Friday, April 21, 2017

Tips Hunting Buku di Big Bad Wolf


"Who's affraid of the big bad wolf, big bad wolf, big bad wolf?"

Saya sih takut dengan yang namanya serigala. Tetapi ada satu serigala yang tidak saya takuti, yaitu serigala yang suka jual buku bagus dan murah. Big Bad Wolf merupakan acara pameran buku dengan diskon 60% - 80%. Pameran buku ini dimulai pertama kali pada tahun 2009 di Kuala Lumpur. Sedang di Indonesia baru diadakan pertama kali tahun lalu.
Activity books untuk anak-anak dengan harga yang murah.
Bagi kami, buku merupakan sesuatu yang berharga. Kalau disuruh shopping, mata saya tidak pernah hijau. Tetapi kalau melihat buku, saya mudah sekali tertarik. Oleh sebab itu, saat tahun lalu diadakan acara The Big Bad Wolf Book Sale, kami menyempatkan datang pagi-pagi di hari terakhir. Kami sempat memborong buku, walaupun mencarinya susah karena sudah berantakan, dan tidak mengalami antrian saat membayar. Saat itu kami bertekad untuk datang lagi tahun depan di hari pertama, supaya dapat memilih buku-buku dalam keadaan masih rapih dan lengkap.
Architecture and design corner
Tahun ini Big Bad Wolf kembali diadakan mulai dari tanggal 21 April - 2 Mei 2017 di ICE BSD nonstop alias tidak tutup. Hal ini membuat kami semangat ke sana. Apalagi ternyata pihak BBW mengadakan preview sale pada tanggal 20 April 2017 dan yang masuk harus membawa tiket VIP. Saya pun iseng-iseng berhadiah mengikuti kuiz dan memasukkan blog. Dan kami pun mendapatkan keduanya. Senang rasanya. Apalagi dapat voucher Rp 100.000,00. Walaupun kami berpikir pasti pemegang tiket VIP akan banyak karena ternyata mendaftar jadi member saja bisa mendapatkan tiket VIP. Perjalanan menuju ICE pun tidak mudah karena kami harus menghindari macet akibat pengalihan pintu tol Karang Tengah. 
Hore... dapat tiket VIP dan voucher.
Saat kami sampai di ICE BSD, antrian mobil sudah cukup banyak. Karena kami sampai di pintu hall 10, oleh pihak keamanan kami diminta masuk lewat pintu 8. Kami pun berjalan menuju pintu hall 8 tetapi pintu tersebut masih dikunci. Akhirnya kami dan para pemegang tiket VIP lainnya berjalan menuju hall 7. Pihak kemananan tidak memberikan kami berjalan menuju hall 6 karena hall 6 dipakai untuk Disney on Ice. Kami diminta untuk kembali ke hall 10 karena kami harus masuk dari sana. Tentu saja rombongan pemegang tiket VIP tidak mau. Mereka meminta pihak keamanan untuk mengontak dengan walkie talkie-nya daripada setelah kembali ke hall 10 kami disuruh balik lagi ke hall 8. Karena si adik kepingin ke toilet, maka kami meninggalkan papa di situ untuk menunggu hasil keputusan. Kami numpang masuk dari hall 6 dan mencari toilet terdekat. Setelah debat antara pihak keamanan dan yang berjaga di pintu dengan para pemegang tiket, akhirnya pintu hall 7 pun dibuka. 
Antrian masuk ICE dan antrian pengambilan tiket VIP untuk member BBW.
Antrian untuk mengambil tiket cukup panjang. Karena tiket VIP saya didapatkan dari jalur blogger dan pemenang kuiz trivia, saya tidak harus antri di jalur yang mendapatkan tiket VIP dari daftar menjadi member. Saat kami masuk, kami berpikir untungnya dapat tiket VIP karena di dalam sepi tidak ramai seperti dulu. Tetapi herannya banyak keranjang dan troli yang sudah penuh dan diletakkan di suatu sisi yang kosong. 
Food court dan pengunjung yang ada.
Tetapi setelah berbelanja, preview sale tidak seperti yang kami bayangkan. Banyak buku bagus yang diambil oleh pihak jasa titip. Terlebih lagi saat proses pembayaran. Setelah menghabiskan waktu 4 jam untuk mengantri membayar, dan berbincang dengan pengantri lainnya, kami menyimpulkan beberapa hal.
For Lego mania
Beberapa kemajuan positif dari BBW kali ini:
1. Dengan adanya lay out yang jelas, pencarian buku berdasarkan jenis-jenisnya menjadi lebih cepat. Hal ini tentu memudahkan book's lover seperti kami .
cookery books
Christmas books
2. Pilihan buku aktivitas dan buku anak-anak yang semakin banyak. Dari wipe clean books, board books, Christmas books, sticker books, dan buku aktivitas bertema lainnya. Plus semua masih rapi karena masih hari pertama. Berbeda dengan pengalaman kami tahun lalu yang harus mencari buku yang berantakan.
Picture books
3. Food court dan area bermain bagi anak-anak disediakan di dalam area BBW. 
4. Ada charging station bagi pengunjung yang batere handphonenya sudah mulai sekarat. 
Booth Mandiri dan charging station
5. Karena kali ini BBW bekerjasama dengan Grab, tentunya pengunjung yang tidak membawa mobil tidak susah mencari kendaraan untuk pulang.
Art and crafts books
6. Bagi yang sudah membeli, disediakan tempat penyimpanan belanjaan di depan pintu hall 10. Jadi pengunjung dapat mengambil kendaraan baru menuju ke hall 10 untuk mengambil barang. Hal ini memudahkan pengunjung dengan tidak usah menenteng belanjaan ke parkiran, apalagi kalau hujan.

Kekurangan saat preview sale BBW dan dapat menjadi masukan bagi pihak BBW:
1. Kurangnya koordinasi antara panita dengan pihak keamanan sehingga kami dioper sana-sini saat mau masuk.
2. Kurangnya informasi bahwa untuk pembelian makanan di food court dan area bermain harus menggunakan e-money. Sejauh mata memandang, kasir hanya ada satu kemarin, akibatnya antrian untuk membayar makanan pun panjang. Bahkan beberapa ibu mengeluh karena harus mengantri padahal sudah kelaparan.
3. Pihak panitia kurang tegas tentang antrian. Kami sudah mengantri sampai depan gerbang dan disuruh kebelakang tanpa ada kejelasan. Tetapi setelah itu banyak yang langsung nyelak dari samping tidak dilarang oleh mereka. 
4. Penjelasan dari pihak Mandiri pun kurang. Kami sempat bertanya tentang penggunaan Mandiri. Mereka hanya berkata bisa menggunakan point untuk fast track dan jika membayar dengan debit Mandiri untuk pembelanjaan diatas 1 juta akan mendapatkan voucher belanja yang hanya dapat digunakan di hari libur atau weekend. Ternyata setelah mengantri 4 jam, pihak kasir berkata bahwa pembayaran dengan debit bisa kapan saja, tetapi jika ingin mendapatkan voucher belanja, harus melakukan transaksi di weekend dan vouchernya juga untuk weekend. Padahal saat bertanya di booth Mandiri, mereka tidak menjelaskan hal ini.
5. Memang ada jalur fast track, tetapi untuk penggunaannya harus memotong fiesta point yang ada sebesar 100 point di booth Mandiri, bukan di kasir. Jadi kemarin kami tidak mendapat info ini saat bertanya ke booth Mandiri. 
6. Jalur fast track yang ada bukan berarti jika lewat jalur itu maka akan ada kasir khusus. Jalur fast track hanya berarti bahwa si pengantri tidak harus mengantri di maze, tapi akan bersama-sama dengan jalur antrian lain di saat mengantri kasir. Akibatnya sempat ada ibu-ibu yang dari jalur fast track juga harus mengantri 3,5 jam dan masuk jalur antrian sama seperti kami. Dia mengeluh apa gunanya potong point 100 tetapi tetap panjang.
7. Kasir yang ada sangat banyak, hampir 50, tetapi tidak dibedakan antara jalur yang belanja sedikit dan yang bertroli-troli. Belum lagi terkadang sistemnya error. Andaikan dipisah, mungkin antrian yang belanja  tidak akan begitu panjang. Jadi akan lebih baik jika antrian antara yang belanja bertroli-troli seperti para jasa titip dengan yang belanja untuk keperluan sendiri yang tidak sampai 1 troli dipisahkan. 
Area dekat toilet yang menjadi tempat para jastip mengumpulkan buku 
Karena kejadian di preview sale yang tidak mengenakkan bagi para pemegang tiket VIP, banyak yang kecewa dan saling bercerita saat antri membayar. Dapat dimengerti sih kekecewaan para pemegang tiket VIP yang memang pencinta buku dan harus berlomba dengan jasa titip yang mengambil buku sampai bertroli-troli walau belum tentu dibeli dan sesudah itu meletakkan buku-buku yang tidak jadi dibeli secara sembarangan. Walau para jasa titip membantu para pecinta buku yang tidak dapat pergi, tetapi ada baiknya teknis untuk pembayaran dan jumlah pengambilan buku dibatasi. Dan untungnya pihak BBW dengan rendah hati meminta maaf kepada para pemegang tiket VIP. Dan melihat live report mereka kemarin, sepertinya sudah ada perbaikan di jalur antrian ke kasir.
Permohonan maaf BBW
Nah, untuk yang baru mau mengunjungi BBW, ada beberapa tips yang mungkin dapat kami bagikan saat mengunjungi Big Bad Wolf.
1.Kenakan pakaian dan alas kaki yang nyaman. Tentunya acara hunting buku membuat kita harus gerak cepat. Kalau baju terlalu manis malah jadi susah untuk bergerak. 
2. Bawalah minuman dan makanan ringan. Di sana sih memang ada food court, tapi ternyata harus membayar dengan e-money Mandiri (harga kartu Rp 75.000,00 dengan isi Rp 25.000,00). Walaupun punya, ternyata untuk memesan makanan harus mengantri panjang, membayar di kasir khusus pun harus mengantri panjang. Jadi lebih baik membawa cemilan dan minuman dalam tas. 
3. Datanglah di jam-jam yang tidak begitu padat. Mungkin subuh dan bukan weekend dapat menjadi waktu yang tepat.
4. Buat list buku apa saja yang ingin dibeli. Banyaknya buku bagus di sana dapat membuat mata hijau. Daripada lupa apa yang mau dicari, lebih baik buat list-nya. Setelah buku-buku yang diinginkan sudah didapatkan, barulah hunting buku-buku lainnya jika budget masih cukup. 
5. Bawa koper jika belanjaan banyak. Di sana sih disediakan troli dan keranjang untuk meletakkan buku-buku yang akan dibeli. Tetapi just in case kehabisan troli dan keranjang, karena sudah dipakai oleh jasa titip buku, dan supaya tidak repot menenteng plastik, disarankan sih membawa koper.
6. Pelajari layout letak buku terlebih dahulu. Karena letaknya yang luas, lebih baik kita sudah mengetahui dimana letak buku-buku yang mau kita cari.
Lay out BBW 2017
7. Pergilah berdua atau bawa teman. Mengapa? Supaya ada teman ngobrol dan bisa saling menjaga saat sedang antri membayar atau saat kita mau ke toilet. Kalau sampai sendiri, sambil mengantri bisa sambil membaca buku yang mau dibeli.
Antrian saat membayar
8. Bagi yang membawa anak, seperti kami dan teman-teman kami, sebaiknya pergi berdua (baik dengan teman ataupun dengan pasangan). Kalau kami sih biasanya bergantian menjaga anak-anak. Jadi saya berkeliling mencari buku yang diinginkan, si papa yang menemani anak-anak membaca buku. Setelah itu giliran papa mencari buku, saya menemani anak-anak membaca buku. Dan yang terpenting, beritahu anak-anak agar tidak berpindah tempat dan tidak memberantak buku. Jadi mereka tahu bahwa mereka boleh membaca tetapi tidak mengembalikan buku pada tempatnya. Seperti kemarin, Duo Lynns malah sibuk merapikan buku yang diletakkan sembarangan di depannya. Kita juga harus melatih anak-anak untuk bertanggungjawab dari kecil bukan? 
8. Pastikan handphone kita sudah di-charged dan kalau perlu bawa power bank
9. Saat membayar, kami biasanya memilah buku berdasarkan harga. Tujuannya memudahkan kami untuk memeriksa nota dan memudahkan pihak kasir juga. Biasanya kami menghitung ada berapa item yang kami beli. Sehingga saat memeriksa nota, kami pun dapat memeriksa dengan cepat. 
9. Untuk pembayaran, mereka menerima uang tunai, kartu kredit berlogo visa. Sedang untuk debit, mereka hanya menerima debit Mandiri. Jadi tidak dapat menggunakan debit BCA. Banyak yang masih bertanya dan sampai sana kebingungan untuk membayar.
10. Bagi yang mempunyai kartu debit Mandiri dan kartu kredit Mandiri, pastikan dulu promonya. Kalau perlu, tanya sampai detil sekali (pembayaran dengan debit bisa kapan saja, tetapi jika ingin mendapatkan voucher belanja, harus melakukan transaksi di weekend dan vouchernya juga untuk weekend dan untuk penggunaan jalur fast track harus memotong fiesta point yang ada sebesar 100 point di booth Mandiri, bukan di kasir). 
11. Andai tidak membawa kendaraan, jangan kuatir karena di sana ada pool Grab di Hal 10. 


Bagaimana dengan kami? Kami sih tidak kapok untuk datang lagi, hanya mungkin mencari waktu yang pas saja, karena koleksi buku dan harga yang menarik yang ditawarkan oleh pihak BBW. Oya, jangan lupa mengakhiri kunjungan dengan mampir ke Aeon Mall untuk makan sushi di sana. Selamat berburu buku yang auuwsome;)
Buku tentang cara menggambar hanya Rp 100.000,00 saja.
Update: 
Voucher untuk artikel yang terpilih :)
Kamis kemarin kami kembali ke BBW karena artikel ini terpilih (hore...) dan mendapatkan voucher Rp 200.000,00. Mereka baru restock buku, banyak sekali, dan antrian di kasir jauh lebih ok dibanding saat preview sale kemarin. Salah satu pihak BBW menyatakan memang saat preview sale terjadi kekacauan yang membuat pihak mereka juga kaget. Tetapi pada hari kedua, semua sudah berjalan jauh lebih baik. 
Antrian kasir yang sangat manusiawi dan cepat.
Keep up the good work, BBW team :)

The Big Bad Wolf Book Sale
21 April- 2Mei 2017
ICE BSD

Tuesday, April 18, 2017

Wisata Kuliner Jogja part 2

Masih seputar kulineran di Jogja, kalau yang part 1 adalah tempat-tempat yang kami kunjungi saat bulan lalu, berikut ini lanjutan kulineran Jogja yang ngangeni yang sempat saya kunjungi saat masih kuliah dan saat main ke Jogja. 

1. Bale Raos
Pernah tidak terpikir apakah makanan apa yang disajikan di kraton? Apakah sama seperti makanan yang ada di rumah kita? Untuk mengetahuinya, kita cukup mengunjungi restoran yang bernama Bale Raos. Saya pun mengetahui tempat ini justru dari orang Inggris. Bahkan selama saya kuliah, mendengar nama tempat ini saja belum pernah.
Kiri bawah: nasi tradisional set. Kanan bawah: bebek suwar suwir
Bale Raos terletak pada bagian selatan Keraton Kesultanan Yogyakarta. Jika melihat tempatnya dari luar, pastilah kita mengira ini adalah bagian dari keraton. Tetapi dibalik benteng tembok putih ini terdapat tempat makan yang sangat bersuasana keraton. Restoran yang berdiri atas gagasan GKR Hemas (istri Sri Sultan HB X) ini menyajikan hidangan khusus kesukaan raja-raja, dari Sri Sultan HB VII sampai dengan Sri Sultan HB X, seperti nasi tradisional set, bebek suwar-suwir, soep timlo, bestik jawa, dan kuliner kraton lainnya.

Bale Raos
www.baleraos.co.id
Jl. Magangan Kulon no. 1 Jogjakarta
Buka dari jam 10.00 - 22.00


2. Angkringan
Yang satu ini pasti sudah dikenal dengan baik oleh semua orang khususnya mahasiswa sebagai penyelamat kantong mahasiswa saat akhir bulan. Angkringan berasal dari bahasa jawa Angkring yang artinya alat dan tempat jualan makanan keliling yang pikulannya berbentuk melengkung ke atas. Asal muasal angkringan ini dimulai oleh mbah Pairo yang mengadu nasib ke Jogja dan berjualan sego kucing dengan menggunakan pikulan. Lama kelamaan usaha mbah Pairo berkembang dan terkenal hingga sekarang. Walau demikian, pada masa kini, penjual angkringan menggunakan gerobak dorong untuk menjual makanannya. Para penjual ini akan keluar sekitar sore hari. Mereka menggelar terpal untuk menutupi gerobak mereka dan menyediakan bangku untuk duduk si pengunjung. Jika suasana mulai menggelap, lampu teplok menjadi penerang yang membuat suasana seakan sedang candle light dinner di pinggir jalan. 
Angkringan. Sumber foto: wisatajogja 75 dan kaka guesthouse.
Apa saja makanan yang ada? Biasanya ada nasi kucing (nasinya banyak lauknya sedikit sekali) yang berisi ikan atau teri dan sambal yang pedas atau berisi tempe orek, gorengan (tempe goreng tepung, tahu isi, pisang goreng, tape goreng), baceman, sate usus, sate telur puyuh, keripik, dan lain-lain. Sedangkan untuk minumannya ada teh, teh jahe, kopi, jeruk, susu, dan sebagainya. Gorengan yang ada bisa dibakar lagi supaya jadi hangat dan lebih enak. Hmm.... Saya jadi terbayang angkringan di depan kos saya dulu.

3. Lotek 
Kalau orang luar mempunyai banyak dressing untuk salad mereka, maka kita sebagai orang indonesia tidak kalah juga loh. Dengan dressing bumbu kacang, ada berbagai macam salad ala Indonesia. Dari gado-gado, karedok, pecel, dan bahkan lotek. Perbedaan dari ketiga itu adalah isinya dan bahan saus kacangnya. Jika Jawa Timur terkenal dengan pecelnya, maka Jogja terkenal dengan lotek. Apa sih perbedaannya? 
Lotek. Sumber foto: foody.id
Kalau menurut saya, pecel terkenal dengan bau daun jeruk yang wangi. Sedang lotek terkenal dengan bau kencurnya. Lotek adalah menu favorit saya saat kuliah dulu. Selain karena saya sayuran mania, makan lotek dicampur mie goreng dan gorengan itu sangat enak loh. Berkicau tentang lotek di Jogja, hampir di setiap sudut jalan ada penjual lotek. Langganan saya tentu saja tukang lotek dekat kos saya, yang sangat baik hati memberikan sayur yang banyak.

Nah, salah satu lotek terkenal adalah lotek Colombo. Jujurnya, saya makan di lotek ini bisa dihitung jari karena harganya yang terbilang mahal (bagi kantong mahasiswa) dibanding lotek di tempat lain. Tetapi memang lotek Colombo ini enak sekali hingga yang antri bisa panjang sekali. Tetapi walaupun antriannya panjang, mbak-mbak di sini lumayan cepat melayani pengunjung yang datang. 

Lotek Colombo 
Jl. Sagan I no. 1 Jogjakarta
08.30 -  21.30
0274-6555597

4. Gudeg
Gudeg atau gudheg, adalah makanan khas Jogjakarta dan juga Jawa Tengah yang terbuat dari nangka muda atau gori yang dimasak dengan santan selama berjam-jam. Gudeg dapat ditemui hampir di setiap sudut kota Jogja. Tempat berjualannya pun bermacam-macam. Dari emperan jalan besar, rumah makan sederhana, sampai restoran yang mahal. Biasanya gudeg dimakan dengan nasi dan disajikan dengan kuah santan (areh), ayam kampung (suwir ataupun utuh), telur, tahu, dan sambal goreng krecek. Bahkan kadang ada juga yang menjual gudeg dengan bubur sebagai pengganti nasi.

Awalnya gudeg Jogja merupakan gudeg basah, yaitu gudeg yang disajikan dengan areh kental. Tetapi karena areh kental ini, gudeg basah tidak dapat tahan lama, apalagi untuk dibawa ke kota lain. Seiring dengan kebutuhan, muncullah gudeg kering, yaitu gudeg yang disajikan dengan areh encer. Dengan adanya gudeg kering, gudeg semakin mudah dijadikan oleh-oleh. Saya pribadi lebih doyan gudeg kering karena tidak begitu manis.
Gudeg Yu Djum. Sumber foto gudeg Yu Djum
Jika bakpia terkenal di Jalan Pathok, maka gudeg yang terkenal berada di jalan Wijilan. Sejak tahun 1942, jalan ini memang sudah ramai oleh penjual gudeg. Salah satunya adalah gudeg kesukaan mama saya, yaitu gudeg Yu Djum. Gudeg Yu Djum sudah ada sejak tahun 1951. Gudegnya kering dan mudah dijadikan oleh-oleh. Gudeg dapat dikemas dalam besek, bungkus dari anyaman bambu yang dibentuk seperti kotak, ataupun dalam kendil, wadah yang terbuat dari tanah liat.

Gudeg Yu Djum
http://gudegyudjumpusat.com/

5. Kafetaria kopma UGM
Last but not least, ini adalah salah satu tempat favorit saya dan teman-teman kuliah. Diantara jeda jam kuliah, kami ke sini untuk brunch. Menunya sih biasa saja, seperti makanan rumahan. Tetapi semuanya enak bagi kami. Apalagi harganya terjangkau bagi kantong mahasiswa. Selain makanan yang biasa disajikan, salah satu makanan yang terkenal dari kantin ini adalah soto ayam. Tetapi disarankan untuk datang sebelum jam makan siang. Kalau sudah lewat jam makan siang, kemungkinan besar makanan-makanan sudah habis. Bagi yang malas makan dan mencari minuman, di sini juga ada bermacam-macam es kok ;)
kafetaria kopma UGM
Demikianlah beberapa wisata kuliner yang dapat dikunjungi saat berada di Jogja. Tentunya masih banyak lagi tempat-tempat yang menarik untuk dikunjungi. Sayangnya kami tidak sempat mengunjunginya. Memang Indonesia kaya dengana kuliner yang enak. Membayangkannya pun membuat saya ingin kembali ke sana untuk kulineran lagi :)

Wisata Kuliner di Jogja part 1

Masih dalam rangka menyelesaikan project bulan lalu di Jogja, walaupun sibuk dengan jadwal yang ada, tetapi yang namanya makan itu adalah suatu keharusan. Setuju, saudara-saudara? Kalau sudah sampai ke Jogja, rasanya wajib untuk mencoba makanan-makanan yang maknyus ini. Pastinya di pikiran kita terbayang kata bakpia dan gudeg jika mendengar tentang wisata kuliner Jogja. Namun, Jogja juga mempunyai makanan lain yang boleh diburu saat kita mengunjungi kota Pelajar ini. 

1. Es Krim Rujak
Ini adalah favorit saya saat saya pertama kali datang ke Jogja untuk kuliah. Perpaduan antara rujak yang pedas dan es krim yang ada di depan Gardena di jalan Solo menjadi kenikmatan tersendiri bagi saya saat itu. Dan kali ini pun kami berkesempatan mengicipi rujak es krim di daerah yang lain. Es krim rujak ini tersebar diberbagai tempat. 
Es krim rujak :)
Bagi penggemar rujak yang tidak pedas, ada juga kok rujak yang tidak pedas. Sedangkan bagi penggemar rujak yang pedas, termasuk saya, cukup tambahkan sambal rujak dan dijamin pasti akan ketagihan bahkan nambah sampai berkali-kali.

2. Sop Empal
Sop empal menjadi salah satu tujuan kuliner wisatawan saat berkunjung ke Jogja. Dan sepertinya warung sop empal ini sudah menjamur dimana-mana. Pada kesempatan kemarin, kami berkesempatan menyicipi sop empal bu Yoeni. Awalnya saya berpikir sop empal berarti empalnya dibuat sop. Ternyata yang disajikan adalah empal goreng dan sop yang terpisah. Sopnya pun bukan sayur sop dengan wortel buncis seperti sayur sop pada umumnya. Selembar kol dan bihun menjadi isi dari sop bening ini. Sederhana kan tampilannya?
Sop empal bu Yoeni plus tempe dan ditemani jahe hangat 
Walaupun tampilannya sederhana, tetapi ternyata rasanya memang enak. Selama ini empal yang paling enak buat saya adalah buatan mama saya, karena empuk dan rasanya maknyus. Empal di sop empal bu Yoeni ini lumayan empuk dan rasanya pun lumayan. Tetap saja ada unsur manis sebagai ciri khas masakan Jogja. Tetapi jika ditambah sambal ulek, rasa manis di empal ini agak tertutup. Jangan lupa ditambah dengan tempe goreng, maka rasanya akan lebih mantap. Bagi penggemar sapi, bisa juga ditambahkan irisan paru goreng. Sedangkan bagi yang tidak suka sapi, di sini juga ada ayam gorengnya loh. 

Sop Empal bu Yoeni
Jl. Prof. Dr. Sarjito no. 3 Jogjakarta

3. Mi Anglo/Mi tek-tek
Mi tek-tek adalah salah satu pilihan saya dan teman-teman kos saat malas keluar untuk mencari makan. Biasanya kami akan duduk manis di depan jendela di lantai dua untuk menunggu suara tek-tek. Ciri khas mi tek-tek adalah pembuatan mie yang tidak menggunakan kompor, tetapi anglo. Waktu pertama kali melihat orang memasak dengan menggunakan anglo, saya berpikir tidak efisien sekali. Tetapi ternyata memasak menggunakan anglo menambah wangi tersendiri saat makan.
Bakmi Jawa Pak Nardi, sekarang pakai kipas angin loh untuk ngipasi arangnya. 
Walaupun bukan anak kos, mi tek-tek atau sebagian orang menyebutnya mie Jawa dapat dinikmati juga oleh kami. Seperti kemarin kami menyempatkan membeli mie goreng Jawa (dengan ciri khas yang agak basah atau nyemek kalau kata orang Jogja) dam juga magelangan. Magelangan berarti nasi goreng yang dicampur dengan mie atau bihun. Harganya pun termasuk standard, yaitu Rp 12.000,00 per porsi dan porsinya lumayan besar. Sedikit tips dari saya, karena orang Jogja doyan manis, maka jika kita memang tidak doyan manis, boleh ditambahi dengan kata-kata 'minta yang asin ya, pak'. Percaya deh, tidak akan keasinan =D

Bakmi Jawa Pak Nardi
Jalan Sosorowijaya, depan hotel Grage

4. Bakpia Mutiara
Bakpia merupakan salah satu oleh-oleh wajib yang harus saya beli saat saya liburan kuliah. Mengapa? Karena Jogja identik dengan bakpia dan semua orang berpikir bahwa bakpia adalah asli Jogja. Bakpia, makanan yang terbuat dari campuran kacang hijau dengan gula yang dibungkus dengan tepung lalu dipanggang, berasala dari dialek Hokkian bak, yang artinya daging, dan pia yang artinya kue. Dengan kata lain, bakpia termasuk salah satu masakan yang populer dari keluarga etnis Tionghoa. Tetapi dalam perkembangannya daging ini mulai digantikan dengan kacang hijau (tou luk pia).
Bakpia Mutiara. Sumber foto: bakpia mutiara.
Bakpia yang terkenal adalah bakpia Pathok, karena produsen bakpia banyak berada di jalan Pathok atau sekarang KS Tubun. Zaman kuliah, saya selalu membeli bakpia Pathok 75 (merk bakpia dulu berdasarkan nomor rumahnya). Tetapi kali ini karena keterbatasan waktu dan juga cuaca yang tidak mendukung, saya hanya mencari di sekitar hotel saja. Akhirnya kami terdampar di bakpia Mutiara. Dengan pasrah kami memilih bakpia all varian. Dan kami tidak menyesal membeli bakpia mutiara ini. Rasanya enak dan kulitnya yang empuk mengingatkan saya akan pia balong Solo kesukaan saya. Rasanya pun bervariasi, dari kacang hijau, cokelat, kacang merah, keju, green tea, dan duren.

Bakpia Mutiara
www.bakpiamutiarajogja.com
Jl. Dagen (dekat Malioboro), Sosromenduran, Jogja
Telp 087774444022

5. Bakso Jawi Bu Miyar
Di tengah cuaca yang hujan melulu selama kami di Jogja, rasanya bakso menjadi salah satu menu yang menarik hati. Hasil googling untuk bakso yang terkenal enak di sekitar kami menunjuk kepada Bakso Jawi Bu Miyar. Review dari Tripadvisor cukup meyakinkan dan lokasinya pun dekat dengan tempat kami menginap. Kami pun mengunjungi tempat tersebut bersama sahabat saya. 
Maaf....sudah siap untuk dimakan baru ingat belum difoto =P
Dari tampilannya, tidak ada sesuatu yang istimewa dari bakso ini. Harganya pun relatif mahal untuk ukuran Jogja, dengan porsi yang tidak besar, mungkin karena terletak di kawasan wisata Malioboro. Tetapi bakso gorengnya memang enak. Anak-anak pun suka. Saat menggigit baksonya pun terasa campuran daging yang lumayan banyak, bukan hanya tepung saja. Tidak heran lima belas menit setelah kami datang, kami datang sekitar pukul 18.30, pemilik tempat mulai beres-beres karena dagangan sudah habis. 

Bakso Jawi Bu Miyar 
Jl. Jogonegaran no 55D Gedong Tengen Jogja
Telp 0274-418620

6. Cengkir
Nama resto ini memang agak unik di telinga, tapi memang namanya Cengkir, bukan cangkir ya bapak ibu. Cengkir Heritage Resto and Coffee menyajikan makanan dengan menu rumahan orang Jawa dan suasana rumahan. Tempat ini katanya baru saja dibuka Januari tahun ini. Tidak heran masih banyak ucapan selamat yang diletakkan di sana. Menu yang ditawarkan terdiri dari 4 jenis, yaitu nasi plus sayur plus sambal (dianggap 1 paket), lauk rumahan, camilan, dan minuman. Lauk yang dijual pun seperti ayam goreng, telur dadar, pindang tepung, tempe garit, bakwan jagung, dan kerupuk, dengan variasi harga antara Rp 1.000,00 sampai dengan Rp 9.000,00. Sedangkan untuk camilan, mereka menawarkan jadah (ketan) bakar, pisang goreng dan tempe mendoan. 
Tampilan Joglo dan dikelilingi oleh sungai
Yang menarik di sini adalah mereka masih memasak menggunakan kayu bakar. Nasinya pun dimasak dengan menggunakan langseng dan kukusan tradisional yang berbentuk kerucut. Makanan yang ada disajikan dalam kuali gerabah, kendil dan piring seperti di rumah. Dengan suasana pedesaan dan tata ruangan yang seperti di dalam Joglo, saya seperti sedang bernostalgia mengenang saat-saat KKN di Gunung Kidul. Apalagi salah satu menu sayurnya adalah sayur jantung pisang, salah satu bahan andalan saya saat KKN dulu. Secara keseluruhan, untuk rasa masih biasa saja. Tetapi untuk suasananya, tempat ini boleh dijadikan sebagai alternatif tempat untuk bernostalgia.
Atas: makanan yang disajikan dalam alat-alat rumah Jawa.
Bawah: suasana di dalam Joglo
Cengkir Heritage Resto and Coffee
Jl. Sumberan II no. 4. Sinduharjo, Ngaglik, Sleman, DIY


7. Bakso Paru Pak Kumpeno
Masih seputar bakso, sebelum kami kembali ke Jakarta, kami diajak papi mami Duo A untuk menyicipi bakso Pak Kumpeno. Makan siang kami kali ini terdengar menarik dengan adanya bakso lagi (saya penggemar bakso dan mie). Saat kami sampai ke sana, kami agak terkaget-kaget dengan ramainya orang yang makan. Padahal tempatnya agak remang-remang gimana gitu deh, sampai si kakak bertanya kepada saya apakah sedang mati listrik (dengan volume yang besar pula). 
Bakso Paru Pak Kumpeno
Yang menjadi ciri khas dari bakso di tempat ini adalah bakso yang ditaburi irisan paru goreng. Saya sebetulnya bukan penggemar paru, tetapi kalau digoreng ya masih bisa makan sedikit. Ternyata paru goreng ini yang membuat baksonya jadi enak. Daging baksonya sendiri tidak se'daging' bakso Jawi. Tetapi taburan paru dan porsi dan harganya memang menjawab pertanyaan kami mengapa tempat ini ramai sekali. Oya, tidak berapa lama setelah kakak bertanya soal mati listrik, lampu di warung ini dinyalakan. Entah kebetulan atau tidak. Hehehe

Bakso Paru Pak Kumpeno
Jalan Godean Km 5, Nogotirto, Gamping. 

Bersambung ke bagian 2

Friday, April 7, 2017

Pushy Day di Taman Pintar

Taman Pintar
Bulan Maret yang lalu kami berkesempatan melakukan perjalanan ke Jogjakarta. Liburan di bulan Maret? Hmm...bukan sih. Ada sesuatu yang harus dikerjakan. Kami sekeluarga mendapatkan kepercayaan untuk terlibat dalam suatu project, lanjutan dari project yang dilakukan anak-anak kemarin. Oleh sebab itu, di benak kami pun tidak ada rencana untuk kelayapan kemana-mana. Bahkan impian saya untuk sowan ke kampus tercinta dan bertemu dengan teman-teman kuliah pun tidak mungkin dilaksanakan karena jadwal yang padat. Memang sih sore agak luang waktunya, tetapi cuaca Jogja yang selalu hujan deras setiap di atas jam dua siang membuat kami duduk manis di hotel. 

Setelah semua urusan selesai, di hari terakhir kunjungan kami di Jogjakarta, kami menyempatkan diri untuk berkunjung ke Taman Pintar. Duo Lynns dan Duo A semangat untuk menuju ke sana. Apalagi setelah menyampaikan ke kakak bahwa Taman Pintar akan lebih seru daripada Bandung Science Center (berdasarkan website-nya), kakak semangat sekali menunggu kedatangan Duo A ke hotel. Setelah Duo A datang, maka kami bersama-sama pergi menuju Taman Pintar.

Seingat saya, zaman saya masih kuliah, saya belum pernah mendengar nama Taman ini. Ternyata memang Taman yang berada di lahan bekas kawasan perbelanjaan ini baru diresmikan pada 16 Desember 2008. Taman ini sendiri terletak berdekatan dengan kawasan Malioboro dan benteng Vredeburg.

Taman Pintar terbagi menjadi 5 tempat kunjungan, yaitu gedung oval, gedung kotak, gedung planetarium, gedung PAUD, dan gedung kerajinan. Gedung PAUD, sesuai namanya, berisi alat peraga pendidikan interaktif (sains, religi, budaya, profesi, flora dan fauna, puzzle, ruang pertunjukan) untuk anak-anak usia 2 hingga 5 tahun. Gedung kerajinan menawarkan program kreativitas seperti membatik, kreasi gerabah, lukis kaos, lukis gerabah, hand on science, presenter TV, dan pelatihan robotik. Masing-masing kegiatan memiliki tarif yang berbeda, antara Rp 10.000,00 sampai dengan Rp 50.000,00.

Saat kami sampai di sana, ternyata rombongan dari sekolah-sekolah sudah banyak. Ada yang anak TK, SD, SMP, dan SMA (baik dari Jogja maupun luar Jogja). Kami tidak menyangka akan sebanyak ini orang yang datang di hari biasa. Segera kami menuju loket tiket. Untuk pembelian tiket, setiap gedung mempunyai harga sendiri-sendiri. Kami memilih tiket untuk masuk ke gedung oval dan kotak (1 tiket untuk dua gedung ini), dan tiket untuk wisata bahari. Sedangkan untuk planetarium, sudah pasti tidak akan terkejar melihat banyaknya pengunjung yang datang.

Petualangan kami di Taman Pintar dimulai dari wisata bahari. Gambar yang ada di loket begitu meyakinkan sehingga kami membeli tiket wisata bahari. Tetapi....wisata bahari hanyalah aktivitas anak-anak untuk naik perahu dan mengendarai perahu mengelilingi kolam ikan mas =D Anak-anak dapat duduk sendiri-sendiri di perahu kecil dan mencoba mengendarainya. Kalau di gambar depan sih anak-anak akan memakai pelampung dan helm, walau kenyataannya saat mereka naik tidak ada yang dipakaikan kepada mereka. Untungnya anak-anak senang.
Wisata Bahari dan mainan di dekatnya
Setelah selesai menaiki perahu mini tadi, kami pun bergegas memasuki gedung oval. Kami disambut dengan akuarium besar dan ikan-ikan air tawar yang besar yang terbang berenang di atas kepala kami. Melihat banyaknya orang, kami pun sibuk mewanti-wanti anak-anak untuk berpegangan tangan dengan orang tua dan tidak sibuk jalan sendiri. Andaikan terpisah pun, kami meminta mereka untuk diam di tempat mereka dan biarkan kami yang mencarinya.

Setelah melalui akuarium air tawar tadi, kami masuk ke zona kehidupan purba. Di sini berisi dinosaurus dan orang-orang prasejarah. Tidak ketinggalan juga ada film Dinosaur Train kesukaan Duo Lynns. Setelah itu kami memasuki dome area. Di area ini terdapat zona tata surya, dan berbagai aktivitas fisika seperti air track, spektrum warna, mesin whimshurt, dan sebagainya.
Atas: spektrum warna yang akan menjadi putih jika diputar, mesin whimshurt pembangkit listrik elektrostatis.
Bawah: ilusi mata yang bisa melebar dan mengecil dan Eddy's current
Setelah puas melihat-lihat, kami berpindah ke bagian zona iklim dan gempa. Yang keren di bagian ini adalah pengunjung dapat mencoba merasakan gempa. Apa tanggapan mereka? Tidak enak, jawab mereka. Kami berjalan ke atas. Sepanjang perjalanan keatas, terdapat banyak foto tokoh-tokoh yang berjasa dalam bidang ilmu pengetahuan, seperti Phytagoras, Tim Barnes Lee, B.J. Habibie, dan sebagainya. Siapa yang norak? Tentu bukan anaknya, tetapi mama papanya.
Tokoh Indonesia yang mengharumkan nama bangsa. 
Setelah sampai di atas, keadaan mulai sesak dan panas. Seakan tidak ada udara karena jumlah pengunjung yang begitu banyak. Dan pengunjung yang banyak ini rata-rata anak SD kelas 4 ke hingga anak SMA. Dan saat diatas, acara pendorongan pun dimulai. Kakak beberapa kali terdorong oleh anak-anak yang besar. Di bagian atas dimulai dengan mengenal bagian-bagian tubuh dan metamorfosis dari katak. Yang menarik di sini adalah kerangka manusia yang dapat naik sepeda. Jika disampingnya ada orang yang mengayuh pedal, maka kerangka ini juga akan bergerak. 
Atas: Pencerminan, panca indera, kerangka yang bergerak.
Bawah: Baterai tangan, metamorfosis katak, dan sensor.
Masih dibagian atas dari gedung oval, zona berikutnya adalah zona energi. Di sana disediakan pedal sepeda yang dapat dikayuh. Semakin besar daya kayuhnya, maka lampunya akan menyala. Ini menggambarkan perubahan dari energi kinetik menjadi energi listrik (kalau saya tidak salah ingat). Di sini juga ada bagian favorit ibu-ibu, yaitu simulasi pemakaian listrik pada beberapa alat rumah tangga. Selain itu juga ada bola ajaib yang membuat listrik statis atau yang dikenal sebagai Generator Van de Graaf. Big A memegang bola dan dengan adanya listrik statis, maka rambut big A pun berdiri. Berhubung kakak pernah mengalami hal seperti ini saat di Habibie Festival, maka kakak tidak mau mengulanginya kembali. Tetapi sayangnya kakak sempat tersengat listrik statis karena berada di area medan listrik tersebut. Dibanding dengan bola ajaib saat di Festival Habibie, sengatan yang di sini lebih besar sehingga lebih sakit tentunya jika tersengat. Dan sedang merasa kaget karena tersengat, serombongan anak SMP dengan cueknya menyerbu bola ajaib. Maka anak-anak pun terdorong sedikit lagi. Hujan lokal pun terjadi. 

Akhirnya kami mengalihkan mereka untuk melihat bagian lainnya. Kami tertarik dengan dua tiang yang lurus.Yang satu berbentuk tegak dan yang satunya tiang lurus yang miring. Kedua tiang itu akan diayunkan dan masuk melalui lintasan yang lengkung (untuk tiang yang miring) dan lintasan yang lurus (untuk tiang yang lurus). Dengan semangat kakak mengayunkan tiang lurus tersebut, tetapi kakak lupa menarik kepalanya. Dan....kepala kakak pun terkena tiang lurus tersebut. Aduh nak....Belum hilang rasa sakit akibat kesetrum, eh kepalanya terkena tiang sampai benjol. (dan mamanya ketawa dulu lagi....maafkan mama ya, nak). 

Kembali ke tiang tersebut, ternyata tiang yang lurus dapat melalui lintasan yang melengkung. Mengapa? Karena saat tiang lurus diputar, tiang tersebut akan membentuk 3D yang disebut hyperboloid. Bentuk yang tercipta dari hyperboloid itu adalah bagian dari hyperbola (terbayang sudah rumus hyperbola, elips, dan teman-temannya). Lintasan lengkung yang terlihat adalah bagian dari hyperbola yang menyebabkan tiang lurus dapat masuk melalui lintasan yang melengkung ini.  
Atas: hologram dan hyperboloid
Bawah: papan listrik dan mengubah energi kinetik menjadi cahaya
Setelah itu kami memasuki area gedung kotak. Ada apa saja di gedung kotak? Diawali dengan patung sapi perah yang melambangkan zona pengolahan susu. Anak-anak dapat mencoba memerah susu dari sapi perah bohongan tersebut. Saat kami mencoba untuk memerah, tercium bau hangus. Mungkin mesih di dalam sapi perah tersebut sudah panas karena sapinya diperah terus =D Setelah itu kami melalui zona pengolahan air bersih, lorong ilusi, zona teknologi otomotif roda dua, zona sumber daya air, dan zona nuklir. Karena ramainya minta ampun, kami pun seakan dikebut untuk segera berjalan.

Setelah berkutat dengan Sains dan teknologi, maka kami memasuki gedung memorabilia. Di gedung ini terdapat tiga bagian yang bertujuan untuk mengenang sejarah dari bangsa kita, yaitu sejarah Kasultanan Kraton, Tokoh Pendidikan, dan Kepustakaan Kepresidenan. Tempat ini kurang banyak dikunjungi saat itu, sehingga kami bisa ngadem sebentar di sini.
Gedung Memorabilia dan Sahabat Pemberani
Kami mulai memasuki zona yang lebih menonjolkan kebudayaan. Di zona Indonesiaku ini terdapat miniatur Borobudur dan juga bermacam-macam keris. Selain itu di sini juga ada alat musik gamelan yang dapat dimainkan oleh pengunjung. Dan bagian yang menarik minat saya adalah bagian wayang.
Miniatur Borobudur.
Keris dan jenisnya.
Wayang biasanya dibuat dari kulit kerbau karena daya tahan kulit kerbau yang baik dan tidak mudah melengkung. Dan untuk menghasilkan wayang yang bagus, kulit ini harus melewati proses bahan dan nyorek. Maksudnya adalah kulit ini harus ditarik dan direntangkan semaksimal mungkin, kemudian dibersihkan sehingga tidak ada lapisan bulu dan lemak. Setelah itu kulit harus dikeringkan. Dan proses pengeringan ini pun dilakukan diatas perapian selama 1 tahun. Setelah kulit kering, proses berikutnya adalah proses natah. Pada proses ini baru dilakukan pembuatan sketsa diatas kulit tersebut dengan alat khusus yang disebut tatah corekan. Setelah sketsa jadi maka masih dengan alat yang sama mulai dibuat detil pada muka dan bagian lainnya.

Setelah proses natah selesai, proses selanjutnya adalah proses Andasari dan nyungging. Tujuan proses ini adalah memberi warna dasar pada wayang. Dengan menyungging, pori-pori kulit akan tertutupi dan nantinya warna yang akan diberikan terlihat lebih matang. Pada umumnya diberikan warna putih yang dicampur dengan warna kuning yang didapatkan dari bubuk tulang. Tetapi sebelum menyungging, kulit yang sudah ditatah tadi dihaluskan dengan kulit kerang yang disebut kuwuk.

Setelah menghaluskan dan menyungging, dimulailah proses pewarnaan yang disebut proses amerna, isen-isen, angedus, dan gapit. Amerna merupakan proses memberi warna pada bidang sungging, terutama busana. Setelah busana diberi warna, dilakukan proses isen-isen, yaitu memberi motif atau dekorasi pada kulit yang sesuai dengan tokohnya. Setelah semua warna sudah diberi dengan lengkap dan sempurna, maka wayang tersebut akan masuk proses angedus atau ambabar, yaitu pelapisan (coating) wayang agar warnanya lebih tahan lama. Bahan pelapisnya dibuat dari campuran ancur lempeng dan putih telur. Setelah itu baru diberikan rangka penegak tubuh dan pegangan wayang kulit atau gapit. Bahan dari gapit sendiri biasanya dari tanduk kerbau.
Searah jarum jam: proses pembuatan wayang.
Karena sudah hampir jam 12.00, kami segera turun ke bawah dan sampailah kami di area food court. Waktunya anak-anak nyemil sebentar, sebelum kami kembali ke hotel untuk check out. Saya bertanya kepada Duo Lynns apakah mereka menyukai berada di Taman Pintar. Kakak dengan cepat menjawab dia lebih menyukai saat berada di Bandung Science Center  karena ada staf yang menerangkan berbagai alat di sana dan tidak ada dorong-mendorong. Memang hari ini kakak banyak mengalami didorong anak besar yang ingin melihat benda juga. Bahkan kakak berkata "today is my pushy day".

Secara keseluruhan, tempat ini sangat baik. Anak-anak dapat mengetahui banyak ilmu pengetahuan, mulai dari sains, sejarah, budaya, dan kesenian. Hanya saja permasalahan yang selalu dihadapi oleh fasilitas publik di negara tercinta kita adalah kurangnya perawatan pada alat-alat yang ada dan pengunjung yang semaunya. Mungkin lain kali, kami akan coba untuk mengunjungi saat tidak begitu ramai :)
Playground dan Taman Lalu Lintas. 

Taman Pintar
Alamat: Jl. Panembahan Senopati no 1 - 3 Jogjakarta.
email: info@tamanpintar.com
Telp: 0274 - 583631
Jam operasional: 08.30 - 16.00
Harga tiket:
Gedung oval dan kotak: Rp 10.000,00 (Pelajar) dan Rp 18.000,00 (dewasa)
Wisata Bahari : Rp 4.000,00
Gedung Paud: Rp 3.000,00
Planetarium: Rp 15.000,00
Wahana 3D: Rp 15.000,00 (Pelajar) dan Rp 20.000,00 (dewasa)

Thursday, March 16, 2017

Mengejar Cashback di GATF 2017 Fase 1


Masih ingat kisah kami saat berburu tiket murah di GATF 2016 kemarin? Kali ini Garuda mengadakan kembali acara GATF di JCC dari tanggal 10 sampai 12 Maret 2017. Berdasarkan pengalaman kami dua kali membeli tiket di GATF fase 2, maka kali ini kami berencana mencoba untuk mencari tiket murah di GATF 2017 Fase 1. Dan .....kami berencana untuk mengantri mendapatkan gelang cashback. Apa sih fungsinya gelang cashback

Saat GATF, harga tiket Garuda menjadi murah. Di jam-jam tertentu, jam 10.00 - 13.00 dan 16.00 - 18.00, harga tiket yang tadi sudah murah didiskon lagi. Bagi yang mempunyai gelang cashback, harga yang sudah murah tersebut akan mendapatkan cashback. Contohnya tiket ke Jepang (tiket yang paling banyak diincar saat GATF 2016 kemarin) saat GATF dijual sekitar Rp 5,2 juta. Harga saat happy hour menjadi Rp 4,7 juta. Dan jika punya gelang cashback, maka pemegang tiket dapat potongan sebesar Rp 1,5 juta sehingga harga tiket menjadi Rp 3,2 juta. Lumayan banget kan selisihnya?

Selisih yang lumayan itu tentunya membutuhkan perjuangan. Untuk mendapatkan gelang tersebut, ada beberapa syarat yang harus dipenuhi.
1. Jenis kartu kredit yang berhak mendapatkan promo cashback adalah: Kartu Kredit Garuda BNI Platinum & Signature, Kartu Kredit BNI Platinum (VISA, Mastercard, JCB) dan Kartu Kredit BNI Infinite (Tidak berlaku untuk iB Hasanah dan Corporate Card).
2. Tersedia 275 gelang cashback / hari / nama nasabah untuk 550 (lima ratus lima puluh) tiket return / PP. Untuk mendapatkan cashback, Pemegang Kartu Kredit melakukan antrian terlebih dahulu untuk mendapatkan gelang di BNI Ticket Box dengan menunjukkan KTP / SIM / Paspor asli yang masih berlaku (bukan fotocopy atau picture di WA / BBM).1 (satu) orang Pemegang Kartu Kredit hanya berhak mendapatkan 1 (satu) gelang dan hanya berlaku di hari yang sama.
3. 1 (satu) gelang berhak mendapatkan cashback untuk maksimal 2 (dua) tiket return / PP (tidak berlaku untuk pembelian paket tur). Cashback tidak berlaku apabila hanya melakukan pembelian tiket one way. Total transaksi yang tertera di sales draft harus sesuai dengan total transaksi di bukti pembelian / invoice / print out ticket.
4. Selanjutnya Pemegang Kartu kredit harus bertransaksi di Travel Agent peserta GATF selama event berlangsung.
5. Setelah melakukan pembelian tiket, Pemegang Kartu Kredit BNI menuju Redemption Booth Kartu Kredit di area Assembly Hall untuk klaim cashback dengan menunjukkan gelang, Kartu Kredit, bukti pembayaran (sales draft) dan bukti pembelian (invoice dan print out tiket). BNI tidak akan memberikan cashback apabila gelang dalam kondisi rusak atau dilepas.Nama yang tertera di Kartu Kredit BNI harus sama dengan KTP / SIM / Pasport asli.
6. Pemegang Kartu Kredit BNI tidak harus ikut dalam perjalanan.

Kalau dilihat dari GATF tahun lalu, jumlah kuota gelang berkurang 75 gelang. Yang berarti perjuangan untuk mendapatkan cashback cukup panjang.Kalau disimpulkan, ada dua hal yang harus dilakukan untuk mendapatkan gelang tersebut, yaitu. 
1. Pemegang kartu kredit BNI harus mengantri dari pagi untuk mendapatkan gelang.
2. Setelah mendapatkan gelang dan membeli tiket yang diinginkan, pemegang gelang harus mengantri kembali untuk mendapatkan cashback di redemption booth BNI. Walaupun tertulis ada 550 cashback, tetapi cashback-nya berdasarkan kuota juga. Intinya, siap cepat dia dapat. 

Berbekal informasi yang kami dapatkan, papa berencana datang pagi-pagi untuk mencoba keberuntungannya, sementara saya dan anak-anak pergi belakangan. Papa sengaja tidak membawa mobil daripada repot cari parkir dan antri keluar. Saat papa sampai di JCC, antrian yang ada sudah mengular sampai ke area jalanan. Ternyata peminatnya banyak sekali. Papa sempat ngobrol dengan pak satpam dan pak satpam bilang yang sudah antri kurang lebih 400 orang dan ada yang datang dari malam (ternyata oh ternyata).
Antrian saat pukul 06.45.
Saat kami datang menyusul, pembagian gelang cashback sudah tinggal 5 lagi, sedangkan antrian di depan papa masih ada 50 orang. Sekarang tujuan mengantrinya hanya untuk mendapatkan tiket masuk travel fair secara gratis. Selesai mengantri untuk mendapatkan tiket masuk, kami kembali mengantri untuk masuk ke dalam travel fair. Pengalaman pertama bagi kami. Selama ini kami tidak perlu mengantri untuk masuk. Kami hanya mengantri untuk mendapatkan tiket gratis untuk masuk dari garuda members dan masuk setelah semua yang mengantri sudah masuk. 

Setelah masuk, kami segera menuju area travel agent. Pembagian untuk travel agent pun terbagi menjadi tiga kelompok yaitu Platinum, Gold, dan Potensial. Kelompok Platinum adalah travel agent yang lumayan besar seperti Bayu Buana, Dwi Daya, Avia, Panorama, Obaja, dan sebagainya. Lokasi booth mereka berada di dekat pintu masuk. Langganan kami pun ada di kelompok ini. Kami segera menuju travel langganan kami. Tetapi kali ini antriannya sudah mengular. 
Floor plan GATF 2017
Saya pun mengajak anak-anak mengunjungi Kidzone, yang disponsori oleh Kidzania, sementara papa mengantri. Setelah puas bermain, kami kembali menemui papa. Dan antrian hanya berjalan sedikit. Anak-anak mulai bosan karena kali ini pembagian 'goodie bag' dan tempat foto-foto di GATF ini tidak sebanyak sebelumnya. Akhirnya saya mencoba berkeliling mencari travel agent yang tidak begitu ramai sementara papa tetap mengantri. Karena melihat antrian di Obaja tidak begitu ramai, saya mencoba untuk menanyakan harga tiket tujuan kami. Ternyata harganya tidak jauh berbeda dengan tempat langganan kami. Demi menghemat waktu, semakin mendekati makan siang, maka kami pun berpindah tempat ke Obaja.
Kidzone by Kidzania
Proses pembelian pun berlangsung dengan cepat karena kami langsung memberikan data yang berisi nama dan tanggal perjalanan kami di kertas. Mas yang bekerja di Obaja senang dan berkata andai semua pembeli tiket seperti ini, proses dapat berjalan dengan cepat. 
Antrian di travel agent
Kesimpulan kami dari pengejaran cashback kami kali ini adalah:
1. Bagi pemegang kartu kredit BNI, jika memang ingin mengejar cashback, maka sebaiknya datang lebih awal (baca: dari dini hari kalau perlu). Tetapi jika tidak mengejar cashback, cukup dengan mengejar happy hour dan pembayaran dengan cicilan 0% saja.
2. Bagi setiap pemburu tiket murah, sediakan pilihan tanggal keberangkatan. Jadi andaikan tanggal yang diinginkan tidak tersedia, ada pilihan tanggal lain. Seringkali yang jadi lama antrinya adalah karena si pemburu tiket tidak mempersiapkan data dan tanggal.
3. Selain cashback kartu kredit BNI, ada juga cashback debit BNI yang tidak perlu menggunakan gelang. Tetapi memang kelebihan pembayaran dengan kartu kredit BNI adalah promo cicilan 0%-nya. 
4. Jangan lupa mencari booth untuk permainan setelah membeli tiket. Setelah mengikuti permainan, biasanya akan mendapatkan voucher yang dapat digunakan. Lumayan kan :)
Atas: antrian untuk cashback BNI, panjangnya... 
Jam operational: 10.00 -  22.00
Jam buka loket tiket: 08.00 (BNI) dan 09.00 (umum)

HTM:
-Rp 35.000,00 (gratis untuk anak dibawah 5 tahun dan lansia diatas 65 tahun)
Gratis biaya masuk bagi:
Member GarudaMiles Platinum : 1 (satu) orang
Pemegang Kartu Kredit BNI Infinite, Platinum, dan Emerald : 2 (dua) orang
Pemegang Kartu Kredit GA BNI Co-Brand Visa Signature & Visa Platinum : 2 (dua) orang
Pemegang Kartu Debit Garuda-BNI : 1 (satu) orang
Pemegang Kartu BNI iB Hasanah : 1 (one) orang

Periode Pemesanan: 10 - 12 Maret 2017
Periode Penerbangan: 10 Maret 2017 - 28 Februari 2018
Blackout date:
- Rute internasional: 22 - 29 Juni 2017
- Rute domestik: 16 Juni -  2 Juli 2017 dan 21 Desember 2017 - 3 Januari 2018

Happy hour (Jakarta)
10.00 - 13.00 WIB
16.00 - 18.00 WIB
Jadwal Shuttle Bus
Disclaimer: Postingan ini murni dari pengalaman kami dalam mencari tiket murah. Tujuannya supaya banyak keluarga yang dapat mengajak anak-anaknya untuk jalan-jalan bersama orang tuanya. (Biasanya kan anak-anak tidak diajak dengan alasan harga tiket mahal). So...ini bukan postingan promosi terhadap salah satu pihak ya :)

Monday, March 6, 2017

Di Saat Kidzania ramai....


Kidzania, kotanya anak-anak, merupakan salah satu tempat favorit Duo Lynns. Setelah kunjungan ke Kidzania waktu yang lalu, kakak dan adik sering  berpura-pura sedang di dalam Kidzania. Kakak jadi petugas lab Yakult, sambil minum Yakult yang ada di kulkas, sedang adik jadi mbak yang ada di kebun teh. Mereka mengulang semua kata-kata yang mereka dengar dan menyampaikannya dengan gaya mereka. Setiap bermain, mereka akan bertanya kapan mereka main ke Kidzania lagi. Apalagi setelah mereka tahu bahwa kami mendapatkan satu voucher Kidzania saat GATF 2016 kemarin.

Pucuk dicinta ulam tiba. Setelah mereka bernyanyi di salah satu seri lagu tentang karakter, mereka diajak bermain ke Kidzania oleh oma J bersama Duo A, teman mereka. Berhubung sudah memasuki waktu liburan, maka papa melihat hari apa yang masih ada slot untuk orang dewasa. Ternyata penuh loh kalau masa liburan. Yang kosong hanya hari terakhir sebelum Kidzania memasuki peak season. Kami, para orang tua, berpikir daripada peak season, sudah harga liburan tetapi satu sesi hanya 5 jam, lebih baik kami bermain di hari terakhir sebelum peak season walau sesinya juga hanya 5 jam. Kalau sebelumnya papa membeli tiket online di website resmi Kidzania, kali ini saya mencoba mencari tiket Kidzania di Groupon dan Lakupon. Akhirnya kami membeli dari Lakupon, karena kuota untuk Groupon sudah habis. Karena saya sudah ada voucher Kidzania, maka kami hanya membeli 2 untuk Duo Lynns dan 3 untuk Duo A dan maminya, karena sang kepala keluarga sedang bekerja. Saat di detik-detik terakhir papa dari Duo A memutuskan untuk ikut.

Saat hari h, kami berangkat lebih awal dengan menggunakan Grab dan petualangan kami di Pacific Place dimulai. Kami datang lebih awal supaya tidak susah mengurus tiket dari lakupon dan voucher Kidzania dari  GATF. Saat kami datang, rombongan anak sekolah juga sudah banyak. Dari anak TK sampai anak SMP atau SMA. Bagaimana dengan acara bermain di dalam sana? Dibanding saat kami mengunjungi Kidzania waktu lalu, antrian kali ini sangat ramai dan penuh. Karena Duo A belum datang, maka anak-anak mulai bermain. Yang mereka incar adalah suster lagi. Antrian suster sih sedikit, yang banyak adalah antrian medical check up untuk membuat SIM. 
4 suster yang sedang memberi susu sambil menyanyikan lagu 
Setelah bermain peran menjadi suster, kami mencoba mencari tempat yang antriannya tidak banyak. Sembari menunggu Duo A yang belum datang, anak-anak mampir ke Indomart. Saat itu hanya tiga anak, termasuk Duo Lynns, yang masuk ke dalam. Kali ini kakak berkesempatan menjadi kasir. Senangnya kakak dan adik pun menjadi pembeli yang baik. 
Bermain kasir dan pembeli di supermarket.
Selesai bermain, Duo A sudah sampai di depan Kidzania. Kami pun menunggu mereka masuk, dan setelah itu 4 anak ini mencoba bermain bersama di kokpit pesawat. Sayangnya karena adik masih 4 tahun, maka adik tidak dapat ikut bermain. Maka adik pun memilih untuk bermain di Teh Pucuk. Tetapi antrian Teh Pucuk itu panjangnya minta ampun. Akhirnya adik memilih untuk bermain menjadi apoteker di Farmasi. Kalau waktu yang dulu di bagian farmasi adalah mencampurkan asam dan basa, kali ini anak-anak diminta untuk menggerus obat hingga halus, kemudian memasukkan ke dalam botol dan memberi air ke dalamnya.
Adik sedang meracik obat.
Bagaimana dengan yang bermain di kokpit pesawat? Kalau biasanya orang tua hanya melihat dari kaca, tetapi untuk permainan pesawat ini orang tua diminta melihat dari screen di lantai bawah. Masalahnya adalah gambarnya begitu gelap, sehingga tidak jelas apa yang mau dilihat.  Selesai bermain, keempat anak ini mencoba mengantri bersama-sama di Teh Pucuk. Antrian ini tidak begitu jelas, karena yang mengantri adalah orang tua atau nenek-kakeknya. Saya pun memeriksa apakah ada mainan di bawah yang agak lengang. Untungnya blibli.com kosong. Maka anak-anak pun berlari ke bawah untuk bermain di blibli.com.

Masih sama seperti sebelumnya, anak-anak bertugas untuk mengirimkan paket. Mereka dibekali dengan ipad yang berisi data customer dan lokasinya. Yang kami bingung adalah keempat anak ini dilepas sendiri. Mbak yang bertugas tidak ada yang mendampingi. Kalau yang sebelumnya, ada satu petugas yang mendampingi Duo Lynns dan K untuk berkeliling. Tetap anak-anak yang mengantar barang, tetapi petugasnya yang mengawasi karena akan menggunakan lift dan sebagainya. Yang kali ini mbaknya asyik ngobrol. Akhirnya kami, mama-mama, memutuskan untuk mendampingi. Dan untungnya kami mendampingi, karena anak-anak ini akan menggunakan lift.

Selesai bermain di blibli.com, mendekati jam makan siang, anak-anak bermain membuat pizza. Membuat pizza dan burger tidak seramai tempat yang lain, bahkan nyaris sepi. Mungkin karena harus membayar untuk membuat makanan ini. Kalau di kunjungan sebelumnya dua anak boleh membuat pizza ukuran medium, kali ini 2 anak diharuskan membuat pizza ukuran besar. Sekalian untuk makan siang kami, pikir saya (dan oleh-oleh untuk papa kata adik). 
Membuat pizza.
Untuk menghemat waktu, anak-anak makan sambil mengantri untuk bermain. Setelah membandingkan, waktu antrian yang sedikit hanyalah dibagian stasiun TV. Awalnya kami mau bermain ke tempat pembuatan mie, tetapi sayangnya antrian panjang (sekitar 40-50 menit) dan mesin packaging mie-nya rusak. Akhirnya kami kembali ke stasiun TV. Kakak dan Big A, yang usianya lebih besar dari kakak, menjadi reporter. Sedang adik dan Little A, yang usianya belum genap 6 tahun, bermain di ruang audio.
Reporter cilik
Selesai bermain, kami memutuskan untuk ke bawah mencari permainan yang antriannya tidak panjang sekali. Sudah pasti pemadam dan racing car dilupakan, karena antriannya dari awal sudah tidak masuk akal. Akhirnya kami berpencar karena Big A mau main menjadi petugas Yakult. Kakak pun mau main lagi, dengan tujuan supaya bisa mendapatkan pin I'm scientist yang dapat diberikan ke adik karena adik belum punya. Saya membawa adik dan Little A berkeliling untuk mencari mainan yang dapat dimainkan oleh mereka. Akhirnya mereka memilih menjadi petugas pembersih jendela, karena antriannya masuk akal dan sesuai umur mereka. 

Di permainan ini, anak-anak akan mengenakan helm dan naik ke atas gondola. Setelah itu gondola akan naik ke atas dan mereka tinggal menyemprot air ke jendela dan membersihkan jendela. Permainan ini menarik bagi saya, karena pada kenyataannya tidak mungkin kita mencoba gondola pembersih jendela. Hmm..... Saya juga mau coba naik ke atas gondola itu, sayang tidak boleh.
Pembersih jendela yang helmnya kebesaran
Selesai bermain, papinya Duo A berkata bahwa di tempat penambangan agak kosong. Tetapi ternyata tinggal 2 tempat tersisa. Adik tidak dapat mengikuti karena masih 4 tahun. Kakak memutuskan tidak mau juga karena tidak mau bertemu cacing (mainan ini disponsori oleh Combantrin). Akhirnya Duo A bermain di situ.

Duo Lynns memilih bermain membuat baju di Vita's Cloth. Waktu sebelumnya berkunjung ke sini, Vita's Cloth tutup. Jadi kali ini mereka dengan semangat mencoba bermain di sini. Di Vita's Cloth, anak-anak akan membuat dan menghias baju. Tentunya tidak menggunakan jarum dan benang, hanya double tape. Berhubung Duo Lynns cepat membuatnya, maka kami masih ada sisa waktu untuk bermain satu permainan lagi. 
Sebagian spot yang ramai, mama anak-anak sedang antri
Pilihan yang tersisa adalah Tango. Duo Lynns dengan semangat masuk ke tempat bermain Tango bersama dua anak lagi yang sudah cukup besar. Aktivitas di sini masih sama, membuat 2 kemasan wafer Tango sendiri dan boleh dibawa pulang. Mereka sudah berniat untuk membagi dengan papanya dan omnya, adik saya. Alasannya, karena papa tidak ikut dan omnya belum pernah ke Kidzania.
Tango factory
Kami ke bawah untuk menjumpai Duo A dan orang tuanya. Melihat waktu yang tersisa hanya sedikit dan tidak ada lagi mainan yang dapat dimainkan di sisa waktu yang ada, maka kami memutuskan untuk keluar. Ternyata untuk keluar pun kami harus antri. Antrinya pun sekitar 1 jam. Wow.... Perjuangan sekali untuk keluar. Kami sempat berbincang dengan 1 keluarga lainnya yang ternyata juga membeli tiket untuk sesi kedua. Mereka tetap harus keluar dahulu, kemudian nanti antri untuk masuk lagi. Petugas Kidzania juga berkata hari ini memang ramai sekali, bukan hanya oleh rombongan sekolah tetapi juga oleh anak-anak SMP dan SMA. Akhirnya kami berhasil keluar dari Kidzania dan saat melihat antrian yang akan masuk lagi, kami tidak terbayang jika harus mengantri lagi untuk masuk. 

Di pintu keluar, papa sudah datang dan Duo Lynns dengan semangat bercerita pada papa kalau mereka bermain ini dan itu. Total ada 9 permainan yang dapat mereka mainkan. Lumayan banyak sih, melihat keadaan yang super duper ramai. Oma J menghubungi kami dan berkata masih dalam perjalanan ke Pacific Place. Rencananya kami akan makan bersama dengan oma J. Sambil menunggu oma J yang sedang dalam perjalanan ke sini, kami berkeliling sebentar. Karena tadi di dalam sudah makan pizza, maka Papa Duo A memutuskan untuk makan mie di Ikkudo Ichi. Saat oma J datang, anak-anak senang sekali. Mereka berterima kasih dan semangat bercerita. Senangnya melihat anak-anak ini bercerita dengan semangat :)
Keseruan mereka menjadi awak kapal di PP
Beberapa hal yang harus diperhatikan jika bermain saat Kidzania ramai:
1. Pilihlah permainan yang tidak antri terlebih dahulu. Saat anak sedang bermain, mamanya yang pro aktif berkeliling untuk mencari tempat-tempat yang antriannya sedikit. 
2. Jika memang ada permainan yang memang diincar oleh anak-anak, seperti pemadam, dokter gigi, bermain mobil, maka harus siap mengantri.
3. Saat peak season, sebagian petugas di sana agak judes tidak ramah. Bahkan ada yang terkesan cuek dan memberikan informasi yang berbeda dengan keterangan di dinding. Daripada kita emosi, lebih baik harap maklum saja karena mereka harus bertemu banyak orang dan anak yang terkadang memang membuat sakit kepala. 
4. Pastikan anak sudah bersama dengan papa, mama, sus, mbak, oma atau opa. Keadaan yang super penuh dapat membuat anak terhilang. Kalau mau aman, selalu pegang tangan anak. Little A sempat terhilang karena berhenti dan asyik menonton permainan yang lain. Dan ada baiknya anak diberi tahu jika mendadak tersesat, mereka berdiri di tempat yang ramai dan jangan berkeliling juga. Biar lebih mudah untuk mencari. Daripada kita bermain petak umpet di Kidzania =P
5. Jika melihat di website kuota untuk orang tua mendadak habis, kita dapat membeli on the spot. Biasanya pihak Kidzania menyimpan beberapa kuota yang dijual di tempat. Tetapi lebih baik dipersiapkan sebelumnya. 
6. Saat ramai, antri untuk keluar juga menghabiskan waktu. Jadi jika tidak ada lagi yang mau dimainkan atau mau buru-buru pulang, disarankan keluar lebih awal.

Kidzania
website: kidzania.co.id
Tempat: Mall Pacific Place lantai 6 - 601 Sudirman Central Business District
No telepon: 021 - 5154888

Jam buka:
Senin - Kamis:  Sesi 1: 09.00 - 16.00 (7 Jam), 
Jumat - Minggu dan Hari libur: Sesi 1: 09.00 - 14.00 (5 Jam) dan Sesi 2: 15.00 - 20.00

HTM untuk Senin - Jumat:
Batita (2 - 3 tahun) : Rp 50.000,00
Anak-anak (4 - 16 tahun) : Rp 150.000,00
Dewasa (17 - 64 tahun) : Rp 100.000,00
Senior (>65 tahun) : free

HTM untuk Sabtu, Minggu, Hari Libur:
Batita (2 - 3 tahun) : Rp 100.000,00
Anak-anak (4 - 16 tahun) : Rp 250.000,00
Dewasa (17 - 64 tahun) : Rp 200.000,00
Senior (>65 tahun) : free

Update HTM berdasarkan website resmi per Juli 2018