Thursday, May 7, 2026

Seoul Day 6: Menyusuri Jejak Masa Lalu di Palace Museum, Tongin Market, Folk Museum dan Children Folk Museum (Part 2)

Puas makan dan berkeliling di Tongin Market, kami lanjut ke Folk Museum. Folk Museum ini berada di satu kawasan dengan Gyeongbokgung, tepatnya di sebelah timur. Karena mendung dan sudah mau hujan, kami memilih untuk naik bus yang berhenti di depan pintu masuk ke Folk Museum. Dan memang tepat saat kami masuk ke dalam bus, hujan turun dengan derasnya.

Di dalam Folk Museum ini terdapat Children’s Folk Museum. Untuk masuk ke dalam Children’s Folk Museum, maka kami harus mendaftar dulu. Karena slot kami masih 1,5 jam lagi, maka kami pun berkeliling melihat Folk Museum terlebih dahulu, melanjutkan yang belum selesai kami lihat di kunjungan kami sebelumnya. 

Sisi luar musium.

National Folk Museum of Korea adalah museum yang berisi tentang cara hidup masyarakat Korea dari masa prasejarah hingga akhir Dinasti Joseon. Berbeda dengan Palace Museum yang fokus dengan cara hidup keluarga kerajaan, Folk Museum lebih fokus pada kehidupan sehari-hari masyarakat biasa pada umumnya. 

Di musium ini ada tiga ruang pameran utama. Yang pertama adalah Sejarah orang Korea. Yang kedua adalah gaya hidup pertanian di masa lampau. Dan yang ketiga adalah siklus hidup yang dimulai dari kelahiran, pernikahan, dan diakhiri dengan kematian. 

Fase hidup manusia, dari lahir sampai meninggal.
Rice cake untuk merayakan 100 hari usia anak kecil

Selain pameran yang selalu ada, Folk Museum juga mempunyai pameran tematik. Saat kami datang ada pameran The Snake with a Thousand Faces. Pameran ini dilandasi dengan lunar year saat itu adalah tahun ular. Dari pameran ini, kami baru tahu bahwa ular di kebudayaan Korea juga merupakan symbol dari sosok dewa pelindung dan bahkan kesuburan dan umur panjang.

Kalung dari tulang ular.
Ular apakah ini?

Yang terasa berbeda bagi kami adalah musium ini menjadi lebih interaktif dibanding saat kami datang 7 tahun yang lalu. Semua dirancang supaya setiap individu dapat menikmati musium tanpa perlu orang lain (akibat pandemi).


Demikian juga dengan Children’s Folk Museum. Apa yang kami lihat dulu hampir semuanya tidak ada. Saat kami datang, tema utama yang diangkat didasarkan pada dongeng tradisional Korea yang sangat popular, yaitu dongeng “Haenim Dalnim” atau The Sun and the Moon

Dongeng ini mengisahkan asal usul munculnya matahari dan bulan melalui perjuangan dua saudara melawan harimau. Kisahnya agak mirip Little Red Riding Hood, tetapi serigala disini adalah harimau dan nenek di sini adalah ibu dua bersaudara ini. Si harimau memakan sang ibu yang sedang pulang dari ladang dan menyamar dengan menggunakan pakaian sang ibu. Tujuannya adalah menipu anak dari ibu ini.

Playground daytime
Anak-anak mewarnai gambar dan memasukkan ke dalam suatu alat, lalu gambar mereka muncul di screen.
Hasilnya

Sang kakak, Haesik (kakak laki-laki) dan adik, Dalsun (adik Perempuan) awalnya tidak menyadari. Saat mereka sadar akan penyamaran harimau, kakak beradik ini segera melarikan diri dan memanjat sebuah pohon besar di dekat sumur untuk bersembunyi. 

Si harimau pun akhirnya hampir berhasil menangkap kakak adik ini. Di tengah keputusasaan, kedua anak ini berdoa meminta Tuhan menurunkan tali dari langit. Surga pun menjawab doa mereka dan menurunkan tali emas sehingga mereka bisa naik ke surga. 

Si harimau tidak mau kalah dan ikut mengambil tali yang ternyata membuat dia terjatuh dari ketinggian ke ladang sorgum dan mati. Nah, di surga sang adik yang takut kegelapan malam meminta bertukar peran dengan si kakak. Ia menjadi matahari (haenim) dan sang kakak menjadi bulan (dalnim).

Lucunya cerita ini dikemas dengan interaktif. Ada dua bagian, daytime dan nightimeAnak-anak diajak memahami cerita lewat playground. Ada juga rumah hanok yang membawa mereka ke masa lalu.

Another slide to go
Nightime playground. Lebih sunyi dibanding daytime playground.

Di bagian luar juga ada outdoor exhibition dan Streets of Memories. Sayangnya karena hujan, kami memutuskan untuk tidak ke bagian ini. Rasanya sih isinya sama dengan 7 tahun lalu. Kami langsung kembali ke Myeongdong untuk early dinner. 

Trio Lynns di tengah hujan.

Sesuai dengan rencana, kami memilih untuk makan di Yoogane. Dingin-dingin makan yoogane, pasti enak sekali. Sayangnya beberapa Yoogane mewajibkan setiap orang memesan satu menu, termasuk anak-anak. Kami memilih untuk makan di branch pertama karena mereka mengizinkan kami untuk tidak memesan satu menu per orang.

Free banchan.
Tteok soup dan dakgalbi fried rice

Selesai sudah aktivitas kami di hari Minggu ini. Kami pun berpencar. Papa, adik, dan si kecil kembali ke hotel sementara saya dan si kakak ke Photoism yang ada di Skypark Hotel. 


Note: Untuk video lengkap Spring Holiday kami di Seoul, bisa dilihat di 3 link berikut (part 1, part 2, dan part 3)

Next:  Seoul Day 7: Menghabiskan Pagi di Myeongdong Cathedral dan Yeouido Hangang Park

Before: Seoul Day 6: Menyusuri Jejak Masa Lalu di Palace Museum, Tongin Market, Folk Museum dan Children Folk Museum (part 1)

 

Sekilas Info

National Palace Museum of Korea

Website: https://www.gogung.go.kr/gogungEn/main/main.do

Alamat: 12 Hyoja-ro, Jongno-gu, Seoul (di samping gerbang Heungnyemun, Istana Gyeongbokgung) 

Jam Operasional: 09.30 – 17.30 (Senin – Jumat, Minggu), 09.30 – 21.00 (Sabtu dan hari Rabu terakhir)

Cara menuju ke sana: Stasiun Gyeongbokgung (line 3) exit 5

 

Tongin Market

Website:

Alamat: 18 Jahamun-ro 15-gil, Jongno-gu, Seoul 

Jam Operasional Pasar: 07.00 – 21.00 (tutup setiap hari Senin dan hari Minggu ketiga)

Jam Operasional Dosirak Café: 11.00 – 15.00 (Senin – Jumat), 11.00 – 16.00 (Sabtu – Minggu)

Cara menuju ke sana: Stasiun Gyeongbokgung (Line 3) exit 2, berjalan 10 menit ke utara.

 

National Folk Museum

Website: http://www.nfm.go.kr/english/index.do

Jam operasional: 09.00 - 18.00 (kecuali winter hanya sampai jam 17.00), tutup setiap Selasa

Harga Tiket Masuk: Gratis

 

Children Folk Museum

Website: http://www.kidsnfm.go.kr/nfmkid/index.do

Jam operasional: 09.00 - 18.00 (kecuali winter hanya sampai jam 17.00), tutup setiap Selasa

Harga Tiket Masuk: Gratis

Tuesday, May 5, 2026

Seoul Day 6: Menyusuri Jejak Masa Lalu di Palace Museum, Tongin Market, Folk Museum dan Children Folk Museum (Part 1)


Hari keenam kami di Seoul jatuh di hari Minggu. Kalau dulu kami mengejar untuk ibadah di gereja lokal yang ada English Service. Namun untuk kali ini, setelah dilihat jamnya, rasanya agak susah untuk mengatur jadwal kami. Bersyukurnya kali ini karena adanya ibadah online dari gereja kami, maka kami memilih beribadah secara online.

Di dalam Stasiun Gyeongbokgung
Serba digital yang dulu belum ada.

Jadwal kami hari ini adalah menyusuri jejak masa lalu. Diawali dari kunjungan kami ke Palace Museum. Palace Museum ini terletak di area Gyeongbokgung. Berhubung kami juga sudah pernah masuk ke Gyeongbokgung, maka kami pun hanya mengunjungi musium. Walaupun demikian, untuk mengunjungi musium ini kita tidak perlu untuk membeli tiket masuk Gyeongbokgung.

Perpaduan modern dan masa lalu.
Palace Museum

Palace Museum ini baru berlokasi di Gyeongbokgung di tahun 2005. Musium yang didirikan di bulan September tahun 1908 ini awalnya dikenal sebagai Korean Imperial Museum. Dalam perkembangannya, musium ini sudah berpindah Lokasi sebanyak tiga kali, yaitu Changgyeonggung, Deoksugung, dan terakhir di Gyeongbokgung. 

Denah tiap lantai

Di dalam Palace Museum ini ada lebih dari 40.000 artefak dari dinasti Joseon dan kekaisaran Korea. Di musium yang terdiri dari tiga lantai ini kita dapat melihat kehidupan kerajaan, ilmu pengetahuan dan budaya yang sudah ada di masa itu, bahkan kita dapat melihat mobil yang dimiliki oleh Kaisar Sunjong dan Permaisuri Sunjeonghyo.

Kami baru tahu kalau Kaisar juga punya mobil, bukan kereta kuda.
The throne

Awalnya kami berpikir isi dari tempat ini hanyalah artefak-artefak. Tetapi kami cukup kaget saat masuk dan menemukan musium ini juga modern. Ada robot dan bahkan tampilan interaktif yang menarik untuk dimainkan. Bagi yang ingin mendengarkan penjelasan secara audio pun bisa, asal bawa earphone dan scan QR Code di sana. Rasanya langsung berharap musium di Indonesia bisa secanggih ini.

Bermain dengan robot.
Layar interaktif lainnya.

Kunjungan yang kami kira hanya akan sebentar ternyata menjadi lama. Apalagi anak-anak sibuk mengumpulkan stempel dari setiap bagian. Karena sudah semakin siang, maka kami pun berjalan ke arah utara.

Tujuan kami berikutnya adalah Tongin Market atau Pasar Tongin. Pasar ini didirikan di tahun 1941, sebagai pasar umum yang didirikan untuk penduduk Jepang (saat Korea masih dibawah penjajahan Jepang) di dekat lingkungan Hyojadong. Namun setelah Korea tidak lagi dijajah Jepang, Tongin Market digunakan oleh para pedagang kaki lima dan toko-toko di daerah tersebut sebagai tempat jualan mereka. Dengan kurang lebih 75 toko yang ada, barang-barang yang dijual pun beraneka ragam, dari makanan, toko kelontong, dan juga pakaian. 


Yang menarik dari pasar ini adalah Dosirak Cafe. Dosirak berarti bekal makan siang atau bento . Jadi kafe ini memang dibuka di jam makan siang. Yang membuat Dosirak Cafe ini menarik adalah pembelian makanan harus dengan menggunakan koin jaman baheula sehingga kami seakan menjadi pembeli di zaman kerajaan masih berjaya.

Petunjuk yang jelas untuk menuju Dosirak Cafe.

Bagaimana cara membeli makanan di sini? Pertama, kami harus membeli koin di Dosirak Cafe di lantai 2. Setiap orang wajib membeli 10.000 KRW per orang. Saat membeli, kami mendapatkan 1 set lunch box dan 20 koin kuno per 10.000 KRW. Kami juga mengambil sendok di sini. Setelah itu kami bebas membeli makanan di outlet-outlet yang menerima koin untuk alat pembayaran yang berada di lantai 1. 

Koin kami

Untuk area makan, kami memilih untuk kembali ke cafe dan naik ke lantai 3. Tetapi bisa juga kalau malas naik, makan saja sambil berdiri di bawah. Bagi yang mau nasi, juga dapat membeli di lantai 2. Nasi dan cup noodle dijual dengan harga 1000 KRW per item. Atau bagi yang mau menghangatkan makanan, disediakan microwave juga di situ.


Bagaimana jika ada sisa koin? Tenang saja, dapat ditukarkan kembali. Satu koin setara dengan 500 KRW. Saat kami ke sana, tidak ada minimal pembelanjaan untuk menukarkan sisa koinnya. Tetapi sekarang, koin bisa ditukarkan jika pembelanjaan minimal 8.000 KRW.

Kembali ke lantai 2 untuk menukarkan koin.

Lanjut ke Part 2 ya....

Note: Untuk video lengkap Spring Holiday kami di Seoul, bisa dilihat di 3 link berikut (part 1, part 2, dan part 3)

Next:  Seoul Day 6: Menyusuri Jejak Masa Lalu di Palace Museum, Tongin Market, Folk Museum dan Children Folk Museum (Part 2)

Before: Seoul Day 5: Weekend Kami di N Seoul Tower, HIKR, Insadong, Ikseondong, dan DDP

 

Sekilas Info

National Palace Museum of Korea

Website: https://www.gogung.go.kr/gogungEn/main/main.do

Alamat: 12 Hyoja-ro, Jongno-gu, Seoul (di samping gerbang Heungnyemun, Istana Gyeongbokgung) 

Jam Operasional: 09.30 – 17.30 (Senin – Jumat, Minggu), 09.30 – 21.00 (Sabtu dan hari Rabu terakhir)

Cara menuju ke sana: Stasiun Gyeongbokgung (line 3) exit 5

 

Tongin Market

Website:

Alamat: 18 Jahamun-ro 15-gil, Jongno-gu, Seoul 

Jam Operasional Pasar: 07.00 – 21.00 (tutup setiap hari Senin dan hari Minggu ketiga)

Jam Operasional Dosirak Café: 11.00 – 15.00 (Senin – Jumat), 11.00 – 16.00 (Sabtu – Minggu)

Cara menuju ke sana: Stasiun Gyeongbokgung (Line 3) exit 2, berjalan 10 menit ke utara.

 

National Folk Museum

Website: http://www.nfm.go.kr/english/index.do

Jam operasional: 09.00 - 18.00 (kecuali winter hanya sampai jam 17.00), tutup setiap Selasa

Harga Tiket Masuk: Gratis

 

Children Folk Museum

Website: http://www.kidsnfm.go.kr/nfmkid/index.do

Jam operasional: 09.00 - 18.00 (kecuali winter hanya sampai jam 17.00), tutup setiap Selasa

Harga Tiket Masuk: Gratis