Puas makan dan berkeliling di Tongin Market, kami lanjut ke Folk Museum. Folk Museum ini berada di satu kawasan dengan Gyeongbokgung,
tepatnya di sebelah timur. Karena mendung dan sudah mau hujan, kami memilih
untuk naik bus yang berhenti di depan pintu masuk ke Folk Museum. Dan
memang tepat saat kami masuk ke dalam bus, hujan turun dengan derasnya.
Di dalam Folk Museum ini terdapat Children’s Folk Museum.
Untuk masuk ke dalam Children’s Folk Museum, maka kami harus mendaftar
dulu. Karena slot kami masih 1,5 jam lagi, maka kami pun berkeliling melihat Folk
Museum terlebih dahulu, melanjutkan yang belum selesai kami lihat di
kunjungan kami sebelumnya.
 |
| Sisi luar musium. |
National Folk Museum of Korea adalah museum yang berisi tentang cara
hidup masyarakat Korea dari masa prasejarah hingga akhir Dinasti Joseon.
Berbeda dengan Palace Museum yang fokus dengan cara hidup keluarga
kerajaan, Folk Museum lebih fokus pada kehidupan sehari-hari masyarakat biasa
pada umumnya.
Di musium ini ada tiga ruang
pameran utama. Yang pertama adalah Sejarah orang Korea. Yang kedua adalah gaya
hidup pertanian di masa lampau. Dan yang ketiga adalah siklus hidup yang
dimulai dari kelahiran, pernikahan, dan diakhiri dengan kematian.
 |
| Fase hidup manusia, dari lahir sampai meninggal. |
 |
| Rice cake untuk merayakan 100 hari usia anak kecil |
Selain pameran yang selalu ada,
Folk Museum juga mempunyai pameran tematik. Saat kami datang ada pameran The
Snake with a Thousand Faces. Pameran ini dilandasi dengan lunar year
saat itu adalah tahun ular. Dari pameran ini, kami baru tahu bahwa ular di kebudayaan
Korea juga merupakan symbol dari sosok dewa pelindung dan bahkan kesuburan dan
umur panjang.
 |
| Kalung dari tulang ular. |
 |
| Ular apakah ini? |
Yang terasa berbeda bagi kami
adalah musium ini menjadi lebih interaktif dibanding saat kami datang 7 tahun
yang lalu. Semua dirancang supaya setiap individu dapat menikmati musium tanpa
perlu orang lain (akibat pandemi).
Demikian juga dengan Children’s
Folk Museum. Apa yang kami lihat dulu hampir semuanya tidak ada. Saat kami datang, tema utama yang
diangkat didasarkan pada dongeng tradisional Korea yang sangat popular, yaitu
dongeng “Haenim Dalnim” atau The Sun and the Moon.
Dongeng ini mengisahkan asal usul
munculnya matahari dan bulan melalui perjuangan dua saudara melawan harimau. Kisahnya
agak mirip Little Red Riding Hood, tetapi serigala disini adalah harimau dan
nenek di sini adalah ibu dua bersaudara ini. Si harimau memakan sang ibu yang
sedang pulang dari ladang dan menyamar dengan menggunakan pakaian sang ibu. Tujuannya
adalah menipu anak dari ibu ini.
 |
| Playground daytime |
 |
| Anak-anak mewarnai gambar dan memasukkan ke dalam suatu alat, lalu gambar mereka muncul di screen. |
 |
| Hasilnya |
Sang kakak, Haesik (kakak
laki-laki) dan adik, Dalsun (adik Perempuan) awalnya tidak menyadari. Saat mereka
sadar akan penyamaran harimau, kakak beradik ini segera melarikan diri dan
memanjat sebuah pohon besar di dekat sumur untuk bersembunyi.
Si harimau pun akhirnya hampir
berhasil menangkap kakak adik ini. Di tengah keputusasaan, kedua anak ini
berdoa meminta Tuhan menurunkan tali dari langit. Surga pun menjawab doa mereka
dan menurunkan tali emas sehingga mereka bisa naik ke surga.
Si harimau tidak mau kalah dan
ikut mengambil tali yang ternyata membuat dia terjatuh dari ketinggian ke
ladang sorgum dan mati. Nah, di surga sang adik yang takut kegelapan malam
meminta bertukar peran dengan si kakak. Ia menjadi matahari (haenim) dan sang kakak
menjadi bulan (dalnim).
Lucunya cerita ini dikemas dengan
interaktif. Ada dua bagian, daytime dan nightime. Anak-anak diajak memahami cerita lewat playground. Ada juga rumah
hanok yang membawa mereka ke masa lalu.
 |
| Another slide to go |
 |
| Nightime playground. Lebih sunyi dibanding daytime playground. |
Di bagian luar juga ada outdoor
exhibition dan Streets of Memories. Sayangnya karena hujan, kami
memutuskan untuk tidak ke bagian ini. Rasanya sih isinya sama dengan 7 tahun
lalu. Kami langsung kembali ke Myeongdong untuk early dinner.
 |
| Trio Lynns di tengah hujan. |
Sesuai dengan rencana, kami memilih untuk makan di Yoogane. Dingin-dingin makan yoogane, pasti enak sekali. Sayangnya beberapa Yoogane mewajibkan setiap orang memesan satu menu, termasuk anak-anak. Kami memilih untuk makan di branch pertama karena mereka mengizinkan kami untuk tidak memesan satu menu per orang.
 |
| Free banchan. |
 |
| Tteok soup dan dakgalbi fried rice |
Selesai sudah aktivitas kami di hari Minggu ini. Kami pun berpencar. Papa, adik, dan si kecil kembali ke hotel sementara saya dan si kakak ke Photoism yang ada di Skypark Hotel.
Note: Untuk video lengkap Spring Holiday kami di Seoul, bisa dilihat di 3 link berikut (part 1, part 2, dan part 3)
Next: Seoul Day 7 Part 1: Menghabiskan Pagi di Myeongdong Cathedral
dan Yeouido Hangang Park
Before: Seoul Day 6: Menyusuri Jejak Masa Lalu di Palace Museum, Tongin Market, Folk Museum dan Children Folk Museum (part 1)
Sekilas Info
National Palace Museum of
Korea
Website: https://www.gogung.go.kr/gogungEn/main/main.do
Alamat: 12 Hyoja-ro, Jongno-gu,
Seoul (di samping gerbang Heungnyemun, Istana Gyeongbokgung)
Jam Operasional: 09.30 – 17.30
(Senin – Jumat, Minggu), 09.30 – 21.00 (Sabtu dan hari Rabu terakhir)
Cara menuju ke sana: Stasiun
Gyeongbokgung (line 3) exit 5
Tongin Market
Website:
Alamat: 18 Jahamun-ro 15-gil,
Jongno-gu, Seoul
Jam Operasional Pasar: 07.00 –
21.00 (tutup setiap hari Senin dan hari Minggu ketiga)
Jam Operasional Dosirak Café:
11.00 – 15.00 (Senin – Jumat), 11.00 – 16.00 (Sabtu – Minggu)
Cara menuju ke sana: Stasiun
Gyeongbokgung (Line 3) exit 2, berjalan 10 menit ke utara.
National Folk Museum
Website: http://www.nfm.go.kr/english/index.do
Jam operasional: 09.00 - 18.00
(kecuali winter hanya sampai jam 17.00), tutup setiap Selasa
Harga Tiket Masuk: Gratis
Children Folk Museum
Website: http://www.kidsnfm.go.kr/nfmkid/index.do
Jam operasional: 09.00 - 18.00
(kecuali winter hanya sampai jam 17.00), tutup setiap Selasa
Harga Tiket Masuk: Gratis