Wednesday, September 7, 2022

Lintas Benua di The Great Asia Africa Bandung


Kota Bandung memang selalu menawarkan banyak pesona yang membuat kita betah berkunjung ke sana. Apalagi di daerah Lembang. Rasanya di sini banyak sekali tempat wisata yang menarik untuk dikunjungi. Salah satunya adalah tempat wisata yang terletak tepat di depan Farm House yang bernama The Great Asia Africa. 

TGAA

Tempat wisata yang dibuka sejak November 2019 ini menyajikan konsep wisata alam dari tujuh negara. Negara-negara tersebut adalah Indonesia, Korea Selatan, Thailand, India, Timur Tengah, Jepang, dan Afrika. Negara-negara tersebut melambangkan negara-negara yang mengikuti konferensi Asia Afrika tahun 1955 di Bandung. 

Pintu masuk menuju tempat ini berada diatas. Di lantai paling atas terdapat toko-toko yang menjual cindera mata dan restoran yang menjual berbagai jenis makanan. Sedangkan untuk melihat miniature ketujuh negara tersebut, kita harus berjalan ke bawah, seperti menuruni lembah. Ini menjadi kelebihan dan kekurangan dari TGAA. Kelebihannya, kita dapat melihat pemandangan jauh lebih indah dari atas. Tetapi kekurangannya adalah para lansia akan capek saat harus kembali ke atas.

Peta TGAA
Ada Rumah Dino juga di sini loh

Oleh sebab itu, sebelum kami pergi ke sini, kami mencoba bertanya kepada pihak TGAA. Pihak TGAA menyatakan bahwa ada lift untuk para lansia dan gondola yang berbayar. Dengan info inilah kami yakin untuk mengajak oma opa ke sini. Asumsi kami, oma dan opa bisa naik lift ataupun gondola.

Setelah selesai urusan dengan kamar mandi, kami menggunakan lift menuju basement untuk memulai perjalanan kami melihat-lihat pemandangan yang ada. Lift ini terletak di area gedung yang menjual cindera mata. Sampai di basement, kami mengunjungi miniature negara pertama yang ada di TGAA, yaitu Korea Selatan. 

Han guk Ma eul alias Korean Village
My preteens

Hanok

Setelah puas melihat-lihat hanok, kami pun berjalan turun. Namun di tengah jalan, terjadi insiden. Sepatu si opa dan oma kelaparan, alias terbuka. Memang sejak pandemi, sepatu-sepatu ini jarang digunakan. Akibatnya lem di sepatu pun kering. Kata oma sih sudah waktunya untuk lembiru alias lempar beli yang baru. Akhirnya kami pun berpencar. Papa dan yang lainnya menunggu sambil pelan-pelan menuju miniature terdekat, sedangkan saya kembali ke atas untuk membeli sendal. 

Presiden RI dari presiden pertama hingga ke tujuh. Siapakah yang ke delapan?

Setelah insiden selesai, bagian kedua adalah Thailand. Berbeda dengan Korea Selatan dengan perkampungan hanoknya, untuk spot Thailand hanya terdapat spot kecil yang tetap menarik untuk berfoto. Karena spot yang kecil, dan banyak oma-oma mau foto, kami pun tidak jadi berfoto =D

Noni kecil bergaya dulu ah....

Kami berjalan kembali dan memasuki area Timur Tengah. Dari jauh memang sudah terdengar lagu Arabian Night yang membuat suasana betul-betul seakan ada di Timur Tengah. Biasanya di sini juga ada penyewaan kostum. Namun disaat covid seperti ini, kami melewati bagian foto dengan kostum. Safety first.

Puncak bangunan yang menandai area Timur Tengah
Bangunan Timur Tengah yang colorful

Perjalanan pun dilanjutkan kembali. Walau jalan ke bawah sangat nyaman, tetapi oma dan opa memutuskan berhenti di tengah-tengah dan duduk di tangga yang ada karena sudah lelah berjalan. Apalagi berpikir belum baliknya ke atas. Memang ada gondola, tetapi gondola hanya berhenti di tengah-tengah antara Thailand dan Timur Tengah. 

Stasiun gondola untuk naik ke atas

Berhubung anak-anak masih ingin melihat-lihat, maka kami pun lanjut melihat India. Dekorasi di area ini sangat menarik warnanya. Warna-warna yang gonjreng membuat si kecil tergoda untuk berfoto dan berjoget. Apalagi ada musiknya. Sayangnya tidak ada pohon di tengah-tengah. Kalau ada, pasti pas deh buat dikelilingin =D 

India
Trio Lynns beraksi

Aksi berikutnya

Area selanjutnya yang kami tuju adalah Jepang. Rasanya area untuk Jepang cukup besar di sini. taman, kolam ikan, dan rumah-rumah bergaya Jepang ini membuat kami betah lama-lama di daerah ini. 

Taman yang artistik kata adik
Kawaiiii
Kolam yang rasanya damai dan membuat si kecil ingin berenang
Bagi yang mau menulis harapan dan menggantungkannya di sini
Latihan wefie untuk nanti kalau sudah bisa ke Fushimi Inari. Wkwkwk

Di miniatur untuk Indonesia, terdapat rumah gadang, rumah joglo, dan jineng Bali. Sayang kami tidak sempat berfoto di sini. semua serba buru-buru. Hehehe

Rumah apakah itu?

Di bagian paling bawah terdapat area Afrika. Namun kami memutuskan hanya melihat dari atas saja, karena oma dan opa masih menunggu kami. Kami pun kembali ke atas untuk menjemput oma opa. 

Area Africa yang terletak di dasar lembah

Berhubung waktu sudah hamper jam sebelas, dan cuaca mulai mendung, kami pun memutuskan untuk early lunch di sini. Karena makanan banyakan di bagian atas, kami pun naik ke atas menggunakan gondola. Untuk naik gondola ini, satu orangnya dikenakan biaya Rp 20.000. Gondola ini akan berhenti di basement, dan setelah itu kita bisa naik lift ke atas.

Makanan yang ada di area basement
Resto di sepanjang jalan

Ada makanan apa saja sih di sini? Macam-macam loh. Dari Chinese food, Indonesian food, western food, semua ada. Pilihan kami adalah Bakul Kampung Mang Entis. Bersyukurnya saat kami datang masih sepi, jadi kami bisa makan di lantai atas sambil menikmati udara dan pemandangan yang ada.

Menu paket yang kami pesan...Lapar sangat =D
Foto dulu dong (kata oma)

Kunjungan kami kali ini memang tidak terlalu lama dan tidak bisa menyeluruh. Anak-anak belajar untuk bertoleransi dengan para sepuh yang sudah susah jalan jauh. Dan tidak dapat dipungkiri, pandemic membuat acara jalan-jalan tidak sebebas dulu. Tapi mereka masih senang, karena ini adalah jalan-jalan keluar kota mereka yang pertama setelah 2 tahun. 

Si kecil yang pura-pura tidur sambil menunggu makanan.

Jalan-jalan ke TGAA memang sangat menarik. Apalagi udara dan pemandangan alam di sini sangat indah. Kami pun berpikir nanti kapan-kapan mau berkunjung ke sini lagi. Kapan lagi bisa lintas benua dalam satu hari =D


Next: Our First Trip in 2022

 

Sekilas Info

The Great Asia Africa

Alamat: Jl. Raya Lembang No 71 (seberang Farm House) Lembang

Jam Operasional: 09.00 – 18.00

HTM: Rp 65.000,00 (jangan lupa tiketnya ditukar dengan minuman atau sosis ya)


Friday, July 8, 2022

Kulineran di Pantjoran PIK


Siapa sih yang tidak tahu Pantjoran PIK? Sepertinya semua tahu, kecuali saya. Maklum, tidak pernah keluar-keluar untuk makan selama pandemi ini. Tapi berhubung si corona ini sudah tidak segahar dulu lagi, kami pun mulai memberanikan untuk mengunjungi Pantjoran PIK.

Tram untuk keliling-keliling

Pantjoran PIK merupakan Chinatown atau pecinan yang berisi kuliner, terutama kuliner non halal. Kalau mendengar kata Pantjoran, pasti yang pop-up di pikiran kita adalah Pantjoran Glodok. Glodok itu sendiri identik dengan pecinan. Dan Namanya juga pecinan, pasti banyak kulineran enak. 

POUN 2022
Liong yang biasa dipakai untuk pertunjukan

Kawasan pecinan yang berada dibawah Agung Sedayu dan Salim Group ini resmi dibuka pada tanggal 20 November 2020. Yang artinya, saat si covid lagi marak-maraknya di tanah air tercinta kita, Pantjoran PIK malah dibuka dan langsung rame. Hal ini wajar karena dengan konsep open food court, tentu banyak orang yang jadi berani untuk kulineran, baik dine in ataupun take away.  Kalau kami sih, memang baru berani di awal tahun ini. Hehehe

Mural di tembok
Pagi yang ramai

Apa sih yang menarik dari Pantjoran PIK? Yang pasti, makanan dong. Tapi, lebih dari itu, scenery di situ ciamik tenan loh. Buat kami, gapura dari Pantjoran PIK ini ikonik. Seakan-akan jalan ke China gitu loh. Apalagi ditambah mural-mural artistic di dinding-dindingnya. Yang pasti sih, buat yang suka foto, pasti seru. 


Diorama mengenai Ceng Ho

Bagaimana dengan makanannya? Walau di Kawasan pecinan, tetapi ternyata di sini ada makanan halal dan non halal. Untuk yang halal, pastikan ada tulisan no pork, no lard. Selebihnya memang banyak makanan non halal. 

   
Pose di kala ramai     

Pose di kala sepi

Saat kami datang, karena kami ngidam makan dimsum, maka tujuan utama kami adalah memesan dimsum di Maystar. Kami memilih untuk duduk di bagian luar, karena di dalam sudah penuh. Untuk rasa, semua pasti setuju dimsum Maystar selalu enak. Apalagi mereka juga ada jam happy hour dari jam 2 siang sampai 5 sore.

Babi Emas Panggang Maystar.
Cute pao kesukaan anak-anak

Sambil menunggu, karena luar biasa antriannya, si oma penasaran dengan si bihun bebek dan bakso. Baksonya enak kata si oma. Bihun bebeknya ya okelah, dibilang enak sekali ya tidak, tapi dibilang tidak enak juga tidak. 

Finally, setelah lama tidak keluar rumah
Bihun bebek

Di sini juga dijual kembang tahunya. Nah, untuk kembang tahunya mantab sekali. Kuah jahenya berasa. Jadi kalau sedang tidak enak badan, makan kuah jahenya pasti langsung enak deh. 

Tahu Hwa
Saat kami datang kedua kali, ada Huski loh

Selain itu juga ada Kopi Es Tak Kie. Kedai kopi satu ini memang sudah ada sejak tahun 1927 di Kawasan Glodok.  Harga kopinya juga standard kok. Saat kami memesan, bau kopinya itu menggoda hati. Di sini juga ada pilihan less sugar ataupun less ice.  

Kopi Es Tak Kie yang terkenal
Menu Kopi Es Tak Kie

Walaupun Kawasan pecinan, tetapi Pantjoran PIK juga menjual makanan-makanan khas daerah, seperti Sate Babi Bawah Pohon (yang ada di Bali), Nasi Lemak, Kari Lam Punggol, dan sebagainya.

Peta Pantjoran PIK
Telepon umum

Buat yang sudah puas kulineran, di sini juga banyak yang dapat dilihat-lihat. Ada toko-toko kecil yang menjual pernak-pernik yang unik dan lucu. Ada juga supermarket yang menjual barang kelontong, dari produk luar sampai produk dalam negeri.  

Susu Korea ada di sini....

Vegemite from Aussie
Permen jadul yang ukurannya besar

Rasanya mengunjungi Pantjoran PIK ini tidak cukup hanya sekali atau dua kali, karena banyak makanan-makanan yang perlu dicoba.

Akhirnya dapat berfoto bersama-sama di sini

Sekilas Info

Pantjoran PIK

Alamat: Pantai Indah Kapuk. Jakarta Utara

Jam operasional: 07.00 – 23.00


Pantai....