Friday, March 15, 2019

Review Avenue J Hotel

Avenue J Hotel
Seperti disebutkan dalam artikelsebelumnya, Chinatown selalu identik dengan hotel. Dan memang biasanya ada banyak pilihan hotel, dari yang wah sampai yang biasa. Dari yang murah sampai yang mahal, semua ada di Chinatown. Salah satunya adalah Avenue J Hotel.

Hotel yang satu ini terletak di dekat Central Market, Chinatown dan Dataran Merdeka. Lingkungan hotel ini terlihat lebih elit dibanding Ahyu Hotel, hotel yang pertama kali kami tempati saat tiba di Kuala Lumpur. Gedungnya pun terlihat megah dengan cat putihnya.

Saat kami tiba, staff yang ada menyambut kami. Proses check in berlangsung dengan cepat dan sama seperti sebelum-sebelumnya, kami harus mengeluarkan biaya tambahan untuk pajak hotel. Kami pun diantar oleh salah satu staf ke kamar kami.
Lobby dan cafe di dalam. Terkesan modern dan nyaman.
Seperti biasa, karena kami hanya menggunakan kamar untuk tidur malam saja, kami pun memilih kamar tanpa jendela. Pengalaman kami selama ini, baik saat menginap di guesthouse atau hostel di Seoul, hotel di Singapore, dan AhyuHotel, walau kamar kami tanpa jendela, namun selalu bersih. Kami pun memilih hal yang sama dengan Ahyu Hotel. Namun nampaknya kali ini pilihan kami salah.

Bau apek dan lembab tercium saat kami memasuki kamar yang diberikan kepada kami. Bahkan kami dapat melihat debu di sudut-sudut ruangan. Untung hanya satu malam, kata Papa. Namun ternyata kejutan yang kami dapatkan bukan hanya itu.
Kamar mandi tanpa sekat.
Tiba-tiba lampu mati. Dan tidak lama kemudian menyala kembali. Hal ini terjadi beberapa kali dalam lima menit pertama. Akhirnya kami pun menelpon resepsionis dan menjelaskan kejadian yang ada. Teknisi pun segera datang memeriksa dan berkata jika lampu mati dan nyala ini terjadi lagi berkali-kali dalam beberapa menit, maka kami diminta untuk menghubungi resepsionis agar dipindahkan kamar. Akhir dari babak ini pastilah sudah tertebak, kami harus menelpon untuk minta dipindahkan kamar.

Kamar baru yang kami tempati pun tidak jauh berbeda keadaannya dengan kamar sebelumnya. Di sudut-sudut ruangan pun terlihat debu. Bantal yang diberikan pun bau apek. Untuk kualitas hotel, kamar ini tidak nampak seperti kamar hotel.
Complementary drink dan perlengkapannya. 
Yang menghibur kami adalah lukisan yang ada di dinding. Setiap kamar mempunyai gambar berbeda-beda. Setiap gambar tersebut menarik untuk dilihat. Yah, selalu ada sisi positif dari segala hal, bukan?
Ikan Paus penghibur kami 
Untuk sarapan, di hotel ini disediakan sarapan. Tempat sarapan ini berada di lobby hotel. Tetapi jika tidak memesan sarapan, di sekitar sini banyak tempat makanan, namanya juga Chinatown. Selalu banyak tempat kuliner, bahkan di depan hotel ini pun ada Café Old Market Square.

Kesimpulannya, never judge the hotel from its building. Dibanding dengan pengalaman kami saat di Ahyu, kami lebih merasa nyaman saat di sana walaupun dari luar tidak terlihat seperti hotel. Namun nilai tambah saat di Avenue adalah staf yang ada sangat ramah, baik terhadap kami maupun terhadap anak-anak. Mungkin saja kondisi kamar yang berjendela akan lebih baik dibanding kamar yang tidak berjendela. Jadi jika memang mencari hotel yang dekat sekali dengan Chinatown dan Dataran Merdeka ini, kami sarankan untuk memilih kamar yang berjendela. :)

Sekilas Informasi
Avenue J Hotel
Website: www.avenuejhotels.com
Alamat: 13, Leboh Pasar Besar, City Center, Kuala Lumpur

Tuesday, February 26, 2019

Kuliner di Chinatown Kuala Lumpur


Kalau mendengar kata Chinatown, pasti yang terbayang adalah tempat penginapan, kuliner, baik halal maupun non halal dan juga belanja. Hal ini sangat wajar karena memang yang namanya Chinatown selalu penuh dengan tempat makan dan barang-barang yang dapat dibeli. Tidak heran banyak orang yang suka menginap di daerah Chinatown supaya puas belanja dan juga kulineran.

Saat kami mengunjungi Kuala Lumpur kemarin, kami tinggal di daerah Chinatown. Chinatown di Kuala Lumpur tidaklah jauh berbeda dengan Chinatown pada umumnya, penuh dengan orang-orang yang ingin berbelanja dan kulineran. Berhubung kami tidak terlalu suka belanja, maka kami pun menjelajah Chinatown untuk berburu makanan. Ada dua tempat yang sempat kami kunjungi saat berada di Chinatown.

1. Shin Kee Beef Noodle
Shin Kee Beef Noodle
Tempat makan ini tidaklah sebesar yang kami bayangkan. Namun tempat ini terlihat sudah tua dan rasanya cukup terkenal. Tidak seperti tempat makan mie lainnya, Shin Kee Beef Noodle terkenal dengan mie berisi topping sapi dan olahannya seperti baso atau daging sapi. Saat kami datang, auntie yang ada memberikan menu dan kotak berisi pilihan mie. Nampaknya mie dapat diganti dengan mie lebar, kuetiau, ataupun bihun.
Shin Kee di masa dulu.
Bayar dulu baru makan ya ;)
Dari pilihan yang ada, nampaknya pemesan dapat memesan mie dengan kuah atau mie tanpa kuah. Kami memesan mie dengan kuah. Harganya cukup murah yaitu 8 RM untuk ukuran regular atau 10 RM untuk ukuran besar. Sedangkan untuk minumannya, Saat mie datang, kami pun segera menyantapnya. Dan Memang tidak heran jika review tempat makan ini begitu bagus. Baksonya begitu lembut dan terasa dagingnya. Sedangkan daging sapinya pun empuk. Kalau kata adik, lain kali harus ke sini lagi untuk makan noodle.
Mie dengan bakso sapi. 
Mie dengan daging cincang dan irisan daging sapi 

Shin Kee Beef Noodle
Alamat: Jalan Tun Tan Cheng Lock City Centre, Kuala Lumpur
Jam operasional: 10.30 – 19.00

2. Café Old Market Square
Cafe Old Market Square
Café yang sudah ada sejak tahun 1928 ini dulunya dikenal sebagai Kedai Kopi Sin Seng Nam. Kedai kopi ini dibuka oleh imigran dari Hainan, Chung Yu Ying dan saudara-saudaranya. Walau kedai kopi ini sangat terkenal, setelah beroperasi selama 85 tahun, kedai ini tutup di tahun 2003. namun di tahun 2014 kedai ini kembali dibuka dan dikenal sebagai Old Market Square, karena bangunan yang digunakan ini dulunya berada di wilayah pasar, sebelum Central Market dibangun.

Seperti layaknya kedai kopi, maka kafe ini beroperasi dari pagi. Kebanyakan yang makan adalah para karyawan yang akan pergi ke kantor. Menunya pun bervariasi dari menu sarapan seperti toast, telur setengah matang, nasi lemak, yong tau foo, chi chong fan, hingga makanan untuk makan siang seperti nasi hainan, steak, mee rojak, mee rebus, dan buah-buahan. Karena kami datang di pagi hari, maka kami pun memesan nasi lemak dan toast serta breakfast set.
Toast pesanan kami.
Breakfast set. Sayang nasi lemaknya sudah habis sebelum difoto. 
Untuk rasa, menurut kami rasanya cukup standard seperti Ya Kun Kaya Toast. Bahkan nasi lemaknya menurut kami lebih enak daripada nasi lemak yang kami makan saat di hotel ataupun di Malaka. Mungkin karena rasanya mirip kayak nasi lemak yang ada di Indonesia. Namun yang cukup mengejutkan adalah harganya yang cukup murah. Bahkan rasanya lebih murah daripada di Indonesia.

Café Old Market Square
Alamat: 2, Medan Pasar, City Centre, Kuala Lumpur
Jam Operasional: 07.00 – 18.00 (Hari Sabtu dan Minggu tutup)

Dari dua tempat yang sempat kami kunjungi, sebetulnya masih banyak daftar tempat kuliner lain yang belum sempat kami coba (karena hujan yang mendadak turun begitu deras). Mungkin di lain waktu kami akan kembali berkeliling untuk kulineran di Chinatown.

Wednesday, February 20, 2019

KLCC Suria dan Twin Tower


Jika kita berbicara tentang negara tetangga, maka rasanya semua orang sepakat bahwa saat mendengar kata Singapore yang terbayang adalah Merlion. Sedangkan saat mendengar kata Malaysia, apakah yang terbayang? Ada begitu banyak yang dapat menjadi icon dari negara yang satu ini, dari Dataran Merdeka, KL Tower, Sultan Abdul Samad, hingga Twin Tower dan KLCC Suria. Dan tentunya bagi yang baru pertama kali datang ke KL, seperti saya dan anak-anak, haruslah mengunjungi tempat-tempat ini.

Setelah konferensi di Malaka selesai, kami pun menyempatkan diri untuk main-main di KL lagi. Alasan awalnya sih karena pesawat dari KL ke Jakarta di hari Minggu lumayan mahal dan selisih tiket hari Minggu dan hari Senin bisa digunakan untuk menginap di hotel sebanyak 3 hari. Jadi akhirnya kami pun memutuskan untuk menginap di KL semalam di hari Minggu sehingga dapat melihat-lihat dua icon diatas.

Kami berencana untuk mampir ke Twin Tower dari sore hari. Tujuannya supaya kami dapat berfoto dengan dua view, saat matahari masih ada dan saat matahari mulai terbenam. Namun manusia hanya dapat berencana, Tuhan yang menentukan. Minggu sore itu hujan turun dengan lebatnya, pake banget, sampai kami pun basah terkena tampiasan hujan (yang ternyata setelah kami pulang ke Jakarta, kami membaca berita bahwa hujan yang sama ini membuat underpass di dekat KLCC terendam air). Kami pun akhirnya manis-manis di hotel sambil menunggu hujan reda.

Setelah hujan mereda, kami pun akhirnya pergi ke KLCC Suria. Untuk menuju KLCC Suria, sebetulnya kami dapat saja menaiki GOKL. Namun karena malas berputar-putar, kami pun memilih naik LRT dari Masjid Jamek ke KLCC Suria. Cukup sekali naik dan tidak usah berganti jalur.
Performance di LRT KLCC 
KLCC Suria merupakan salah satu pusat perbelanjaan yang terdiri dari enam lantai. Lokasinya yang berada di bawah Petronas membuat mall ini membuat orang yang mengunjungi mall ini sekalian berfoto di Twin Tower. Di dalam mall yang sudah ada sejak tahun 1999 ini terdapat Aquaria KLCC dan Petrosains atau science center. Alternative tempat hiburan untuk anak-anak jika mengunjungi KLCC Suria. Mall ini dibagi menjadi tiga bagian, yaitu Ampang Mall, Park Mall, dan Ramlee Mall. Jadi kalau masuk ke dalam dan melihat nama-nama tersebut, jangan berpikir kalau kita salah masuk mall (seperti saya) =D

Selain itu, di bagian luarnya terdapat taman KLCC yang cukup luas. Biasanya pukul delapan malam akan ada pertunjukan lampu dan laser di danau di taman ini. Kalau kata papa, spot yang paling bagus untuk berfoto dengan latar belakang Twin Tower adalah dari taman ini. Saat kami tiba, banyak orang yang berdiri di pelataran mall yang mengarah ke taman ini. Ternyata hujan masih turun sehingga mereka menunggu hujan berhenti untuk kembali jalan-jalan di taman ini.

Kami pun memutuskan untuk makan malam dahulu. Siapa tahu setelah makan, hujan sudah reda. Sebagai mall besar, pastinya ada banyak pilihan makan di KLCC Suria, dari western hingga eastern, bahkan masakan Indonesia pun juga ada. Pilihan kami adalah Signatures Food Court yang berada di lantai 2. Katanya sih di salah satu sudut lantai ini, ada spot untuk melihat ke taman dan dapat melihat pertunjukan lampu.
Ipoh Noodle
Fish Ball and Wanton Noodle
Suasana di Food Court
Saat kami selesai makan, ternyata hujan di KL mirip dengan hujan di Jakarta, suka awet. Akhirnya kami berputar-putar di dalam mall dan supermarket. Kami pun menyerah dan kembali ke hotel. Sambil berharap siapa tahu besok cerah.

Keesokan harinya cuaca jauh lebih cerah daripada kemarin. Setelah makan pagi di daerah Chinatown, kami pun kembali naik LRT menuju KLCC. Tujuan kami jelas, yaitu untuk berfoto dengan background Twin Tower.

Twin Tower yang disebut juga Petronas Twin Tower ini sebenarnya adalah dua gedung perkantoran yang identik bentuknya. Oleh karena itu dua gedung ini disebut Twin Tower. Gedung ini terdiri dari 88 lantai mempunyai ketinggian 452 meter dan dihubungkan dengan sky bridge yang panjangnya 58 meter. Gedung pertama digunakan oleh perusahaan minyak Petronas dan perusahaan-perusahaan Malaysia yang berasosiasi dengan Petronas. Sedangkan gedung kedua digunakan oleh perusahaan multinasional.

Twin Tower yang diresmikan pada tahun 1998 terkenal sebagai gedung tertinggi mengalahkan rekor sebelumnya yang dipegang oleh Willis Tower di Chicago yang panjangnya 442 meter. Tetapi pada tahun 2004, Twin Tower tidak dikenal lagi sebagai gedung tertinggi di dunia karena adanya Taipei 101 yang tingginya 508 meter.
Twin Tower dari sisi depan. 
Kami pun berfoto dari depan gedung perkantoran ini. Namun hasilnya memang tidak begitu bagus. Akhirnya kami pun masuk kembali ke dalam mall untuk menuju Taman KLCC. Ternyata jam buka Taman KLCC ini lebih awal dari jam buka KLCC Suria. Dan saat kami tiba, ada banyak mahasiswa IPB yang berada di dalam taman ini. Mungkin ada karya wisata.
Akhirnya dapat berfoto juga di sini. Terima kasih kakak mahasiswa :)
Karena waktu yang terbatas, kami pun segera kembali ke hotel untuk segera menuju bandara. Mungkin lain kali kami sempat untuk berfoto di taman ini saat malam hari. :) 
Taman KLCC

Friday, February 8, 2019

Review Ibis Hotel Malaka

Masih mengenai penginapan di Malaka, saat di Malaka kemarin, selain menginap di SGI Vacation Club, kami pun menginap di hotel Ibis Malaka. Mengapa? Alasan sederhananya adalah karena Family Conference yang kami ikuti diselenggarakan di hotel tersebut. Melihat jadwal yang padat, ditambah lagi banyaknya kegiatan di malam hari, kami pun memutuskan untuk mengikuti keluarga yang lain tinggal di hotel tersebut. Keputusan kami tepat dan kami pun sangat menyukainya.
Lobby hotel yang langit-langitnya mirip dengan Venesian 
Ibis Malaka terletak di Little India, tepatnya di Jalan Bendahara. Hotel ini berjarak kurang lebih 800 meter dari pusat historical site dan Jonker Street. Walaupun terkesan lumayan jauh, namun ternyata tidak sejauh yang dibayangkan. Apalagi kami berjalan melalui riverside. Dapat dikatakan Ibis Melaka termasuk strategis.

Hotel ini memiliki 6 tipe kamar. Kami memilih standard room dengan 2 ranjang berukuran single. Kamar ini berukuran 22 meter persegi, yang menurut kami cukup luas (akibat terbiasa menginap di guesthouse). Di dalam kamar disediakan kulkas mini yang lumayan untuk menyimpan minuman-minuman. Kamar yang kami tempati pun bersih dan menyenangkan.
Kamar mandi yang unik dengan lantai dari 'bata'
Kamar Standard dengan 2 ranjang. 
Bagaimana untuk makanan? Ibis Malaka mempunyai restoran yang bernama Ibis Kitchen. Di pagi hari restoran ini menyediakan berbagai macam makanan. Dari ala Chinese Food seperti dimsum, ala western, hingga ala Melayu pun ada. Sayangnya untuk anak-anak yang berusia diatas 5 tahun sudah dikenakan biaya setengah harga dari harga yang orang dewasa.
Ibis Kitchen di pagi hari. Masih sepi 
Selain itu, karena lokasinya yang strategis, kami pun dapat mencari makan di sekitar tempat ini. Di samping hotel terdapat kedai Chinese food yang makanannya enak dan harganya murah. Beberapa toko di sebelah hotel pun terdapat Saravanna yang menual makanan India. Sedangkan di ujung jalan Bendahara terdapat Chicken Rice Ball Famosa. Dan dua blok setelah itu terdapat food court yang menjual banyak makanan seperti laksa, wanton noodle, dan coconut shake. Intinya, banyak sekali makanan di sekitar hotel ini.
Restoran India, agak mirip dengan Restoran Padang
Selain tempat makan, di sekitar hotel pun terdapat banyak toko. Di seberang hotel terdapat bakery dengan kue-kue yang enak dan murah. Masih di deretan yang sama juga terdapat klinik dan toko obat. Di deretan itu juga terdapat minimarket 7-11. Jika ingin mencari oleh-oleh, ternyata di dekat sini juga terdapat Tan Kim Hock, tempat snack dengan harga yang murah.
Kedai di dekat hotel Ibis  
Selain lokasi dan kebersihan, kami juga menyukai keramahan staf yang ada. Salah satu staf di sini adalah orang Indonesia asal Medan. Ternyata banyak orang Medan yang bekerja di Malaka. Hal ini wajar karena jarak dari Medan ke sini cukup dekat.

Pengalaman kami tinggal di sana selama empat hari cukup menyenangkan. Nampaknya hotel ini pun dapat menjadi alternatif bagi para traveler yang menginap di Malaka.
Ibis Malaka

Friday, January 25, 2019

5 Things to Do in Jonker Street


Jonker Street merupakan salah satu daya tarik bagi wisatawan yang mengunjungi Malaka. Selain letaknya yang berdekatan dengan banyak historical site, Jonker Street juga merupakan jalan utama Chinatown. Pada awalnya, Jonker Street dikenal sebagai tempat penjualan barang-barang antik. Namun setelah beberapa tahun berlalu, jalan ini pun dikenal sebagai tempat jualan barang-barang souvenir dan juga tempat restoran-restoran.

Selama kami berada di Malaka, kami mengunjungi Jonker Street sebanyak empat kali, dengan waktu yang berbeda-beda. Dari hasil kelayapan selama empat kali di sana, kami mendapatkan bahwa di hari-hari biasa jalanan ini tidaklah seramai yang dibayangkan. Mendekati malam hari, tidak banyak toko yang buka. Jonker Street akan sangat ramai saat Jonker Night Market diadakan di hari Sabtu malam. Apa saja yang dapat dilakukan di Jonker Street?

1. Mencari oleh-oleh
Tempat oleh-oleh yang juga ada mainan anak-anak.
Di Jonker Street kita dapat menemukan berbagai macam oleh-oleh. Dari baju, gantungan kunci, hiasan meja, baju, tempelan magnet, hingga mainan anak-anak, semuanya ada di sini. Dan seperti hasil perburuan kami kemarin, harga souvenir di Jonker jauh lebih murah daripada di tempat wisata yang lain. Selain barang, di sini pun banyak makanan yang dapat dibeli untuk dibawa pulang. Dari cemilan seperti kripik hingga gula Malaka yang terkenal.

2. Hunting makanan khas Melaka
Kedai Kopi Chung Wah. Sumber foto: malacca.ws
Makanan di Malaka ini dipengaruhi oleh berbagai kebudayaan seperti makanan India, Chinese food, hingga masakan Melayu. Makanan yang paling terkenal di Jonker Street adalah masakan nyonya seperti nasi lemak, dan juga chicken rice ball. Kami sempat mencoba nasi lemak di Melting Pot. Untuk rasa, saya masih lebih suka nasi lemak di Indonesia, lebih gurih.
Nasi Lemak
Sedangkan untuk chicken rice ball, salah satu restoran yang sempat kami coba adalah A Famosa. Bukan hanya chicken rice ball yang enak, ternyata bakso dan tahu di sini juga enak loh. Selain A Famosa, ada satu restoran yang cukup terkenal yaitu Chung Wah. Sayangnya kami tidak berkesempatan mencoba karena antrian yang begitu panjang.  

Selain makanan, Malaka juga terkenal dengan es cendol Malaka dan coconut shake. Di sepanjang jalan Jonker ini ada banyak kedai yang menjual kedua minuman tersebut.

3. Mengunjungi Cheng Ho Cultural Museum
Muzium Budaya Cheng Ho 
Museum Cheng Ho merupakan galeri yang berisi kisah laksamana Cheng Ho. Kami cukup kaget juga saat tahu ada museum Cheng Ho di Malaka ini. Rupanya Cheng Ho memang terkenal bukan hanya di Semarang, namun juga di Malaka. Di museum yang dibuka pada Februari 2003 ini dipaparkan kisah pelayaran beliau ke lautan Selatan di samping kejayaan beliau membina hubungan persaudaraan antara China dengan negara-negara Afrika dan Asia.

Untuk masuk ke museum ini dikenakan biaya 10 RM untuk dewasa dan 4 RM untuk anak-anak. Walau museum ini beroperasi dari jam 09.00 – 17.30, namun saat kami lewat tempat ini sebelum jam 17.00, museum ini sudah tutup. Kami sarankan sih untuk mengunjungi sebelum pukul 16.00.

4. Naik Becak Wisata menuju atau dari Jonker Street
Naik becak wisata :)
Becak Wisata ini memang tersebar hampir di setiap tempat wisata di Malaka. Kami pun akhirnya sempat mencoba naik becak wisata ini saat kami mau berjalan ke Jonker Street. Bersyukur kami mendapatkan abang becak yang mau yang becaknya lumayan besar dan mau mengangkut kami berempat. Sepanjang perjalanan, kami dihibur oleh lagu Mandarin.

Untuk yang suka belanja, naik becak wisata juga dapat menjadi opsi yang baik. Daripada repot menenteng belanjaan, naik becak wisata menuju hotel pun lumayan menolong supaya tidak lelah.

5. Mengikuti Workshop di Mamee Jonker House
Mamee Cafe
Mamee Jonker House atau Mamee Cafe ini berisikan produk-produk Mamee. Di bagian depan cafe ini terdapat berbagai cemilan Mamee dan teman-temannya yang dijual dalam bentuk paket. Ternyata produk Mamee itu bukan hanya cemilan, tetapi juga cup noodle. Di Café ini cukup banyak makanan dan minuman yang ditawarkan. Namun memang lebih mengarah ke dessert. Harganya termasuk tidak mahal tetapi juga tidak murah.
It's all about noodle
Di bagian atas cafe yang dibuka sejak November 2013 ini terdapat noodle workshop yang dapat diikuti anak-anak. Untuk mengikutinya pun tidaklah susah. Cukup membeli 4 macam cup noodle, maka kita dapat mengikuti workshop di atas.
Noodle Workshop
Apa saja yang dilakukan di workshop ini? Berbeda dengan bayangan kami, workshop ini bukan workshop membuat mie, tetapi mendisain cup noodle mereka dan memilih bahan pelengkap atau condiment sesuai maunya mereka. Setiap cup yang sudah dibeli harus dihias dan diwarnai terlebih dahulu. Setelah itu mereka akan diizinkan untuk memilih condiment dan rasa dari cup noodle yang mereka inginkan.
Condiment dan rasa yang dapat dipilih.
Menghias cup sesuai maunya anak-anak.
5. Jonker Night Market
Jonker Night Market. Sumber foto: malacca.ws
Jonker Night Market merupakan pasar malam yang diadakan disepanjang jalan Jonker. Pasar malam ini hanya diadakan di akhir pekan saja. Selain orang-orang yang berjualan, ada banyak atraksi yang menarik untuk anak-anak kecil. Dan seperti pasar malam pada umumnya, jumlah orang yang datang luar biasa banyak sehingga jalanan pun penuh dengan orang-orang.

Demikianlah lima hal yang dapat dilakukan saat di Jonker Street. Berdasarkan pengalaman kami, memang lebih enak mengunjungi Jonker di pagi menjelang siang hari atau sore hari. Tidak terlalu panas namun masih banyak yang dapat dilihat dan dibeli. Bagaimana dengan kunjungan saat akhir pekan? Uhm, untuk sekedar tahu sih boleh saja. Namun sekali saja sudah cukup, mengingat kami datang lumayan malam. 









Tuesday, January 8, 2019

Menjelajah Tempat-Tempat Bersejarah di Melaka

Sebagai tempat Portugis mendarat pertama kali di Asia, Malaka menyimpan banyak kisah sejarah. Apalagi selama berabad-abad, Malaka dikuasai berganti-gantian oleh Portugis, Belanda dan Inggris hingga kemerdekaan Malaysia di tahun 1957. Hal ini membuat Malaka menjadi tempat berpusatnya berbagai macam kebudayaan. Tidak heran pada tahun 2008 UNESCO menetapkan Malaka menjadi salah satu world heritage. Hal ini membuat kami ingin melihat juga historical site di Malaka. Oleh sebab itu, sebelum conference dimulai, kami sengaja mengambil satu hari untuk berkeliling melihat historical site di Malaka.

Setelah check in di SGI Vacation Club, kami pun memulai kunjungan kami untuk melihat bangunan-bangunan tua yang penuh dengan sejarah tersebut. Supaya jalan tidak terlalu jauh, kami pun berjalan lewat Dataran Pahlawan Mall. Mall yang satu ini merupakan salah satu mall besar di Malaka. Banyak outlet brand-brand terkenal di mall ini. Mall ini terbagi dua dan di tengah-tengahnya terdapat lapangan atau dataran yang besar.  Keluar dari mall ini, kami pun sudah langsung berada di depan jalan yang penuh dengan historical site.

1. Porta De Santiago (A’Famosa)
Action dulu di depan meriam.
Benteng ini didirikan oleh admiral Portugis, Alfonso d’Albuquerque (siapa yang masih ingat pelajaran sejarah dulu?) pada tahun 1511. Sayangnya pada saat Belanda menginvansi pada tahun 1641, A’Famosa mengalami banyak kerusakan. Yang tersisa hanya gerbang depannya dan juga meriam kuno. Walaupun demikian, tempat ini penuh oleh turis yang ingin mengabadikan foto mereka di depan gerbang benteng ini. Di sini juga sering ada pertunjukan seni oleh seniman yang mengecat tubuhnya dengan warna emas ataupun perak.
A Famosa yang ramai dengan turis.
Di dekat A’Famosa terdapat istana kesultanan Malaka. Istana ini merupakan replika dari bentuk istana pada abad 15. Di dalam istana ini terdapat pameran-pameran yang berhubungan dengan kebudayaan Malaka. Bagi turis yang mau masuk, jangan lupa siapkan 10 RM untuk tiket masuk.
Kesultanan Malaka
2. Jalan Kota.
Jalan Kota
Di sepanjang jalan kota ini terdapat banyak muzium atau musium, yaitu Malay and Islam World Museum, Stamps Museum, People’s and Kite Museum, UMNO Museum, Islamic Museum, dan Architecture Museum. Museum-museum ini dapat dikunjungi. Harga tiket masuknya pun bervariatif, dari 5 hingga 10 RM. 
Museum Islam Melaka
Musium UMNO Melaka
Di depan museum-museum ini terdapat Coronation Park. Di Coronation Park terdapat gerbong kereta dan pesawat yang didalamnya terdapat banyak souvenir. Harganya pun murah-murah.
Tempat jual suvenir.
Selain itu ada banyak becak wisata yang dapat dinaiki. Biasanya becak ini menawarkan round trip dari satu tempat ke tempat lain. Ada juga yang hanya sekali jalan. Uniknya dari becak ini, saat naik becak akan ada lagu yang diputar, dari lagu Melayu, Indonesia, Mandarin, sampai lagu India. Harganya pun bervariasi dari 15 hingga 40 RM.
Abang becak yang menunggu turis-turis.
3. St. Paul’s Hill
St. Paul Malaka
Gereja St. Paul merupakan salah satu bangunan bersejarah di Malaka yang dibangun pada tahun 1521. Bangunan gereja yang berada di atas bukit ini merupakan bangunan gereja tertua di Malaysia dan Asia Tenggara. Di gereja yang awalnya didedikasikan sebagai kapel sederhana inilah jenazah Fransiskus Xaverius, pionir misionaris Katolik di Asia Tenggara, disemayamkan di sini selama 8 bulan setelah beliau meninggal.
View dari bukit.
Bagian dalam St. Paul
Sama seperti Ruin of St. Paul yang di Macau, gereja St. Paul yang ada di Malaka pun hanya tinggal reruntuhan. Di bagian dalam gereja ini terdapat beberapa penjual souvenir. Sedangkan sejak tahun 1952, di bagian depannya terdapat patung Fransiskus Xaverius. Patung yang didirikan dalam rangka memperingati persinggahan beliau di Malaka yang ke-400. 
Patung Fransiskus Xaverius.
4. Kawasan Red Square
Stadthuys.
Kawasan Red Square atau Dutch Square merupakan kawasan kota tua yang menjadi ikon di Malaka. Kawasan ini disebut Red Square karena seluruh dindingnya berwarna merah bata dengan arsitektur Eropa klasik. Salah satunya adalah Stadthuys. Dulunya gedung ini digunakan sebagai balai kota atau gedung gubernur untuk menjalankan pemerintahan pada saat penjajahan. Sekarang gedung ini berubah fungsi menjadi museum sejarah dan etnografi.
Duo Lynns foto dengan becak baby shark.
Di seberang jalan dari gedung ini terdapat Windmill yang menjadi ciri khas Belanda. Dikelilingi dengan tanaman-tanaman, kincir angin ini membuat orang jadi berhenti untuk berfoto. Yah, walau belum ke Belanda, tetapi sudah foto depan kincir angin=D
Windmill:)
5. Christ Church
Christ Church
Christ Church juga termasuk salah satu bangunan yang ada di kawasan Red Square. Gereja Anglikan ini berdiri sejak tahun 1753 oleh Belanda. Gereja ini dibangun selama 12 tahun. Hal yang menarik dari gereja ini adalah langit-langit yang panjangnya sekitar 8 kaki ini berada dalam satu konstruksi tanpa ada pengikatnya. Gereja ini masih digunakan sebagai tempat ibadah di hari Minggu. Ada 3 ibadah yang diselenggarakan di hari Minggu, yaitu ibadah dalam bahasa Inggris, Mandarin, dan juga bahasa Melayu.

6. Clock Tower dan Victoria Fountain
Victoria Tower
Di depan Red Square, terdapat Victoria Fountain dan Clock Tower atau menara jam Tan Beng Swee. Papapun langsung menebak bahwa Victoria Fountain dan Clock Tower ini merupakan peninggalan saat Inggris berkuasa di Malaka. Maklum, hampir setiap Negara Commonwealth selalu memiliki dua ikon ini. Namun walaupun demikian, Clock Tower ini merupakan pemberian dari Tan Jiak Kim untuk memenuhi keinginan ayahnya, Tan Beng Swee. Itulah sebabnya menara jam ini juga bernama menara jam Tan Beng Swee.
Adik yang teler pun tidak mau melewatkan berfoto di depan Clock tower.
Selain itu, di depan kawasan Red Square ini juga terdapat tulisan I Love Malaka. Sama seperti saat berkeliling di Colonial Walk Kuala Lumpur, kami pun antri untuk berfoto di tulisan ini. Sayangnya sebagian turis tidak mau mengantri. Turis dari Mainland pun dengan asyik langsung melompat tanpat mengikuti antrian yang jelas. Awalnya kami diam saja, berhubung tidak bisa menegur oma opa ini. Namun lama-lama, mereka semakin semaunya. Anak-anak pun mulai mengeluh. Akhirnya kami pun memberanikan diri menyuruh anak-anak untuk langsung berdiri di depan tulisan tersebut.
Spot foto yang ramai.
7. Berjalan menyusuri sungai Malaka
Melaka River
Sungai Malaka yang terdekat dari rute kami saat itu adalah yang di sekitar Jonker Street. Di sepanjang sungai ini terdapat banyak restoran. Jadi sambil makan, pengunjung dapat menikmati suasana di pinggir sungai. Banyak turis yang mengambil momen romantis ini bersama pasangannya. Namun tidak menutup kemungkinan juga bagi keluarga untuk makan di pinggir sungai ini.
Melaka River Cruise
Di sungai ini juga terdapat Malaka River Cruise. Selama 45 menit, penumpang yang naik diatas kapal ini akan diajak melintasi sungai Malaka sambil mendengarkan dokumenter dalam bentuk audio. 

8. Jonker Street
Jonker Street
Terkenal sebagai tempat dimana kolektor barang antik mencari barang, Jonker Street pun terkenal sebagai tempat untuk mencari makan malam dan suvenir. Bahkan di akhir pekan, disepanjang jalan Jonker ini ada pasar malam. Saat kami datang, karena hari biasa, suasana di Jonker tidaklah begitu ramai. Namun kami mendapati bahwa harga suvenir di tempat ini lebih murah daripada yang di Coronation Park.
Ondeh Melaka yang seperti kue klepon.
Berhubung sudah jam enam malam, kami mencari makan malam di daerah ini. Penasaran dengan makanan khas di sini, hainanese rice ball, kami pun mampir ke Farmosa. Kami pun memesan makanan khas mereka yaitu rice ball, kalau kata adik nasi kepal. Rasa makanannya cukup enak, hanya saja porsinya kecil. 

Setelah makan, kami pun berjalan kembali menuju hotel. Rute yang kami pilih agak sedikit berbeda, dengan tujuan untuk melihat sisi yang lainnya. Yang pertama kami lalui adalah Museum Bahari. Flor de Mar atau Maritime Museum merupakan replika kapal Portugis yang terdampar di Pantai Malaka. Museum ini berisi sejarah bahari di Malaka dan masa kejayaan kesultanan Malaka. Untuk masuk ke museum ini, pengunjung harus membayar tiket masuk.
Museum Bahari
Yang uniknya dari kota Malaka adalah hampir disetiap sudut kota terdapat bekas benteng-benteng. Salah satunya adalah The Fort of Frederik Hendrik. Walau sudah menjadi reruntuhan, namun pemerintah menjaganya dan menjadikannya sebagai salah satu historical site yang dapat dilihat.
Peninggalan The Fort do Frederik Hendrik.
Kami pun mampir sebentar ke Mahkota Parade yang terletak berseberangan dengan Dataran Pahlawan. Mall ini cukup besar dan lengkap. Tujuan kami adalah untuk mencari supermarket. Di sini ada Giant, yang harganya cukup murah. Di Giant ini tidak disediakan plastik. Jadi kalau mau belanja, harus bawa tas sendiri atau membeli tas Go Green dari mereka.
Dipavali 
Selain itu di Mahkota Parade ada Daiso. Kami pun menyempatkan diri untuk mampir. Daiso di sini cukup lengkap, dibandingkan Daiso di Sungei Wang. Banyak barang yang tidak ada di Indonesia namun ada di sini, terutama pernik-pernik untuk anak-anak.

Selesai berbelanja, kami pun kembali ke hotel. Kami memutuskan untuk naik grab, walau jaraknya tidak jauh. Lumayan menenteng air minum yang kami beli. Saat kami memesan Grab, ternyata kami mendapatkan pengemudi yang tidak dapat berbicara dan mendengar. Pengalaman pertama kami naik mobil yang dikendarai oleh pengemudi yang tuna wicara. Namun walaupun tuna wicara, auntie ini sangat ramah dan kami pun tiba di hotel tanpa kekurangan suatu apapun. 

Pengalaman anak-anak berkeliling melihat historical site di Malaka memang cukup menarik. Walau mereka tidak begitu memahami kenapa di Malaka bisa banyak peninggalan yang berbeda-beda, namun mereka menikmati melihat-lihat dan berkeliling. Lumayan, untuk jadi bahan saat mengajar sejarah =D