. Ada beberapa kursi yang dikhususkan untuk lansia, ibu hamil, anak-anak. Jadi jika tidak ingin menjadi pusat perhatian (yang negatif), lihatlah tanda-tanda di bangku tersebut. Dan enaknya naik bus, selain merasa seperti orang lokal, kami menikmati pemandangan yang ada. Apalagi bus yang kami naiki melalui sungai Hangang. Rasanya indah sekali. 

Lokasi gedung CCMM.
Tepat di pemberhentian ke sepuluh kami pun turun dan menuju gedung gereja. Gereja ini sangat besar dan sebagian bangunan sedang dalam renovasi. Dan kami pun salah masuk gedung. Oleh petugas yang ada kami pun diarahkan untuk menuju Grace Hall. Karena waktunya yang mepet, kami melihat sebagian dari jemaat mulai berlari menuju gedung ibadah. Pemandangan yang menarik bagi kami, melihat mereka begitu menghargai waktu ibadah.
Gedung CCMM.
YEM terdiri dari berbagai orang dari berbagai bangsa yang berkumpul bersama. Pelayanan anak mereka pun sederhana, dan menggunakan lagu-lagu bahasa Inggris (namanya juga English Service). Sedangkan untuk yang dewasa, hampir sebagian besar yang ada di sana adalah mahasiswa dan orang-orang yang bekerja di sana. Suasana ibadah pun berbeda dengan suasana di Indonesia. Namun rasa kekeluargaannya tidak kalah kental dengan gereja di Indonesia.

Satu hal yang cukup membuat kami kaget adalah adanya waktu ramah tamah sebelum firman dimulai. Jadi sesama jemaat menyapa kembali satu dengan yang lain. Ibadah pun berlangsung sekitar 2 jam, sementara pelayanan anak hanya 90 menit. Selesai ibadah pun kembali ada ramah tamah bagi yang baru pertama kali hadir. Karena kami hanya datang kali ini saja, kami pun tidak mengikuti acara ramah tamah yang kedua ini dan segera turun. Tujuan kami selanjutnya adalah mencari makan siang.

Walau waktu telah menunjukkan pukul 1 siang dan sinar matahari begitu panas, udara masih terasa begitu dingin. Tempat terdekat dengan CCMM adalah IFC Mall. Untuk menuju IFC Mall, kami harus menyeberangi Yeouido Park.
Gate terdekat menuju Yeouido Park dari YEM adalah Gate 8.
Yeouido Park, rasanya cerah, dingin, dan damai.
Yeouido Park merupakan taman yang sangat terkenal dan menarik untuk dikunjungi. Saat musim semi, area dibelakang gedung National Assembly, Yunjun-ro, dipenuhi oleh bunga-bunga sakura yang bermekaran. Taman ini sering didatangi oleh penduduk setempat dan juga turis yang ingin berjalan-jalan, berolahraga, dan melihat pertunjukan budaya. Taman ini dibagi menjadi beberapa bagian berdasarkan temanya. Ada Traditional Korean Forest, Grass Square, Culture Square, dan Nature's Ecosystem Forest
Duo Lynns yang sibuk mau mencoba semua alat.
Denah Yeouido Park
Di Traditional Korean Forest, hanya pohon-pohon tradisional Korea yang ditanam. Di bagian ini juga ada kolam dan paviliun segi delapan. Grass Square merupakan bukit landai dengan rerumputan dan tanaman-tanaman yang menandakan perubahan musim. Sedangkan Cultural Square merupakan tempat untuk mengadakan pertunjukan dan acara. Bagian yang tidak kalah serunya adalah bagian Nature's Ecosystem Forest. Di bagian ini kita dapat mengobservasi alam dan mempelajari tentang alam. 
Traditional Korean area. 
Gazebo di tepi kolam.
Air kolamnya membeku.
Setelah bermain sebentar di Yeouido Park, kami kembali melanjutkan perjalan menuju IFC Mall. Kami menyeberang jalan raya (betul-betul besar) dan sampai di IFC Mall. IFC Mall dirancang oleh perusahaan arsitektur dan interior design terkemuka Benoy. Kalau biasanya mall akan naik ke atas, IFC Mall membuat suatu perbedaan. Lantainya ke bawah. Mall yang terdiri dari empat lantai ini diisi oleh banyak brand ternama. Tujuan kami sudah jelas, yaitu lantai tiga. Di lantai tiga terdapat restoran dan CGV. 
Exterior di IFC Mall.
Kami menuju Mc Donald's untuk mencari makan siang. Kebiasaan kami, kalau masuk mall kelas atas di luar negeri dan takut harga makanan menguras kantong, maka kami mencari fast food. Dan supaya tidak bosan, kami memilih menu yang tidak ada di Indonesia, seperti shanghai burger, shrimp burger, dan bulgogi burger. Sama seperti di Indonesia, Mc Donald's di sini juga dipenuhi oleh keluarga yang membawa anak-anak. Dan senangnya jalan-jalan bersama anak kecil di sini, mereka memrioritaskan kursi untuk keluarga yang membawa anak. 

Bagi fakir wi-fi seperti kami, IFC Mall menyediakan free wi-fi juga loh. Jadi sambil menunggu anak-anak menghabiskan makanan, kami pun sempat memeriksa cuaca. Suhu diluar mulai menghangat menjadi 1 derajat celcius, dan berdasarkan prakiraan cuaca, suhu terhangat hari itu adalah 3 derajat celcius pada saat jam tiga sore nanti. Suhu yang baik jika ingin melakukan kegiatan outdoor di hari ini. 

Setelah anak-anak makan dan ke toilet, kami pun segera menuju stasiun MRT. IFC Mall mempunyai akses langsung menuju ke stasiun Yeouido. Tujuan kami berikutnya adalah masuk ke istana Gyeongbokgung.  
Patung King Sejong juga ada di Yeouido Park.
Note: Untuk cerita lebih lengkap mengenai liburan kami di Seoul, beserta tips dan informasi lainnya, silakan klik link berikut ini.
Sekilas Informasi
Yeouido English Ministry
Website: http://www.yoidoenglishministry.org atau http://english.fgtv.com/ 
Alamat: CCMM Building 11th Floor (Grace Hall),
101 Yeouigongwon-ro, Yeouido-dong, Yeongdeungpo, Seoul
Jam Ibadah:
Pelayanan Bahasa Indonesia: 11.00
English Service: 09.00 dan 11.00
Pelayanan Anak: 11.00 (dalam bahasa Inggris)
Cara menuju ke sana:
- stasiun MRT Yeouinaru (line 5) exit 2, lalu transfer bus
- Stasiun National Assembly (line 9) exit 2 atau 3, lalu berjalan kurang lebih 10 menit.
- Bus 463 dari Myeongdong, turun di halte Yeouido Full Gospel Church.

Yeouido Park
Alamat: 120, Yeouigongwon-ro, Yeongdeungpo, Seoul
Cara menuju ke sana:
- Stasiun Yeouinaru (line 5) exit 1, lalu berjalan kurang lebih 10 menit ke arah stasiun TV SBS.
- Stasiun Yeouido (line 5) exit 3, lalu berjalan kurang lebih 5 menit ke arah gedung National Assembly.

IFC Mall
Website: http://www.ifcmallseoul.com/eng/main.do
Alamat: 10, Gukjegeumyung-ro, Yeongdeung-po, Seoul
Cara menuju ke sana: stasiun MRT Yeouido exit 3.

Sunday, April 8, 2018

Kehebohan di GATF 2018 Jakarta fase 1


GATF datang lagi... 
Bagi para backpackers dan pencinta tiket murah, seperti kami, GATF selalu ditunggu-tunggu. Kapan lagi bisa mendapatkan tiket murah dari pesawat premium. Selain tiket murah yang ditawarkan, para travel agent pun juga menawarkan paket-paket tour dengan harga yang lebih murah dari biasanya.

Untuk tahun ini GATF 2018 fase 1 kembali diadakan di JCC pada tanggal 6 - 8 April 2018. Awalnya kami tidak berniat untuk datang, karena kami tidak merencanakan untuk bepergian dulu. Biasa, menabung dulu untuk liburan berikutnya. Namun karena perubahan bank yang bekerja sama dengan GATF kali ini, maka kami pun memutuskan untuk datang dan melihat-lihat. Sebagai gambaran, siapa tahu kami akan mencari tiket di GATF selanjutnya. Sekalian membuatkan Garuda Miles Junior dan memberi anak-anak hiburan murah meriah.

Berbeda dengan GATF sebelumnya, GATF kali ini bekerja sama dengan Bank Mandiri. Namun jika dirunut kebelakang, ini bukan pertama kalinya Bank Mandiri menjadi bank yang bekerjasama dengan GATF. Setelah bertanya pada mbah Google, saya penasaran, pada tahun 2010 dan 2012 Bank Mandiri sudah pernah menjadi bank yang bekerja sama dengan GATF. Jadi dapat dikatakan Bank Mandiri adalah pemain lama dalam sejarah GATF. Karena ganti Bank, maka aturan main untuk mendapatkan keuntungan dengan kartu kredit ataupun debit pun berbeda. 

Jika dulu cashback berlaku untuk harga per tiket dan maksimal 2 tiket, kali ini cashback berlaku untuk pembelian keseluruhan dalam satu draft pembelanjaan dan berlaku untuk kartu kredit dan kartu debit Mandiri. Pembelian yang akan mendapatkan cashback adalah pembelian tiket pulang pergi minimal satu juta. Ada dua jenis cashback yang disediakan. Yang pertama untuk kelompok yang pembelian kurang dari 4 juta rupiah, cashback yang akan diberikan adalah 750 ribu rupiah. Yang kedua adalah kelompok yang pembelian 4 juta keatas, cashback yang akan diberikan adalah 2 juta rupiah. Apakah lebih menguntungkan? Tergantung pembelanjaan dan destinasi yang dituju.

Berdasarkan website resmi Mandiri, berikut mekanisme untuk mendapatkan cashback.
- Cashback akan didistribusikan dengan sistem first come first served, dan selama kuota masih tersedia.
- Nasabah yang ingin mendapatkan cashback wajib mengambil gelang cashback dengan warna yang berbeda setiap tiering dan jenis kartu yang digunakan, dan didistribusikan di ticket box Bank Mandiri (area JCC).
- Ticket Box Bank Mandiri (untuk pengambilan gelang cashback) dibuka pukul 07.00 s.d 10.00 WIB (atau hingga kuota habis).
- Pada saat melakukan pengambilan gelang cashback, nasabah wajib menentukan jenis gelang yang ingin diambil, dan hanya berkesempatan untuk memanfaatkan gelang yang sudah diambil tersebut (tidak dapat ditukar/ diganti).
- 1 (satu) nasabah hanya diperbolehkan untuk mengambil maksimal 1 (satu) gelang cashback, yang berlaku untuk 1 (satu) transaksi atau dalam 1 (satu) sales draft.
- Khusus untuk pemegang kartu debit Mandiri Garuda, bisa mendapatkan additional cashback diluar cashback reguler (selama kuota masih tersedia) dengan menunjukkan kartu debit Mandiri Garuda dan digunakan untuk transaksi di GATF.
- Nasabah yang memiliki lebih dari 1 (satu) jenis kartu Mandiri, hanya dapat menukarkan satu gelang cashback.
- Pada saat mengambil gelang cashback, nasabah wajib untuk menunjukkan KTP/SIM/Paspor dan Kartu Mandiri yang akan digunakan bertransaksi, untuk dilakukan verifikasi oleh Bank Mandiri.
- Pengambilan gelang cashback harus dilakukan oleh pemegang kartu dan tidak boleh diwakilkan.
- Gelang cashback hanya dapat digunakan pada hari yang sama dengan tanggal yang tertera pada gelang.

Seperti biasa, kami datang dengan menggunakan Grab. Karena tidak ada rencana untuk mengantri gelang, maka kami agak santai dan tiba di sana pukul 10.30. Dengan harapan antrian untuk masuk tidak seramai pagi hari. Namun kami cukup kaget karena saat kami sampai, antrian jauh lebih panjang daripada tahun lalu. Padahal biasanya kalau sudah jam segini, antrian sudah pendek. Rasanya mau pulang lagi melihat antrian yang panjang.

Kami pun ditawari oleh pihak Bank Mandiri untuk membuat kartu kredit supaya langsung dapat tiket masuk tanpa harus mengantri. Hmm...sounds good. Karena masih gratis iuran tahunan selama dua tahun (mama tidak boleh mendengar kata gratisan), kami pun mendaftar. Namun ternyata hanya satu kupon yang dapat ditukarkan dengan suvenir dan dapat menjadi tiket gratis untuk satu orang (waktu GATF tahun 2016 BNI memberikan dua tiket gratis saat mendaftar kartu kredit BNI Garuda). Akhirnya papa memutuskan untuk mengantri menukarkan tiket dengan menunjukkan kartu debit Mandiri. Sementara saya dan anak-anak masuk terlebih dahulu.

Saat kami mau masuk, petugas yang berjaga di depan pintu masuk mengatakan bahwa kupon tersebut harus ditukarkan terlebih dahulu dengan tiket di booth Mandiri. Kebingungan pertama pun terjadi. Kami pun berjalan menuju booth Mandiri. Dan ternyata di sana sudah ada suatu keramaian. Semua orang yang datang, termasuk kami, diinfokan bahwa dengan membuat kartu kredit, yang katanya same day approval, maka kami boleh langsung masuk dan akan mendapatkan suvenir. Sementara petugas yang berjaga di situ mengatakan bahwa kuota tiket gratis untuk yang membuat kartu kredit tiket sudah habis. Satu petugas mengatakan tiket yang disediakan hanya 250 tiket dan yang satunya mengatakan 250 ribu tiket. Tidak heran banyak pengunjung yang marah karena mereka sudah mengantri untuk membeli tiket namun dibujuk untuk tidak usah mengantri dan dapat langsung masuk jika mereka membuat kartu kredit. 
Antrian untuk menukarkan fiestapoin Mandiri dengan tiket masuk.
Keadaan menjadi sangat panas karena adu mulut antara pihak Mandiri dan pengunjung, ditambah lagi cuaca yang sangat panas. Dapat dimaklumi jika mereka marah, karena mereka meninggalkan antrian dan sekarang jika disuruh antri lagi, pasti antrinya panjang dan bisa jadi happy hour sudah lewat. Apalagi hampir semuanya sudah biasa datang ke GATF dan tidak pernah mengalami hal seperti ini saat GATF bekerja sama dengan bank sebelumnya. Beberapa orang yang tadi marah memilih meninggalkan booth Mandiri. Berhubung kami masih menunggu papa, kami tetap disitu sambil menunggu kebijakan dari Mandiri. 

Akhirnya pihak Mandiri mengajak beberapa orang yang tersisa untuk masuk dengan memberikan cap di tangan kami sebagai tanda masuk. Namun suvenir yaitu tas tenteng dengan gambar maskot Asean Games dan berisi notes kecil tidak dapat diambil. Saya menanyakan kepada anak-anak mau tas atau mau masuk, karena mereka penggemar maskot Asean Games, mereka memilih masuk. Dengan alasan di rumah banyak notes dan mereka sudah kepanasan.
Booth jalan-jalan ke India.
Tampang teler dan tampang bahagia anak-anak saat bertemu spot untuk foto.
Bagaimana kondisi di dalam? Layout booth kurang lebih sama dengan tahun yang kemarin. Penjualan tiket dilakukan di assembly hall dan penjualan selain tiket berada di area plenary hall. Untuk tiketnya, hasil ngobrol dengan ibu-ibu lainnya saat antri di toilet, banyak tanggal-tanggal yang sudah habis promonya. Mungkin karena tahun ini ada preview sale tanggal 3 dan 4 April kemarin bagi pemilik Kartu Mandiri jenis tertentu. Hmm... sudah seperti pameran buku saja, ada preview sale
Charging area dan Cashback redemption counter.
Beberapa travel agent ternama. 
Kesimpulan dari kunjungan kami ke GATF kali ini adalah:
1. Dari sisi pelaksanaan, GATF tahun lalu lebih teratur dibanding tahun lalu. Memang ada penumpukan orang, tetapi saat pintu dibuka, orang yang mengantri sudah jauh berkurang. Mungkin karena untuk penukaran tiket menggunakan fiestapoin yang otomatis membuat kerja lebih lama. Papa baru bisa masuk setelah hampir jam satu siang.
2. Walau Bank Mandiri pernah menjadi bank yang bekerja sama dengan pihak GATF, namun tidak terlihat kecekatan dalam menangani pengunjung yang datang. Hampir semua yang datang mengeluh bahwa tahun-tahun sebelumnya tidak semerawut sekarang.
3. Untuk dibagian dalam, semua kurang lebih mirip dengan tahun sebelumnya. Tetapi 'goodie bags' yang dibagikan lebih sedikit dan tidak ada area bermain anak-anak.
4. Berdasarkan pengamatan kami, harga yang ditawarkan lebih tinggi dibanding harga saat GATF tahun sebelumnya, kurang lebih naik 10%. Walaupun demikian, jika dibandingkan budget airline yang sedang tidak promo, harga di GATF masih tetap lebih murah atau sama (tetapi dengan fasilitas premium).
Harga tiket domestik. Sumber foto: Bayu Buana.
Harga tiket internasional. Sumber foto: bayu Buana.
5. Kali ini hadiah voucher yang ditawarkan lebih menarik dari tahun-tahun sebelumnya, sebanding dengan harga tiket yang lebih tinggi. Ada voucher hotel, lucky dip, dan voucher belanja untuk beberapa rute tertentu.
6. Sejauh mata memandang, saya tidak melihat tempat menjual makanan. Area yang biasa digunakan untuk foodcourt sekarang sedang dalam perombakan.
7. Melihat antrian yang seperti itu, jika hanya mencari tiket murah, bisa booking dari travel agent. Harganya sama dengan di pameran. Tetapi jika ingin mendapatkan voucher, jalan-jalan, maka beli tiket langsung di travel fair boleh menjadi pilihan. Atau jika ingin membeli perlengkapan traveling dengan harga murah, berkunjung ke sini juga bisa. Harga yang ditawarkan murah (pakai banget) dibanding harga resmi.
Koper-koper dengan harga murah .
Taman Safari menjual tiket masuk dengan diskon 30% di sini.
Bagaimana dengan papa? Mendekati jam 1 siang, papa baru dapat masuk. Padahal biasanya hari pertama tidak pernah separah ini antriannya. Kami pun membuat kartu garuda miles junior untuk anak-anak. Setelah selesai mengadem, kami memilih untuk pulang. 
Layanan kesehatan dari Mandiri.
Dari banyaknya keluhan yang ada, rasanya bank yang menjadi rekanan cukup memegang peranan penting. Yah, semoga di fase 2 dan di tahun mendatang jadi jauh lebih baik :)
Cap yang diberikan agar dapat masuk kembali ke GATF.
GATF 2018 Jakarta
Jam operational: 10.00 -  22.00
Jam buka loket tiket: 07.00 (Mandiri) dan 09.00 (umum)

HTM:
-Rp 35.000,00 (gratis untuk anak dibawah 5 tahun dan lansia diatas 65 tahun)
Gratis biaya masuk bagi pengguna kartu Mandiri (kredit dan debit) dengan menukarkan 1 fiestapoin atau Rp 1,- di Ticket Box Mandiri

Periode Pemesanan: 6 - 8 April 2018
Periode Penerbangan: 9 April 2018 - 28 Maret  2019 (kecuali black out date)
Black out date: 8 - 24 Juni 2018 dan 18 Desember 2018 - 6 Januari 2019

Happy hour (Jakarta)
10.00 - 13.00 WIB
16.00 - 18.00 WIB