Thursday, November 16, 2017

Membatik di Museum Tekstil Tanah Abang


Bulan lalu kami berkesempatan jalan-jalan ke museum Tekstil. Museum yang terletak di daerah Tanah Abang ini memang sering kami dengar. Kabarnya di museum ini kita dapat mengikuti workshop membatik juga. Membatik merupakan salah satu kegiatan kesukaan Duo Lynns. Diawali dengan pengalaman mereka membatik di Habibie Festival 2016, mereka jadi keranjingan membatik. Kali ini kami pergi bersama dengan sepupu Duo Lynns dan teman-teman lainnya. 

Cara menuju ke museum ini tidak susah kok. Hanya saja harus mengamati jalan mana yang tidak macet. Banyak tanda jalan yang memudahkan kita menuju museum ini. Saat kami sampai, kami cukup terkagum-kagum melihat luasnya bagian depan museum ini. Areanya yang luas seakan menyimpan banyak cerita sebelum menjadi Museum Tekstil. Dan ternyata memanglah demikian.

Museum Tekstil ini didirikan pada tahun 1976 oleh Gubernur Jakarta pada saat itu, Ali Sadikin. Museum ini didirikan untuk menghormati ibu Tien Soeharto yang pada saat itu menjadi Ibu Negara. Bangunan dari museum yang diresmikan pada tanggal 28 Juni 1976 ini dibangun pada awal abad ke-19 oleh seorang berkebangsaan Perancis dan kemudian dijual kepada Abdul Aziz Al Mussazi Katiri Konsul Turki di Jakarta. Pada tahun 1942 bangunan ini dijual kepada Dr.Karel Christian Crucq dan pada awal tahun 1945 digunakan sebagai markas dari Perintis Front Pemuda dan Angkatan Pertahanan Sipil dalam perjuangan untuk mempertahankan kemerdekaan yang baru diproklamasikan Indonesia.
Taman jamu alami
Pada tahun 1947 bangunan yang berada dibawah kepemilikan Lie Sion Pin ini disewakan kepada Departemen Sosial dan digunakan sebagai lembaga bagi orang tua. Pada tahun 1962 bangunan ini diakuisisi oleh Departemen Sosial untuk digunakan sebagai kantor. Namun pada tahun 1966 bangunan ini menjadi asrama karyawan. Pada 25 Oktober 1975, secara resmi bangunan dan tanahnya diserahkan kepada Pemerintah DKI Jakarta. Dan lahirlah Museum Tekstil pada tahun 1976. 

Area di dalam Museum Tekstil ini terbagi menjadi beberapa bagian. Ada bangunan utama, galeri batik, pendopo batik, perpustakaan, tempat penyimpanan, taman pewarna alami, taman serat dan taman tanaman obat-obatan. 
Taman Serat di dekat parkiran.
Kami langsung menuju bangunan utama. Bangunan utama ini biasanya digunakan untuk pameran-pameran. Saat kami datang, pihak museum sedang mengadakan pameran batik oleh Go Tik Swan. Go Tik Swan adalah seorang budayawan dan sastrawan Indonesia yang tinggal di Solo. Putra sulung keluarga Tionghoa yang lahir pada 11 Mei 1931 ini memberikan banyak sumbangsih bagi bangsa Indonesia sebagai pelopor batik Indonesia. Go Tik Swan merupakan satu dari tiga orang di Keraton Kasunanan yang mendapat gelar Panembahan dan dikenal sebagai Panembahan Hardjonagoro.
Motif sawunggaling (pertarungan ayam jantan) yang merupakan masterpiece Go Tik Swan. 
Salah satu batik yang kami lihat adalah batik bermotif parang. Parang adalah lambang sinar matahari. Ciri khas batik parang adalah diantara dua bidang lajur miring terdapat isen-isen yang disebut mlinjon (bentuk belah ketupat), mengikuti lajur yang miring. Di lingkungan kraton, motif parang rusak merupakan pola larangan, yang artinya pola ini hanya boleh digunakan oleh raja dan anggota keluarga dekatnya. 
Batik motif Parang.
Setelah puas melihat pameran batik di bangunan utama, kami diajak menuju galeri batik. Di tempat ini terdapat peralatan untuk membatik. Membatik sendiri dapat dilakukan dengan dua cara, dengan menggunakan canting dan cap. Proses pembuatan batik dengan menggunakan cap tentu saja akan lebih cepat selesai, sedang proses pembuatan batik dengan menggunakan canting tentunya akan memakan waktu. Tidak heran harga batik yang seperti ini lumayan mahal.
Galeri Batik.
Perlengkapan membuat batik. 
Di galeri batik ini juga terdapat batik-batik dari hampir seluruh wilayah Indonesia. Uniknya, setiap kota mempunyai ciri khas masing-masing. Seperti Bogor dengan motif hujan yang menunjukkan Bogor adalah kota hujan, Bandung dengan motif angklung, dan lain sebagainya.
Batik Jawa Timur.

Kiri: Batik Cirebon. Kanan atas: Batik Bandung. Kanan bawah: Batik Bogor.
Alat apakah ini?
Kami pun beranjak menuju pendopo batik. Di pendopo inilah diadakan workshop membatik. Saat kami datang, banyak anak dari sekolah-sekolah dan juga perorangan yang sedang mengikuti workshop ini. Bagi anak-anak, membatiknya pun dibuat yang sederhana sekali. Ada tiga pilihan gambar yang dapat dibuat, yaitu kupu-kupu, gajah, dan juga pesawat.
Malam dan cantingnya.
Bagaimana proses membatik? Pertama adalah membuat pola. Mereka akan diminta untuk meneteskan lilin mengikuti pola yang ada. Lilin ini tentu saja panas, namun jika terciprat sedikit tidak berbahaya kok.
Proses membuat pola.
Setelah selesai, petugas yang ada akan mengambil dan membawanya ke belakang. Mereka akan memberikan list di sekeliling kain dengan menggunakan parafin atau lilin yang sudah dicarikan. Setelah itu adalah proses pewarnaan. Kain dicelupkan ke air biasa terlebih dahulu untuk membuat kain basah, baru dicelupkan ke dalam pewarna. Proses ini dilakukan dua atau tiga kali agar warnanya menempel dengan sempurna. Setelah proses pewarnaan, kain yang sudah diberi warna direbus dengan tujuan untuk menghilangkan lilin yang menempel pada kain. Setelah itu baru dijemur. Bagian yang tadi diberi lilin menjadi bagian yang putih. Kami baru tahu bahwa ternyata tujuan memberi lilin dalam proses membatik adalah untuk membuat pola yang kita ingini menjadi putih.
Proses pewarnaan.
Bagaimana jika anak-anak tidak dapat memegang canting dan tidak dapat meneteskan lilin di gambar dengan baik? Jangan kuatir, petugas yang ada akan membantu untuk merapikannya supaya saat dibawa pulang anak-anak hasilnya akan bagus. Selain membatik dengan canting atau cap, mereka juga menyediakan workshop tie dye.
Proses penjemuran, dua batik yang dibantu oleh petugasnya 
Sambil menunggu kain kering, kami diajak untuk melihat taman pewarna alami. Di taman ini terdapat banyak tanaman yang ternyata dapat menghasilkan warna-warna secara alami. Misalkan daun muda dari pohon jati yang memberikan warna merah kecoklatan, kesumba menghasilkan mana oranye kemerahan, daun andong menghasilkan warna hijau, daun alpukat menghasilkan warna hijau kecoklatan, daun pohon nila menghasilkan warna biru, dan pohon-pohon lainnya. Hebatnya Sang Pencipta membuat warna-warna dari pohon. Warna yang dihasilkan dari pewarna alami ini tidak akan setajam warna yang dihasilkan dari pewarna buatan. Namun warna yang dihasilkan oleh pewarna alami akan lebih awet dibanding dengan pewarna buatan.
Taman pewarna alami.
Setelah berkeliling mengitari taman yang ada di Museum Tekstil, kami kembali ke pendopo batik untuk mengambil batik yang dibuat anak-anak. Karena sudah siang dan anak-anak sudah lapar, maka kami pun pulang walaupun masih ada beberapa bagian yang belum sempat dilihat. Mungkin lain hari kami akan mengunjungi tempat ini kembali dan membuat batik dengan motif lainnya. 
Buah pohon kapuk yang jatuh.
Buah pohon kapuk yang sudah tua.
Museum Tekstil
Alamat: Jl. Aipda K.S. Tubun Raya no 2 - 4, Palmerah, Jakarta Barat.11420
Telepon: 021 - 5606613
Jam buka: 09.00 - 15.00 (Senin Tutup)
Harga tiket: 
Dewasa: Rp 5.000,00
Mahasiswa: Rp 3.000,00
Pelajar: Rp 2.000,00
Pembuatan batik (termasuk tiket masuk): Rp 40.000,00


Sunday, November 5, 2017

Pesta Bakmi Tirta Lie Festival 2017 (part 2)

Kembali melanjutkan cerita mengenai festival bakmi ini. Setelah sebelumnya kami mengunjungi saat hari pertama, kami kembali mengunjungi di hari ketiga Festival. Kali ini bersama dengan oma dan opa. Incaran kami hari ini adalah Bakmi Bakar Bodud'z, mie Benteng, dan Cliff Noodl Bar. Oma dan opa memesan bakmi Terang Bulan dan Bakmi Afung. Dari lima bakmi ini, yang antrinya paling panjang adalah bakmi bakar. Padahal saat kami datang masih pukul 17.00. 
Antrian yang panjang demi Bakmi Bakar Bodud'z.
Untuk Bakmi Afung dan Bakmi Terang Bulan menurut oma dan opa enak, apalagi oma memesan mi cukiok di Bakmi Afung. Cukiok adalah kaki babi. Untuk memasak ini agak repot. Berhubung saya geli melihat kakinya, maka saya tidak berminat mencoba. Bakmi Afung ini biasanya berjualan di Grogol. Sedang Bakmi Terang Bulan yang biasanya berjualan di Taman Palem ini memang enak. Bakmi asal Palembang ini menurut opa sangat enak.

Bagaimana dengan Bakmi Bakar yang antrinya top markotop? Ternyata rasanya tidak seenak yang kami bayangkan. Memang bakminya ada bau daun yang khas, tetapi bagi kami rasanya tidak sehebat antriannya. Namun bakmi yang biasanya ada di Jelambar ini patut diacungi jempol karena dapat membuat inovasi dalam dunia perbakmian.
Bakmi Bakar Bodud'z
Cliff Noodl Bar merupakan bakmi Siantar yang berjualan di daerah PIK. Antrinya sih lumayan, tidak sepanjang bakmi Bakar, namun rasanya enak dan non msg. Belum lagi pilihan bakminya warna-warni. Ada yang menggunakan sayur hijau, talas, dan juga arang bambu Jepang. Mie ini jadi favorit anak-anak.
Bakmi original Cliff Noodl Bar
Bakmi Benteng yang kami icipi terasa biasa-biasa saja. Kami memilih mi lebar, tetapi sayangnya mi lebar tersebut terlalu agak kelembekan. Topingnya lumayan bervariasi. Dari semua bakmi yang kami pesan, bakmi Benteng termasuk yang lumayan mahal, yaitu 45 ribu rupiah.
Bakmi Benteng.
Saran kami, melihat susahnya mencari tempat duduk di sana, bisa juga kita beli bakmi di situ, lalu makan di food court atau pasar MOI. Supaya tidak merasa bersalah, ya paling beli minumnya di pasar MOI atau food court lantai dua. 
Hiburan setelah makan, buat papercraft dari paper replika yang ada di GIK.

Kami kira perburuan mie kami sudah berakhir di hari ketiga, karena di hari terakhir festival kami sudah mempunyai agenda dadakan untuk hadir ke acara ulang tahun. Tiba-tiba karena ada rapat mendadak yang harus diikuti dan selesainya sudah siang sekali, kami tidak mungkin mengikuti acara ulang tahun tersebut. Dan berhubung teman-teman ternyata menunggu kami, dan anak-anak kepengen pergi bareng teman-temannya setelah gagal ke acara sebelumnya, akhirnya kami pun kembali ke MOI.
Sir Babi Ol Pok. Sumber foto: makocoh.
Seperti yang diperkirakan, wilayah sekitar MOI macet dan antrian masuk pun susah. Luar biasa memang festival bakmi ini. Teman-teman lain yang sudah sampai sibuk memposting foto mereka dan antrian yang panjang. Salah satu teman kami, Mr. Bamz, bahkan rela antri 1 jam demi bakmi portugal Kedai Tang. Akhirnya kami berhasil mendapatkan parkir dan bergegas menuju lantai 2. Saat kami tiba, teman-teman yang sibuk memposting foto sudah pulang =D
Mie Kedai tang yang antrinya luar biasa. Sumber foto: Mr. Bamz
Apakah mie yang kami nikmati hari ini? Untuk membuka mata saya yang sudah mulai 5 watt, saya memesan mi sambal matah di Mee Macau. Mee Macau ini berbeda dengan mie yang ada di Macau. Mie yang terkenal dengan mi pedasnya ini mempunyai lokasi jualan di ruko Artha Gading. Supaya anak-anak dapat menyicipi, saya meminta sambal matahnya dipisah. Mie yang ada disajikan dalam wadah kertas yang dapat langsung dibuang. Awalnya saya kira hanya selama festival saja, namun ternyata memang demikian cara mereka berjualan. Bagaimana dengan rasanya? Tekstur dari Mee Macau agak lembek, namun toppingnya cukup enak dan garing. Mie halal satu ini memberikan toping suiran ayam dan ayam goreng tepung yang sangat garing. Sambal matahnya pun pedas dan enak. Mata saya yang sudah 5 watt pun terbuka.
Mie sambal matah, sesudah dan sebelum diberi sambal matah.
Kali ini kami juga memesan mie Rama Jember. Mie yang jualan di jalan Kartini ini merupakan cabang dari mie Jember. Di sana mie ini sudah ada sejak tahun 1969. Antrian memang tidak nampak di counter ini, namun si papa penasaran dengan mie tempat mertunya berasal. Kali ini kami memesan mie pangsit. Selain mie pangsit, mereka juga menjual bakso goreng, bakso kuah, dan mie komplit. Semuanya tampak menggiurkan. Mie Rama Jember memiliki tekstur mie yang pas, tidak keras dan tidak lembek. Topping daging cincang ayam dan babinya pun enak. Biasanya saya tidak begitu suka makan pangsit kuah karena isinya hanya tepung. Namun pangsit dari mie Rama ini terasa dagingnya. Awalnya kami pikir tidak mungkin habis karena kami lebih merasa ngantuk daripada lapar, tetapi karena kelezatan mie-nya, anak-anak doyan sekali mie yang ini, mie Rama kami habis ludes.
Mie Rama Jember
Bakmi manakah yang menjadi juara selama festival ini? Hmm... Agak susah untuk menjawabnya, karena kami penggemar bakmi. Bagi penggemar topping, bakmi sinar khek memberikan topping yang banyak dan enak. Bagi yang suka bakmi warna-warni, Cliff Noodl Bar mempunyai pilihan warna yang bermacam-macam. Bagi yang suka bakmi tanpa kecap manis dan daging cincang, mie Rama Jember patut dicoba :)





Wednesday, November 1, 2017

Pesta Bakmi di Tirta Lie Festival 2017 (part 1)

50 Bakmi terlezat di Tirta Lie Festival
Siapa sih yang tidak suka mie? Hampir semua orang menyukai bakmi. Kami pun penggemar mie, apapun bentuknya. Setiap kali kami bertamasya ke negara di Asia, pasti kami mencoba mie yang ada. Oleh sebab itu saat teman gereja kami, seorang food blogger, memberi tahu tentang event Tirta Lie Festival, kami semangat untuk mengunjunginya. Walau kami tidak tahu kenapa namanya Tirta Lie Festival, karena judulnya ada 50 bakmi terlezat di Jakarta, maka kami semangat untuk makan dan mencicipi bakmi-bakmi yang susah untuk kami jangkau. 

Siapakah Tirta Lie? Apakah dia jualan bakmi? Berdasarkan info dari teman, Tirta Lie itu bukan penjual bakmi. Sedikit sejarah tentang bakmi, berdasarkan wikipedia, bakmi adalah salah satu jenis sajian mi yang dipopulerkan oleh pedagang-pedagang Tiongkok ke Indonesia. Bakmi mempunyai berbagai jenis bentuk mie, ada yang lebar, tipis, reguler, dan sebagainya. Kembali ke Tirta Lie, Tirta Lie adalah seorang penggemar bakmi juga. Karena kesukaannya akan bakmi, Tirta Lie mengumpulkan bakmi-bakmi yang menurutnya enak. Dan ternyata setiap tempat bakmi yang disebut enak oleh Tirta Lie menjadi tempat referensi bagi penggemar bakmi lainnya. Sampai akhirnya pria kelahiran Jakarta ini mendapatkan penghargaan dari Museum Rekor Dunia Indonesia atas rekor pengunjung dan peresensi bakmi terbanyak. 

Kamipun merencanakan untuk pergi hari di hari pertama Festival ini dimulai. Maksudnya supaya bisa sering-sering berkunjung untuk menyicipi bakmi-bakmi ini. Saat kami tiba di MOI, kami langsung menuju lantai 2. Di lantai ini sudah tersedia meja dan bangku dan juga panggung. Kami berkeliling terlebih dahulu untuk melihat-lihat. Walau belum jam makan malam, namun tempat mereka sudah ramai dengan pengunjung. Untuk membeli, sistemnya sama dengan food court di Taman Anggrek. Uang Rupiah kita harus ditukarkan dengan uang berlogo Tirta Lie festival. Harga makanan berkisar antara 10 sampai 60 ribu rupiah.
Ramainya walau masih pukul 17.30
Tempat penukaran uang, berdampingan dengang panggung.
Penyusunan yang membedakan area bakmi halal dan non halal memudahkan bakmi lovers menikmati bakmi mereka tanpa harus kuatir akan kehalalannya. Berdasarkan pengamatan, bakmi Alok memenangkan polling sebagai bakmi favorit kemarin. Berikut data bakmi halal dan non halal. 
Mata uang yang berlaku.
Halal:
Bakmi Ayam Alok
Bakmi Roemah Ganyem ( Hary Joe )
Bakmi Daging Sapi & Babat 69
Bakmi RaNda ( Nicholas Indra Lukman )
Warung Mie Atom ( Sony Herianto )
Mee Macau ( Sute Darmawijaya )
Mie Kangkung Berkat ( Ferny Tjahjadi )
Bakmi Belitung ( Indra Wijaya )
Bakmi Ayam Honey
Bakmi Siantar Ko Fei 
Mie Zhou ( Mie Zhou )
Bakmi Dower Mama Pipi ( Elisa Iskandar )
Mipolo by Yen Pao ( Candra Alamsyah )
Bakmi Luck 28 ( Andri Diputra )
Pangsit Mie 168 ( Yolanda Effendi )
Area bakmi halal
Non Halal:
Bakmi Ahau Lanang ( Juli Ardi )
Bakmi Wie Sin
Bakmi Terang Bulan
Bakmi Anen ( Venico Hindarta )
Yie Thou ( Sandi Budianto )
Bakmi Medan ( Elias Laba )
Bakmi Nyan Long ( Tjiu Tjen )
Bakmi Ong ( Skd Oi )
Bakmi Qiu Qiu ( Hanny Hutama )
Bakmi Putra Mahkota ( Novans Cullinary )
Bakmi Shanghai ( Roby Knk )
Bakmi Sinar Khek 
Bakmi Singkawang A'Ang 51 ( Andy Wijaya )
Cliff Noodl Bar ( Andereas Tjoe )
Bakmi Gocit ( Anton Lynx )
Mie Benteng ( Martinus Triyono )
Hongkong Kitchen ( Billy Keren )
Bakmi Sin Lun
Bakmi Medan Kebon Jahe
Bakmi Mercon Ha-eL
Bakmi Afung ( Harni Siauw Bakmi Afung )
Bakmi Kaheng
Sir Babi Ol Pok ( Rio Gunawan )
Bakmi Lie
Bakmi Lihai
69 Mie Tarek Medan
Bakmi Cong Sim
Bakmi Bakar Bodudz
Bakmi Sinar Rezeki ( Ho Soeifat )
Kedai Tang ( Hanny Stefhan )
Bakmi Encim Anggur
Bakmi Shang Hie ( Handy Susanto )
Baji Pamai
Mie Rama Jember
Bakmi Kencana
Bakmi non halal.
Karena banyaknya pilihan, kami pun bingung mau memilih yang mana. Setelah mempertimbangkan matang-matang, seperti para wakil rakyat, dan karena lebih sering makan bakmi yang halal, maka kali ini kami pun mencoba untuk makan bakmi non halal. Pilihan kami jatuh ke bakmi Sinar Khek, bakmi medan Kebon Jahe,dan bakmi Shanghai. Maunya sih pesan lebih banyak lagi, tetapi apa daya perut tidak sebesar itu.

Dari namanya, bakmi Sinar Khek menunjukkan ciri bakmi orang Hakka. Sebagai orang hakka, sayapun penasaran dengan bakmi ini. Biasanya bakmi khek hanya berisi daging cincang sebagai topping dari bakmi. Namun di bakmi Sinar Khek, topping yang diberikan bukan hanya daging cincang namun juga chasiu (daging panggang merah), samchan garing, kekian garing, dan bakso ikan. Mereka juga menjual sate babi, bakso goreng, dan juga siomay. Bakmi Sinar Khek ini mempunyai beberapa cabang, salah satunya di Pasar MOI.
Bakmi Sinar Khek, ada sate babi madu juga loh.
Pilihan kedua kami adalah bakmi medan Kebon Jahe. Ciri khas bakmi Siantar adalah bakminya. Namun kali ini kami memilih kwetiau sebagai pengganti mi. Topping yang diberikan pun kurang lebih sama, yaitu chasiu (daging panggang merah) dan daging ayam. Namun bawang goreng yang diberikan sangat banyak, sehingga menambah wangi bakmi Kebon Jahe ini. Bakmi Medan Kebon Jahe juga mempunyai banyak cabang, salah satunya di jalan Boulevard Raya Kelapa Gading.
Bakmi Medan Kebon Jahe, acar cabenya menggoda hati.
Pilihan ketiga kami adalah bakmi Shanghai. Bakmi Shanghai ini menawarkan berbagai pilihan mie, salah satunya yang menarik kami adalah bakmi hijau. Topping-nya pun bermacam-macam, ada jamur, daging, bakso, atau mix ketiganya. Kami memilih mix ketiganya untuk mengetahui rasanya. Bakmi Shanghai juga memiliki beberapa cabang, salah satunya di Muara Karang. Kami sempat berbincang degan pemiliknya, dan dia berkata bahwa mereka juga menjual mie mentah. Banyak penjual mie membeli mie mentah mereka. Kami diberitahu perbedaan mie telur yang bagus dengan mie telur yang kurang bagus. Mie telur yang bagus akan berat karena banyak telurnya. Sehingga 1 kg mie telur yang bagus tidak akan sebanyak 1 kg mie telur yang kurang bagus. 
Bakmi Shanghai
Setelah semua makanan datang, kami pun memakan bersama-sama. Tujuannya supaya bisa saling nyicip. Untuk bakmi Sinar Khek, walau mie-nya tidak terlalu empuk dan hampir mirip mie karet, namun topping-nya sangat enak dan tidak manis. Saya yang biasanya tidak mencari samcan pun bisa makan samcannya. Untuk bakso ikannya sih kurang enak bagi kami, lebih terasa tepungnya. Kuah dari bakmi ini kurang enak karena terasa berminyak di mulut. 
Bakmi Sinar Khek.
Sedang bakmi medan Kebon Jahe, rasanya ternyata tidak se-wah review banyak orang. Mungkin karena kami memesan kwetiaunya. Kuahnya enak dan disukai anak-anak. Acar cabenya pun enak sekali. 
Bakmi Medan Kebon Jahe.
Bagaimana dengan bakmi Shanghai? Rasa mie hijaunya sama seperti rasa mie kuning dan topping-nya lebih terasa manis dibandingkan kedua bakmi sebelumnya. Bakmi Shanghai menang di porsi yang lumayan besar. Dari ketiga bakmi yang kami pesan, kuah dari bakmi Shanghai yang paling saya suka.
Bakmi Shanghai.
Hasil perbandingan dari ketiganya, pilihan yang paling enak buat anak-anak adalah bakmi Sinar Khek. Mungkin karena dibanding ketiganya bakmi Sinar Khek yang paling tidak manis dan garing toppingnya. Juara kedua di menu yang kami pesan adalah bakmi medan Kebon Jahe. 

Perburuan kami kemarin selesai. Namun kami berencana untuk datang lagi dan menyicipi bakmi lainnya. Apalagi festival ini akan terus dilaksanakan sampai tanggal 5 November nanti. 
Waktunya bakmi lovers berpesta :)


Tirta Lie Festival 
Tanggal 1 - 5 November 2017
Mall of Indonesia lantai 2
10.00 - 22.00
Tirta Lie Festival. Sumber foto: Tirta Lie

Monday, October 23, 2017

Birthday Treat at Holycow Sabang


Kalau ditanya pernah dengar nama Holycow, kami pasti menjawab pernah. Tetapi jika ditanya pernah makan di sana? Jawaban kami selalu belum. Ada rencana? Belum juga. Namun akhirnya bulan lalu kami mencoba untuk makan di sana.

Diawali oleh teman baik kami di gereja yang menceritakan bahwa Holy Cow mempunyai promo free menu untuk pengunjung yang berulang tahun, kami jadi penasaran. Apalagi Duo D, teman baik Duo Lynns, selalu bercerita bahwa saat ulang tahun, mereka akan pergi ke Holycow. Akhirnya kami pun mencoba untuk pergi ke sana. Awalnya kami mau mencoba saat ulang tahun kakak, namun karena satu dan lain hal kami tidak jadi pergi. Akhirnya kami kesampaian juga ke sana saat ulang tahun papa. 

Holycow sudah ada sejak tahun 2010, dengan bentuk warung tenda di daerah Radio Dalam. Karena penggemarnya yang banyak, akhirnya berkembang menjadi tempat makan. Bagi yang belum pernah ke Holycow, seperti kami, pasti tidak tahu kalau Holycow itu ada dua jenis. Yang pertama Steakhouse by Chef Afit dan yang kedua Steak Hotel. Apa sih perbedaannya? Seperti rumah makan Nyonya Suharti yang satu logonya ayam dan yang satu logonya nyonya karena pecah kongsi, Holycow juga mengalami hal yang sama. Pecah kongsi ini terjadi di tahun 2012 dan  menjadi Steakhouse by Chef Afit dengan logo kepala sapi yang dipegang oleh pasangan suami istri Afit-Lucy dan steak hotel Holycow dengan logo sapi secara utuh yang dipegang oleh pasangan suami istri Wanda-Wynda .
Kiri: logo steak hotel Holycow. Kanan: Logo steak house Holycow
Apa saja yang disajikan di situ? Namanya juga steak, ya berarti jualannya tidak jauh-jauh dari western food seperti steak, burger, dan side dish ala western seperti onion ring, fries, wedges, sautee, sosis dan sebagainya. Saat kami melihat menu, pilihan daging yang ada adalah sapi, ayam, dan domba. Kebanyakan memang menu sapi, baik lokal maupun nonlokal. Katanya sih di sini yang paling terkenal adalah wagyu-nya. Sedangkan bagi yang berulang tahun, Holycow memberikan free menu holychicken burger.
Atas: fried mushroom with cheese sauce. Bahwa: plater.
Beef steak, wagyu dan sirloin
Kami mengunjungi Holycow TKP Sabang. TKP di sini bukanlah Tempat Kejadian Perkara, melainkan Tempat Karnivora Pesta. Kreatif juga sih menggunakan istilah TKP dan bukannya cabang. Holycow di Sabang terletak di lantai 5 gedung Seremanis. Di lantai 5 ini ada dua section yang tersedia, indoor dan outdoor. Yang outdoor lebih seperti rooftop garden. Rasanya seru sih makan di luar, tetapi ternyata di luar itu pengunjung boleh merokok. Kami membatalkan niat kami untuk makan diluar dan memilih untuk makan di dalam.
Suasana rooftop garden Holycow Sabang
Menurut bocoran dari Duo D, walau namanya burger, namun porsinya lumayan besar. Berhubung pudding ulang tahun papa masih menanti kami di rumah, kami hanya memesan satu tambahan menu yaitu chicken steak. Toh kalau ternyata kurang kenyang, kami masih mendapatkan dessert sebagai freebies kami. Untuk kentangnya, kami mencoba mashed potato dan french fries. Kami tidak perlu menunggu terlalu lama dan datanglah chicken steak kami. Tidak lama setelah itu, burger chicken datang juga.
Chicken Steak, agak pucat tanpa wortel
Burger yang datang lumayan besar, dan kentangnya yang banyak merupakan nilai tambah untuk anak-anak. Bagaimana rasanya? Duo Lynns langsung bilang enak. Dan memang ayamnya ada rasa alias tidak hambar, tanpa saosnya pun tetap enak. Saos yang kami pilih adalah mushroom sauce, supaya anak-anak bisa makan. Jarang-jarang kakak suka saos yang creamy, namun kali ini dia suka saosnya. Bagi saya, tampilannya memang agak pucat, namun rasa bayamnya mantap dan enak sekali. Walau ditumis, tetapi bayamnya empuk. Mashed potatonya pun lumayan rasanya.
Holychicken burger dengan hujaman pisau =D
Untuk dessert, Holycow menyediakan ice cream dan cake. Berhubung cake sudah habis, makanan di sini cepat habisnya, maka kami memilih ice cream vanilla. Ice cream vanillanya cukup lembut dan diakhiri dengan permintaan anak-anak untuk nambah lagi.
Dessert dan pilihan minuman yang ada
Ada juga Kids meal 
Pengalaman pertama kami dengan Holycow cukup menyenangkan. Kami pulang dengan hati senang karena dapat free menu dan perut yang kenyang. Mungkin lain kali kami akan mencoba menu sapinya, di TKP lainnya yang mudah parkir. ;)
Mickey Mouse Matcha Pudding buatan Duo Lynns yang menanti kami di rumah
Sumber foto: Steak Hotel by Holycow.

Steak Hotel by Holycow TKP Sabang
Website: www.holycowsteak.com
Alamat: Gedung Sere Manis lantai 5
Jl. K.H. Agus Salim no 16, Kebon Sirih. Jakarta Pusat. 10340
No telp: 021-31906420
Jam buka: 11.00 - 22.00