Saturday, September 2, 2017

Kulineran di Singapore


Jalan-jalan tidak dapat dipisahkan dengan kulineran. Apalagi bagi kami yang tidak doyan belanja, menyicipi makanan yang terkadang tidak ada di Indonesia atau ada tetapi rasanya tidak seenak di luar merupakan suatu keseruan tersendiri. Berikut beberapa hasil kulineran kami. Ada yang di dalam mall, ada yang di luar mall. Ada yang halal dan ada yang non halal. 
Bak kut teh
Bak kut teh 
Chinese soup yang satu ini biasanya banyak ditemukan di Malaysia dan Singapore ini banyak digemari. Bak kut teh berarti teh daging iga. Tetapi bukan berarti daging iga ini dimasak dengan teh. Bak kut teh merupakan sejenis soup daging iga (biasanya iga babi) yang dimasak dengan rempah-rempah. Jadi teh di situ bukan berarti masaknya pakai teh. Ada dua jenis bak kut teh, yaitu bak kut teh dengan kuah bening ala Teochew, dan bak kut teh dengan kuah gelap ala Klang. Makanan ini dapat ditemukan hampir disetiap food court dan di setiap jalan. 

Setiap kami ke Singapore, kami selalu diajak makan di Lau Hock Guan Kee Bak Kut Teh di daerah Joo Chiat. Selain bak kut teh ala Teochew, tempat ini terkenal dengan tim ikan dan makanan lainnya. Tidak heran tempat ini selalu ramai dan pernah masuk surat kabar lokal. Sayangnya kedatangan kami di liburan kami kemarin adalah kunjungan kami yang terakhir ke tempat ini. Pemilik Lau Hock Guan Kee akan menutup restoran ini karena salah satu dari pendirinya sudah meninggal Maret kemarin dan mereka sudah kekurangan orang untuk bekerja di sini. Banyak penggemar tempat ini, termasuk kami, yang tidak rela tempat ini tutup. Nampaknya kami harus hunting lagi tempat Bak Kut Teh yang enak.
Uncle yang sedang menyiapkan dagangannya
Es Krim Orchard
Yang satu ini pasti sudah dikenal oleh semua orang. Es krim yang satu ini memang enak. Bahkan di mall-mall Jakarta pun sudah bermunculan es krim potong ala Singapore ini. Jika di Jakarta satu potongnya dijual dengan harga lima belas ribu, di tempat asalnya satu potong dijual seharga 1.2 SGD. Hanya beda dikit sih, tetapi rasanya beda jauh. Kalau kami sih lebih suka yang di Orchard.
Pilihan menu yang ada
Biasanya si penjual akan keluar mendekati jam makan siang. Nah, setelah kepanasan karena berjalan-jalan di Orchard, rasa es krim potong pun terasa lebih nikmat. Es krim ini biasanya dimakan dengan menggunakan cup, wafer, ataupun roti. Kalau kami lebih suka menggunakan wafer. Untuk pilihan rasa, ada bermacam-macam.

Ice Cream Orchard
Lokasi: sepanjang jalan Orchard Road
Jam operasional: Jam makan siang sampai malam.
Samsim Vietnam Cafe
Samsim Vietnam Cafe 
Berlokasi di daerah Joo Chiat, yang terkenal dengan suasana peranakannya, tempat kuliner Vietnamese ini menjadi pilihan kami saat sudah kelaparan. Terbayang dengan pho yang hangat, kami pun mampir  ke tempat ini. Seperti restoran makanan Vietnam lainnya, tempat ini juga menyajikan Pho. Pho adalah mie kuah Vietnam yang terdiri dari kaldu, mie beras yang disebut banh pho, rempah-rempah khas Vietnam, dan daging, biasanya sih daging sapi atau ayam. Apa sih yang menjadi keistimewaan makanan masakan Vietnam di tempat ini? Masakan Vietnam di tempat ini sangat otentik karena yang masak masih asli dari Vietnam, rempah-rempahnya pun terasa sekali dan bahkan ada pelayannya yang hanya bisa berbicara bahasa Vietnam dan sedikit (banget) Inggris. Tempat ini penuh dengan warga setempat. Selain pho, mereka juga menjual khai vi atau cemilan, hai san atau seafood, dan banh mi atau sandwich

Kami memesan pho dan juga goi cuon atau summer spring roll. Goi cuon adalah lumpia basah dari kulit tepung beras, yang berisi bihun, udang rebus dan sayur.  Makanan ini ternyata dingin, makanya namanya summer spring roll, dan disajikan dengan saos spesial. Kalau menurut saya, yang membuat summer spring roll ini enak ya saosnya ini :)

Samsim Vietnamese Food
Alamat: 235 Joo Chiat Rd.
Jam buka: 11.30 - 00.30
Hawker Center Old Airport dan Maxwell Road. Sumber foto: thebestsingapore.com
Hawker Centre 
Hawker centre atau food court terbuka di Singapore ini dapat ditemukan di setiap beberapa blok di Singapore. Di tempat ini, kita dapat menemukan segala macam masakan khas masyarakat setempat, dari halal sampai non halal, dari vegetarian sampai untuk non-vegetarian. Konsep yang ditawarkan adalah makanan lokal dengan harga yang bersahabat. Hawker centre pun selalu ramai bukan hanya oleh wisatawan, tetapi juga oleh masyarakat setempat.
Food Republic. Sumber foto: foodrepublic.com
Food Republic 
Food Republic menjadi salah satu pilihan kami saat kami di dalam mall dan kami sudah kelaparan. Food court di dalam mall ini juga menyajikan berbagai macam makanan dan minuman. Porsi makanannya cukup besar dan mengenyangkan. Bagaimana dengan harganya? Jika dibandingkan dengan hawker centre, harga makanan di sini lebih mahal. Namanya juga masuk mall dan ber-AC. Tetapi masih bersahabat dibanding restoran di mall lainnya. Yang uniknya, saat kita sedang makan akan ada oma atau opa yang bekerja di sana. Hampir semua restoran dan tempat makan mempekerjakan oma dan opa, mungkin supaya oma dan opa ini ada aktivitas. Oma atau opa di sana juga menawarkan minuman untuk dibeli. Mungkin supaya mempermudah orang-orang yang belum beli minum. 

Food Republic
www.foodrepublic.com.sg
Jam operasional: mengikuti jam buka 
So Pho So Good
So Pho
Masih seputar masakan Vietnam, So Pho menjadi salah satu tempat yang kami kunjungi setelah mengunjungi Gardens by the Bay. Berlokasi di Parkway Parade, mall di daerah East Coast, restoran yang terletak di lantai 3 ini juga banyak penggemarnya. Cafe yang didekorasi secara natural ini bernuansa hitam dan putih . Interior yang unik dengan lampion putih membuat pengunjung merasa sedang makan di pinggir jalan di Vietnam. Yang dijual pun tidak jauh berbeda dengan restoran masakan Vietnam lainnya. Walau tidak seotentik Samsim, rasa makanan di sini lebih asin, menyesuaikan dengan selera masyarakat. Goi cuon di sini pun lebih mungil. Untuk rasa, rasa makanan di sini nikmat bagi kami. So Pho mempunyai cabang di beberapa mall lainnya.

So Pho
Www.sopho.com.sg
Parkway Parade
80 Marine Parade #03-30D Singapore
Jam operasional: 10.00 - 22.00
Yoogane
Yoogane Singapore 
Rasanya semua orang tahu yang namanya Yoogane. Sejak drakor menjamur di mana-mana, Yoogane menjadi salah satu restoran Korsel yang banyak penggemarnya. Kami sendiri salah satu penggemar Yoogane sampai rela berburu Yoogane di Myeongdong. Di Singapore sendiri Yoogane mempunyai beberapa cabang, salah satunya di 313 @Somerset di jalan Orchard. Menu yang menjadi favorit banyak orang adalah bokkeumbap atau nasi goreng. Biasanya kami memesan dua macam, yaitu yang pedas dan yang tidak pedas. Oya, topping di sini hampir mirip seperti yang di Korea. Ada tteokpokki keju dan sweet potato. Banchan atau side dishnya boleh di-refill ya ;) 

Yoogane 313@Somerset 
www.yoogane.com.sg
313 Orchard road #B3 - 27/38
Jam operasional: 11.30 - 22.00
Sakae Sushi
Sakae Sushi
Pertama kali saya mencoba sakae sushi adalah saat saya dan papanya anak-anak baru menikah (nostalgia sedikit boleh dong). Kami dengan tante Duo Lynns menyicipi sakae sushi di Changi. Dan setelah itu saat kami sedang jalan-jalan di Orchard, terkadang kami mampir ke Sakae Sushi di Wheelock Place bersama dengan Duo Lynns. Apa sih yang menjadi daya tarik Sakae Sushi ini? Makanan di sini tidak mengandung MSG. Sehat bukan? Bagi yang tidak begitu suka sushi, di sini juga ada makanan-makanan khas restoran Jepang lainnya. Seperti restoran sushi lainnya, mereka menyajikan beberapa sushi di-conveyor belt. Namun di meja sekeliling conveyor belt, ada keran air panas yang disediakan. Jadi jika kita memesan ocha panas, kita bisa refill sendiri. Untuk outlet Sakae Sushi lainnya, bisa dilihat di website mereka.

Sakae Sushi
www.sakaesushi.com.sg
Wheelock Place
501 Orchard Road #02-13 Singapore
Jam operasional: 11.30 - 22.00


The Soup Spoon. Sumber foto: thesoupspoon.com.sg
The Soup Spoon
Kami sekeluarga penggemar soup. Oleh sebab itu, saat The Soup Spoon buka di Grand Indonesia, kami salah satu pelanggan setia mereka. Karyawan yang kerja di sana pun melihat kakak dari bayi sampai besar. Sayang sekali tidak lama kemudian restoran ini tutup. Karena kami tahu di Singapore juga ada, sesekali kami menyempatkan makan di sini saat kami berkunjung ke Singapore.

Ada delapan macam soup yang selalu ada setiap saat. Bagi vegetarian, mereka menyediakan tomato soup with basil, meatless minestrone, pumpkin roast soup, dan mushroom soup. Bagi yang menginginkan sup bening, ada Tokyo stew. Sedangkan yang menginginkan ada daging dapat memesan chicken and mushroom ragout, beef goulash dan Boston clam chowder. Terkadang juga ada soup istimewa sesuai dengan tema mereka.Walau namanya The Soup Spoon, restoran satu ini juga menyediakan menu selain soup seperti wrap, sandwich, dan salad. Setiap menu soup akan mendapatkan satu roti. Untuk menikmati soup ini, ada juga paket-paket yang menarik.

The Soup Spoon
www.thesoupspoon.com
I12 Katong Mall
112 East Coast Road, Basement 1 unit 12/28
Jam operasional: 11.00 - 21.00

Demikianlah segelintir jajanan dan makanan yang dapat dinikmati saat berkunjung ke negara tetangga kita. Ada yang mau menambahkan, mungkin? ;)

Note: untuk mengetahui cerita perjalanan kami saat liburan di Singapore, silakan klik link berikut ini.

Tuesday, August 22, 2017

Menikmati Suasana Peranakan di Joo Chiat

Peranakan house
Jika ditanya orang tempat jalan-jalan manakah yang memungkinkan kita untuk bertemu dengan orang dari berbagai negara namun dekat dengan negara kita tercinta ini, saya akan berkata Singapura. Di negara tetangga ini bukan hanya ada orang-orang dari Asia, tetapi juga dari luar Asia. Memang Singapura ini terkenal dengan multi etnis tetapi rukun-rukun. Bahkan waktu kami menginap di Holiday Inn Express Katong, kami pun bertemu dengan berbagai macam orang dari berbagai macam negara. 

Kali ini kami mencoba menikmati suasana peranakan di daerah East Coast atau Katong. Tadinya daerah ini merupakan daerah perkebunan kelapa dan digunakan sebagai tempat berlibur di akhir pekan oleh penduduk kota yang kaya. Lama kelamaan daerah Katong berkembang menjadi pemukiman di pinggir kota. Daerah ini dihuni oleh kaum menengah berpendidikan Inggris yang semakin berkembang, termasuk Peranakan dan Eurasia. 

Apa sih peranakan? Peranakan adalah warga keturunan (yang sudah ada sejak abad 17) yang merupakan hasil pernikahan antar etnis yang ada di Singapore. Istilah ini muncul karena banyak imigran dari negara bambu kala itu yang menikah dengan warga kepulauan Melayu non Muslim. Saat itu kebanyakan (bukan semua) peranakan memiliki status sosial menengah hingga tinggi dan berprofesi sebagai pedagang atau saudagar kaya raya. Sekarang sih perkebunan tersebut sudah tidak ada dan berganti dengan pertokoan dan perumahan. Sedang Eurasia adalah warga keturunan yang merupakan hasil pernikahan keturunan Eropa dan Asia.

Biasanya kami hanya melihat dari luar toko-toko di depan I12 Katong yang menjual makanan dan barang-barang khas peranakan, seperti sendal manik-manik, tas manik, aksesories, dan bahkan pakaian tradisional nonya yaitu kebaya dan sarung. Pakaian tradisional nonya itu mirip dengan kebaya encim. Berhubung kami tidak suka belanja, kami hanya mengagumi dari luar saja bentuk toko yang berwarna-warni dan juga pakaian tradisional yang cantik. Selain itu, ada juga makanan-makanan yang menarik untuk dicoba. Rata-rata makanan yang ada mirip dengan jajanan pasar di Indonesia. 
Makanan khas peranakan dan pernak-pernik khas peranakan. Sumber foto: visitsingapore.com dan kimchoo.com
Toko-toko peranakan. Sumber foto: visitsingapore.com
Saat kami ke Singapore beberapa waktu lalu, kunjungan mendadak dan sangat singkat, kami menginap di daerah Joo Chiat. Daerah ini dinamai berdasarkan Chew Joo Chiat, seorang tuan tanah keturunan Tionghoa. Daerah ini juga terkenal sebagai daerah peranakan. Jadi jika biasanya kami hanya melihat toko-toko, kali ini kami berjalan melihat suasana perumahan peranakan. Apakah perbedaan perumahan ini dengan perumahan lainnya? 
Lambang Joo Chiat Heritage di trotoar.
Berdasarkan pengamatan kami, setiap rumah disini merupakan rumah dua tingkat. Tetapi uniknya warna setiap rumah berbeda dan hiasan setiap rumah berbeda. Rumah-rumah inipun merupakan asimilasi dari 3 kebudayaan, yaitu Tionghoa, Melayu, dan Eropa. Ventilasi udara berbentuk sayap kelelawar yang ada disetiap rumah merupakan pengaruh kebudayaan Tionghoa. Bentuk ini menyimbolkan keberuntungan. Sedangkan papan-papan dengan ukiran kayunya merupakan pengaruh Melayu. Bentuk jendela dan daun jendelanya merupakan pengaruh dari Barat. Unik bukan? Bahkan jika dibandingkan dengan toko peranakan di daerah Orchard, rumah-rumah ini lebih keren.
Warnanya cantik ya :)
Di sini juga ada museum peranakan yang dapat dikunjungi. Sayangnya waktu yang singkat membuat kami hanya berkeliling dan berfoto-foto di depan rumah-rumah ini. Walau hanya berjalan sebentar saja di daerah ini, namun bagi kami dan anak-anak bentuk rumah yang beraneka ragam ini menarik hati. Dan Bagi penggemar kuliner, di daerah Joo Chiat juga banyak makanan peranakan yang dapat dinikmati :) 
Warna pastel yang manis


Note: untuk mengetahui cerita perjalanan kami saat liburan di Singapore , silakan klik link berikut ini.

Friday, August 11, 2017

The Cloud Forest di Gardens by The Bay

Cloud Forest
Setelah puas melihat Tulip di Flower Dome, kami pun berpindah untuk masuk ke Cloud Forest. Kali ini kami hanya masuk berenam karena tante Duo Lynns tidak membeli tiket untuk masuk Cloud Forest. Memang pameran di Cloud Forest tidak selalu berganti, sehingga warga lokal jarang bolak-balik mengunjungi Cloud Forest
Entrance to Cloud Forest
Berbeda dengan Flower Dome yang berisi bunga-bunga yang manis, Cloud Forest merupakan tempat pameran vegetasi dari daerah tropis yang berada di ketinggian diatas 2,000 meter diatas permukaan laut. Tempat ini berformat seperti gunung dengan ketinggian 35 meter yang ditutupi oleh vegetasi yang subur. Di sini juga ada air terjun indoor tertinggi sedunia yang tingginya 35 meter. Suhu di ruangan ini adalah 23 - 25 derajat celcius dan kelembapannya sekitar 80 - 90 persen. Jadi memang terasa dingin di dalam sini. Untungnya anak-anak menggunakan jaket.
Dekorasi di luar, penuh dengan hewan-hewan mitologi
Saat masuk ke dalam sini, kami disambut dengan cipratan air yang ternyata berasal air terjun. Walaupun demikian, masih banyak orang yang berfoto di bawah air terjun tersebut, termasuk kami. Saat melihat ke atas, kami melihat jarak menuju atas sangat jauh. Tentu ini membuat oma panik, karena pasti lelah untuk menuju ke atas. Ternyata ada lift yang dapat membawa kita ke lantai 6 dan setelah itu kita dapat menaiki eskalator ke lantai 7. Tetapi di lantai 6 juga tersedia lift menuju lantai 7 yang dikhususkan untuk senior.
Hewan-hewan mitologi yang menyambut kami di Cloud Forest, membuat saya teringat film Legenda Awan dan Angin
Vegetasi di dalam Cloud Forest. Lumutnya seperti karpet
Cloud Forest terbagi menjadi 7 lantai dan mempunyai dua lintasan yang mengelilingi gunung tersebut. Di paling atas atau di lantai 7 ada Lost World. Lost World menyajikan vegetasi Cloud Forest yang dapat ditemukan diketinggian sekitar 2,000 meter diatas permukaan laut. Salah satunya adalah tanaman pemakan serangga. Walaupun pemakan serangga, tetapi rasanya jika ada hewan kecil yang terjebak di situ tetap bisa mati.
Tanaman karnivora (yang ini dari lego). Kiri atas: venus fly-catcher. Kanan atas: Pitcher plants
Bawah: Raflesia arnoldi atau bunga bangkai
Kami melanjutkan perjalanan kami menuju Cloud Walk. Ini adalah lintasan elips yang paling atas. Awalnya saya kira akan ada lintasan yang membuat kita merasa seperti jalan di awan. Ternyata hanya lintasan besi. Di sini kita diajak untuk turun ke lantai 6 dengan berjalan mengelilingi gunung di dalam Cloud Forest. Hm....mungkin karena berjalan mengelilingi puncak gunung ini, kami seperti berjalan di awan. Buat orang yang takut ketinggian, tempat ini tidak direkomendasikan. Tetapi jika tidak ada fobia terhadap ketinggian, tempat ini sangat indah. Selain dapat melihat tanaman epifit (tanaman yang tumbuh menumpang pada pohon lain) yang ada di sekitar gunung, pemandangan di sekeliling tempat ini sangat bagus. Tapi buntutnya adalah Duo Lynns jadi ingin mengunjungi tempat-tempat tersebut.
View dari Cloud Walk. 
Akhir dari Cloud Walk ini adalah The Cavern di lantai 6. Di sini kami seperti berjalan di dalam gua terbuka dan ada banyak informasi mengenai Cloud Forest di seluruh dunia. Jalanan di sini juga menurun. Jadi tanpa disadari kami sudah turun ke lantai 5. Berhubung oma dan opa sudah berjalan memasuki Waterfall View, kami pun tidak meluangkan banyak waktu di sini. Nampaknya selain Cloud Walk, Waterfall View yang berada di lantai 5 ini merupakan salah satu bagian favorit dari Cloud Forest. Banyak orang, termasuk kami, yang menikmati memandang air terjun dari dekat. Tentunya ada sedikit cipratan air yang akan mengenai kita saat di Waterfall View.
View from Waterfall View
Kami pun berjalan menuju eskalator untuk turun ke Crystal Mountain. Di lantai 4 ini banyak sekali stalaktit dan stalagmit, seakan-akan kita berada di dalam gua kapur. Di dalam gua, air sering sekali menetes dan membentuk banyak kejadian alam yang luar biasa. Salah satunya adalah stalaktit dan stalagmit. Stalaktit adalah sejenis mineral sekunder yang menggantung di langit-langit gua. Sedangkan stalagmit adalah batuan yang terbentuk di lantai gua, yang terbentuk dari tetesan-tetesan air di langit-langit gua diatasnya.
Stalaktit dan stalagmit (kanan atas)
Udara yang dingin ini membuat perut kami menjadi sedikit bergejolak. Kami pun segera melanjutkan perjalanan secepat mungkin menuju Tree Top Walk. Ini adalah lintasan elips kedua, yang berada agak ke bawah gunung. Di lintasan ini kita mendapatkan kesempatan untuk mendekati kanopi hutan dan melihat pemandangan puncak pohon. Ternyata tidak perlu menjadi monyet untuk dapat melihat ujung dari suatu pohon. Eh...
Beberapa tanaman yang ada di Cloud Forest
Perjalanan kami memasuki suatu galeri. Di sini tidak ada tanaman yang dapat kami lihat, tetapi ada banyak data yang dapat dilihat. Termasuk tentang keadaan Bumi dan apa peran GBTB dalam menjaga lingkungan sekitar. Di sini juga ada +5 Degrees, simulasi apa yang akan terjadi di Bumi ini jika suhu naik 5 derajat celcius.

Perjalanan kami berakhir di bagian terakhir, Secret Garden. Apakah isinya sesuatu yang rahasia? Tidak juga sih. Hanya saja beberapa tanaman disini merupakan tanaman yang kini semakin langka. Di sini diperkenalkan juga Fossil Forrest dan juga tanaman prasejarah, seperti pakis prasejarah, begonia, dan sebagainya. Yang paling unik di sini adalah ukiran-ukiran kayu yang dibuat menyerupai binatang-binatang. Di akhir dari taman ini adalah pintu keluar dari Cloud Forest.
Ada kaca pembesarnya loh....
Kiri atas: Ukiran mulut singa yang besar. Kiri bawah: buaya
Kanan: capung raksasa
Petualangan kami di hutan ini sudah selesai. Sebetulnya ada banyak hal yang dapat dilihat di Gardens by The Bay, seperti skyway, supertree grove, dragonfly and kingfisher lake, children's garden, dan sebagainya. Karena kami sudah pernah mengunjunginya dan karena GBTB sangat penuh, kami datang saat hari libur nasional, maka kami memutuskan untuk pindah ke tempat lain untuk makan siang. Mungkin lain kali kalau kami dapat pergi saat malam hari akan lebih seru, seperti memasuki hutan di malam hari.
Atas: suvenir yang dapat dibeli.
Bawah: Soft ice cream Mc Donalds, cocok dengan udara yang panas
Super Tree yang juga dapat dikunjungi saat di GBTB
Gardens by The Bay
Alamat: 18 Marina Gardens Drive, Singapore
Jam operasional:
Bay south outdoor gardens
Setiap hari: 05.00 - 02.00

Flower Dome, Cloud Forest, OCBC Skyway 
Setiap Hari: 09.00 - 21.00 (penjualan tiket terakhir pada 20.00)

Far East Organization Children's Garden 
Selasa - Jumat: 10.00 - 19.00 (masuk terakhir 18.30)*
Akhir Pekan dan Hari libur: 09.00 - 21.00 (masuk terakhir pukul 20.30)
*Akan tutup di hari Selasa jika hari Senin sebelumnya merupakan hari libur nasional
Peta Cloud Forest. Sumber foto: www.gardensbythebay.com.sg

Note: untuk mengetahui cerita perjalanan kami saat liburan di Singapore, silakan klik link berikut ini.

Tuesday, August 1, 2017

Menikmati Tulipmania 2017 Gardens by The Bay

Tulipmania 2017
Waktu saya kecil, biasanya anak kecil akan menggambar gunung dengan matahari dan sawah saat disuruh menggambar bebas. Tetapi saya selalu dengan senang hati menggambar bunga. Hal ini ternyata menurun juga kepada Duo Lynns. Mereka paling suka menggambar bunga. Salah satu bunga yang mereka sukai adalah tulip. Tetapi mereka belum pernah melihat tulip secara langsung. Habis jauh sih ke Belanda =D

Di saat liburan kami kemarin, di Gardens by The Bay sedang ada pameran tulip. Tentu saja bukan cuma anak-anak yang akan senang jika melihat tulip, oma opa juga pasti senang. Dan betul saja, saat kami bertanya kepada oma opa, mereka pun bersemangat untuk melihatnya. Kalau kata oma, daripada harus jauh-jauh ke Belanda, kita lihat saja tulip di Singapore. Kami pun mulai mencari informasi lebih mengenai pameran tulip yang akan diadakan di Gardens by The Bay ini.

Siapa sih yang tidak pernah mendengar nama Gardens by The Bay (GBTB)? Rasanya semua orang tahu. Bahkan tempat ini termasuk salah satu tempat yang biasanya tidak pernah dilewatkan saat berwisata ke Singapore. Selain banyak yang gratisnya, siapa yang tidak tertarik dengan tempat gratis di luar negeri, tanaman di dalam tempat ini sangat bagus sehingga sayang untuk dilewatkan. Apalagi dengan adanya Children's Garden by Far East Organization, GBTB menjadi salah satu tempat wisata bagi keluarga yang membawa keluarga. Walaupun demikian, ada beberapa tempat yang memerlukan tiket masuk, alias tidak gratis, seperti Flower Dome, Cloud Forest, dan OCBC Skyway.
Flower dome
Dulu kami sempat mengunjungi GBTB saat tahun 2013. Saat itu kami hanya berkeliling taman, main di playground, duduk di depan Supertree. Intinya yang gratisan semua. Tetapi kali ini pameran tulip akan diadakan di Flower Dome. Untuk masuk ke dalam Flower Dome, kita harus membeli tiket masuk. Berbeda dengan warga setempat yang dapat memilih masuk ke Flower Dome atau Cloud Forest, untuk turis pembelian tiket mencakup dua tempat itu. Kami mencoba membeli tiket secara online, supaya tidak usah antri untuk beli tiket. Seperti biasa, kami membeli dari klook.com. Harga tiketnya cukup murah jika dibandingkan harga pesawat ke Belanda.
Ada kuda, rusa, dan trenggiling?
Kami sengaja memilih untuk mengunjungi taman ini di pagi hari. Supaya tidak terlalu ramai. Kali ini tante Duo Lynns sedang libur sehingga dapat menemani kami untuk melihat tulip. Saat kami datang, antrian untuk membeli tiket sudah cukup panjang. Bersyukur kami sudah membeli secara online. Kami segera masuk ke dalam Flower Dome. Suhu di dalam tempat ini cukup dingin. Maklum, tulip mulai tumbuh saat awal musim semi, otomatis untuk menjaga tulip ini tetap bagus, suhunya harus dibuat seperti suhu peralihan antara musim dingin ke musim semi.
Suasana di pagi hari
Tema pameran tulip kali ini adalah Tulipmania Inspired. Berdasarkan hasil riset, tulip sangat disukai orang-orang. Bahkan termasuk bunga ketiga yang sangat populer, setelah mawar dan krisantemum. Karena orang begitu suka dengan tulip, pada tahun 1634 dan 1637 muncul fenomena Tulip mania, yaitu saat permintaan terhadap umbi bunga tulip begitu tinggi tetapi tidak diimbangi dengan pasokan yang cukup.
Favorit kakak, warna pink
Banyak orang, termasuk saya, menganggap tulip berasal dari Belanda. Ternyata tulip berasal dari Asia Tengah, tumbuh liar di kawasan pegunungan Pamir dan pegunungan Hindu Kush dan Kazakhstan. Setelah itu tulip dibawa ke Turki dan bahkan menjadi bunga nasional Turki. Pada tahun 1500an, tulip mulai dibawa ke Eropa. Dan karena tumbuhnya di kawasan pegunungan, otomatis hawa sejuk yang ada di Eropa membuat Tulip tumbuh dengan banyak di Eropa, khususnya Belanda yang terkenal sebagai negeri bunga Tulip.
Foto dulu ah sebelum semakin ramai
Tulip atau Tulipa merupakan nama genus untuk 100 spesies tumbuhan berbunga yang termasuk ke dalam keluarga Liliaceae. Tulip merupakan tumbuhan tahunan berumbi yang tingginya antaran 10 - 70 cm, daunnya berlilin, berbentuk sempit memanjang berwarna hijau nuansa kebiru-biruan, dan bunganya berukuran besar yang terdiri dari 6 helai daun mahkota.
Atas: Taman penuh dengan tulip
Bawah: karya seni yang ada di GBTB
Beberapa fakta yang baru kami ketahui saat kami mengunjungi pameran Tulip ini:
1. Tulip berasal dari bahasa Persia 'turban', dulbend, yang berarti sorban. Hal ini disebabkan karena bunga tulip berlapis-lapis seperti sorban.
Tulipa
2. Tahun 1594 merupakan tahun resmi tulip bertumbuh di Belanda. Carolus Clusius, seorang dokter dan juga botanis, membawa umbi tulip dari Vienna dan melakukan riset di Hortus Botanicus.
Yang ini putih bercampur orange
3. Berdasarkan daun mahkotanya, ada tulip yang walau sedang mekar daun mahkotanya terlihat menguncup, ada juga yang saat mekar daun mahkotanya terbuka lebar, ada yang daun mahkotanya melengkung, dan ada yang meruncing.
Daun mahkota yang terbuka dan yang menguncup
4. Berdasarkan lapisan daun mahkotanya, tulip terbagi menjadi single (atau satu lapis) dan double (berlapis).
Daun mahkota yang single dan double
5. Berdasarkan waktu berbunganya, tulip terbagi menjadi 3 kelompok besar, yaitu berbunga awal (single early, double early, kaufmaniana, fosteriana), berbunga agak lambat atau mid-season (triumph, darwin hybrid, greigii), dan berbunga terlambat (single late, double late, lily-flowered tulip, fringed group, viridiflora, rembrandt, dan parrot).

5. Tulip mempunyai warna yang bermacam-macam. Tetapi sebetulnya tulip tidak ada yang berwarna biru. Bahkan tulip hitam pun tidak sepenuhnya hitam pekat, tetapi seringkali perpaduan merah atau ungu yang pekat.
Colorful tulip
6. Umbi tulip menghasilkan satu atau dua anak umbi setiap tahunnya. Anak umbi yang besar biasanya digunakan atau dijual untuk produksi bunga, sedangkan yang lebih kecil akan ditanam kembali saat musim gugur. Selain itu, tulip juga dapat dikembangkan dari benih, tetapi membutuhkan waktu lebih dari 3 tahun untuk berbunga.
A boat of flower
Untung ada mas-mas koko yang siap membantu pengunjung berfoto
7. Tulip dapat dimakan, baik secara lalapan langsung ataupun dimasak dulu. Daun mahkota tulip warna merah muda, peach, dan putih rasanya manis. Sedangkan daun mahkota tulip warna merah dan kuning lebih gurih.
Warna kuning yang gurih kesukaan adik
Ternyata bukan hanya menampilkan bunga tulip yang beraneka ragam, GBTB juga mengambil tema karya lukisan Vincent van GoghVincent van Gogh adalah pelukis pasca- impresionisme ternama dari Belanda. Sayangnya kisah hidupnya cukup menyedihkan. Di akhir hidupnya, van Gogh merasa ia gila dan menghabiskan sisa hidupnya di RS Jiwa Saint-Paul-de-Mausole di Saint Remy de Provence Perancis. Justru saat ia di sini, karya-karya ternamanya mulai bermunculan, salah satunya The Starry Night. GBTB merangkai bunga-bunga tulip membentuk lukisan karya van Gogh. Luar biasa bukan?
The Starry Night
Self-Protrait with Straw Hat
Pameran tulip ini rasanya diadakan tiap tahun, antara April sampai dengan Mei. Jika ada yang kepingin lihat tulip, rajin-rajin saja mencari infonya sekitar bulan Maret. Apakah di dalam Flower Dome hanya ada bunga tulip saja? Tidak loh. Masih banyak bunga-bunga lainnya yang menarik untuk dilihat. Setelah puas menikmati bunga-bunga yang ada di Flower Dome, kami pun melanjutkan kunjungan kami ke Cloud Forest.
Hyacinths, salah satu keluarga Asparagaceae
Bunga lainnya
Tulipmania Floral Display
www.gardensbythebay.com.sg
Tanggal pameran: 1 April - 7 May 2017
Jam buka: 09.00 - 21.00
Location: Flower Dome, Gardens by The Bay
Cara menuju ke GBTB: MRT stasiun Bayfront exit B
Denah Flower Dome
Note: untuk mengetahui cerita perjalanan kami saat liburan di Singapore , silakan klik link berikut ini.